Menu
SAJIAN ISI

Apel Impor Lebih Disukai Konsumen Ketimbang Lokal

Apel Impor Lebih Disukai Konsumen Ketimbang Lokal Apel Impor Lebih Disukai Konsumen Ketimbang Lokal

Konsumen di Indonesia saat ini lebih menyukai apel impor asal Amerika maupun Selandia Baru.  Kondisi ini antara lain akibat bergesernya selera konsumen seiring dengan meningkatnya kesejahteraan mereka terutama kelas menengah. Pertumbuhan impor buah-buahan khususnya Apel AS dari tahun ke tahun terus meningkat, salah satu penyebabnya karena harga buah impor yang bersaing. Harga yang bersaing ini dipicu dari biaya distribusi yang jauh lebih menguntungkan. Misalnya saja untuk biaya distribusi buah Apel Malang ke Jakarta memakan biaya yang lebih mahal jika dibandingkan pengiriman Apel Fuji dari Cina ke Jakarta.

Menurut Deputi bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi Lumaksono, kondisi infrastruktur yang kurang memadai menyebakan harga buah lokal dari daerah ke Jakarta tidak bisa bersaing. “Salah satu faktornya yaitu infrastruktur, kalau kirim apel dari Malang biayanya lebih mahal dibanding kirim Apel Fuji dari Cina,” ungkap Adi saat berdiskusi dengan media di Hotel Swiss-Bel, Jakarta, medio Agustus 2014 lalu.

Keterbatasan pasokan yang rutin pun menjadi faktor pendukung tergesernya produk lokal oleh produk impor dari negara-negara lain. Adi menjelaskan, saat ini kebutuhan masyarakat sudah semakin tinggi terhadap produk buah-buahan antara lain golongan kelas menengah atas yang juga melonjak dari waktu ke waktu. “Karena ada permintaan konsumen dari waktu ke waktu yang semakin meningkat, dan middle class semakin memahami barang yang bagus. Oleh sebab itu diperlukan terobosan-terobosan baru guna mengembalikan kejayaan buah lokal,” jelasnya.

Alasan meningkatnya nilai impor juga disebabkan selera tinggi masyarakat Indonesia. Peningkatan impor karena konsumsi dalam negeri, tidak sebatas pada kapasitas penduduk yang  tidak terpenuhi.Tetapi lebih kepada selera. Contohnya, masyarakat Indonesia kini lebih suka buah apel impor asal AS dan Selandia Baru dibandingkan apel asal Malang, Jawa Timur.
“Ketika diizinkan ya dia (pelaku usaha) akan impor seperti dari AS atau Selandia Baru dibandingkan Apel Malang, karena masyarakat Indonesia itu lebih sukai apel Selandia Baru dan Amerika yang mengakibatkan impor naik,” kata Adi.

Salah satu faktor pendukung hal itu adalah meningkatnya daya beli masyarakat. Sehingga timbul sebuah persepsi saat di masyarakat mengkonsumsi produk impor jauh lebih tinggi dibandingkan produk lokal.

Permintaan yang tinggi terhadap buah khususnya impor bukan saja terjadi di pasar modern dan swalayan. Kondisi serupa juga terjadi di tingkat pasar tradisional. Misalnya saja di Pasar Minggu, Jakarta, para pedagang mengaku menjual Apel Fuji lebih cepat laku dibandingkan Apel Malang, walaupun harganya lebih miring.

Menurut keterangan seorang pedagang, umumnya pedagang buah di Pasar Minggu bisa menjual apel impor satu dus dalam sehari. Ini berbeda dengan penjualan Apel Malang yang baru bisa habis sampai 2 hari. “Di sini Apel Fuji bisa habis sedus sehari, kalau Apel Malang 3 sampai 4 hari cuma habis 2 dus,” ungkapnya.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id