Menu
SAJIAN ISI

Bulog Impor 1.500 Ton Bibit Bawang Merah

Bulog Impor 1.500 Ton Bibit Bawang Merah

Untuk memenuhi kebutuhan bibit bawang merah yang dianggap tidak mencukupi dan harganya relatif tinggi, Bulog mengimpor 1.500 ton bibit bawang merah yang terdiri atas 1.000 ton dari Vietnam dan 500 ton dari Filipina. Impor ini juga untuk menekan harga bawang merah untuk konsumen saat panen raya Oktober mendatang.

Saat ini dari total 1.500 ton bibit bawang merah yang diimpor, sudah 900 ton yang telah masuk ke Indonesia. Impor bibit itu sebenarnya sudah dimulai dari awal bulan Juni lalu hingga bulan Oktober 2016. Pendistribusiannya juga sudah dilakukan ke sejumlah sentra penghasil bawang merah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dan Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Dari 900 ton tersebut, Bulog yang ditugasi untuk menyediakan bibit bawang yang bermutu dan terjangkau untuk petani ini mendatangkan 700 ton bibit bawang merah dari Vietnam dan 200 ton dari Filipina.

Oleh karenanya, pertengahan bulan lalu bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Bulog bersama Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Brebes menggelar operasi pasar (OP) guna menyalurkan bibit tersebut.

Dalam OP kali ini, sebanyak 25 ton bibit bawang merah yang berasal dari Vietnam dijual kepada para petani di Kecamatan Wanasari, Brebes, dengan harga Rp 30.000 per kg.
Lebih murah sekitar Rp15.000 dari harga pasaran bibit lokal yang mencapai kisaran Rp45.000- 50.000.  

Bulog beranggapan saat panen nanti harga tidak akan terlalu melambung karena harga bibit sudah tidak terlalu mahal. “Harga bibit bawang di pasaran saat ini sekitar Rp 45.000 per kilogram. Mudah-mudahan dengan menjualnya Rp 30.000 per kilogram petani akan terbantu sehingga hasil panen mereka nantinya bisa dijual dengan  harga yang  tidak terlalu tinggi,” ungkap Ermin Tora, Kepala Divisi Penjualan Langsung Perum Bulog.

Untuk meminimalisir pihak-pihak tertentu yang berniat mengeruk keuntungan dari OP ini, Bulog pun membatasi kapasitas pembelian bibit bawang merah ini, maksimal 1 ton saja per petani. “Jadi ‎satu petani kita batasi pembeliannya, maksimal 1 ton. Kalau lebih dari itu tidak kita berikan karena dikhawatirkan akan diborong oleh beberapa gelintir petani saja, dan kemudian dijual kembali,” tegas Ermin.

Meski didatangkan dari luar, para petani dan para konsumen diminta tidak perlu khawatir akan produksi bibit asal luar negeri itu. Pasalnya, kata Ermin, bibit impor asal Vietnam tersebut hasilnya sama dengan bibit lokal Brebes karena sebelumnya bibit ini memang pernah ditanam oleh para petani.
Bahkan, Bulog juga menyatakan kesiapannya untuk menampung hasil panen para petani sehingga saat panen raya di kemudian hari harga bawang merah tidak anjlok dan para petani tetap bisa mendapatkan keuntungan.

Sebelumnya untuk di daerah Brebes sendiri, bibit bawang merah ini sudah terjual sebanyak 200 ton. Untuk itu diharapkan animo petani akan menanam bawang merah ini dapat semakin meningkat sehingga produksi juga akan terus bertambah. ”Kami harap petani bisa lebih bergairah dalam menanam, sehingga produksinya bisa lebih meningkat. Dari upaya ini kita juga harapkan ada peningkatan produksi”, tandas Erwin.

Penyebab Impor
Kejadian ini memang cukup disayangkan oleh berbagai pihak. Indonesia yang memiliki cukup banyak daerah sentra penghasil bawang merah tidak dapat memenuhi kebutuhan bibitnya sendiri sehingga harus mengimpor bibit dari negara lain.

Terkait penyebab impor bibit bawang merah ini, Direktur Benih Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Sri Wijayanti Yusuf menjelaskan, "Harga bawang konsumsi yang tinggi memicu petani tergiur menjual semua bawangnya. Padahal biasanya mereka membuat stok untuk benih sendiri. Karena harga bagus maka bawang mereka dijual semua. Sekarang bingung pas mau tanam."

Selain itu, mahalnya harga bibit lokal juga tidak ditampik sebagai pendukung dilakukannya impor. "Harga bibit bawang yang mahal larinya ke bawang ke konsumsi. Harganya jadi ikut mahal. Nanti bisa bertambah mahal kalau harga bibitnya naik lagi. Jadi seperti lingkaran setan. Makanya ini harus diputus dulu. Salah satunya dengan impor,” ungkap Sri.

Walaupun menurutnya angka 1 persen dinilai tidak tinggi atau sebanyak 1.500 ton dari total kebutuhan bibit yang mencapai 150.000 ton, diharapkan dengan bibit murah seharga Rp 30.000 per kg ini nantinya saat panen maka harga bawang merah di tingkat petani bisa mencapai Rp15.000 per kg sehingga harga di tingkat konsumen juga dapat beranjak turun.

Sudah selayaknya memang jika harga bibitnya saja sudah mahal, maka harga bawang merah di tingkat konsumen pun pasti akan melonjak. Oleh karenanya, dalam upaya stabilisasi harga bibit ini, Sri pun optimis melalui bibit impor yang cukup murah ini nantinya harga bawang merah  yang sampai di tingkat konsumen pada saat panen raya bulan Oktober dan selanjutnya bisa menjadi lebih murah.

Upaya lain yang juga ke depan akan dikembangkan oleh pemerintah yakni penggunaan benih bawang merah yang berasal dari biji. Sehingga yang awalnya dari umbi akan berubah menggunakan biji. Melalui pergantian ini nantinya dinilai dapat melepaskan kepentingan antara bawang merah konsumsi dan yang digunakan untuk benih.

True Seed Shallot (TSS) inilah, lanjut Sri, merupakan program yang sedang disiapkan oleh pemerintah. Uji coba yang telah dilakukan di Grobogan, Jawa Tengah menunjukkan hasil panen yang baik. Untuk itu dalam upaya pengembangannya, pemerintah juga akan mengajak perusahaan benih swasta untuk juga dapat mengembangkan benih berbentuk biji ini. **HB

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id