Menu
SAJIAN ISI

Sukses dengan Pilot Project Jagung Hibrida di Madura, CORTEVA dan PRISMA Perpanjang MoU

Karawang, Jawa Barat - Setelah sebelumnya sukses dengan pilot project jagung hibrida di Madura, Corteva Agriscience mengumumkan perpanjangan program kerjasama (MoU) budidaya jagung dengan Australia Indonesia Partnership (AIP) for Promoting Rural Incomes Trough Support for Markets in Agriculture (PRISMA) di Karawang, pada Senin (18/03/19). Program ini bertujuan untuk menyediakan akses kepada para petani Indonesia pada benih unggul dan solusi perlindungan tanaman yang berasal dari inventarisasi perusahaan.

Sejak tahun 2016, Corteva Agriscience dan PRISMA telah bekerjasama dengan sekitar 40.000 petani di Madura dan Jawa Timur untuk meningkatkan budidaya jagung melalui penerapan benih hibrida dan praktik pertanian yang lebih baik. Program ini mendorong produktifitas dan meningkatkan panen jagung di wilayah tersebut sebesar 50% yang kini telah berekspansi ke komunitas petani di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Farra Siregar, Managing Director, ASEAN Corteva Agrisciense berharap MoU tersebut dapat memacu perkembangan di sepanjang rantai pasokan serta membangun kosistensi pasar dan menyediakan solusi serta layanan paska-panen, seperti akses pasar, pembiayaan makro dan literasi keuangan, terutama bagi para petani jagung di Madura.

Melalui program tersebut, lebih dari 13.500 petani telah meningkatkan pendapatan rata-rata mereka sebesar 290%. Program ini pun telah memberikan 6000 petani jagung perempuan terhadap akses pendanaan, penambahan akses pasar untuk tanaman mereka dan kesempatan mengikuti pelatihan dalam pemanfaatan teknologi. Melalui perpanjangan program kerjasama ini, Corteva Agriscience menargetkan untuk mengembangkan lebih banyak petani perempuan.

"Corteva Agriscience sangat senang mengumumkan perpanjangan kerjasama kami guna mendukung perkembangan pertanian pedesaan di Indonesia. Dengan berkolaboriasi dengan PRISMA, kami bertujuan menawarkan akses kepada para petani Indonesia dengan rangkaian solusi perlindungan tanaman, serta akses terhdap benih unggul yang terbukti dapat mengoptimalkan hasil dan kualitas panen dan untuk berbagi pengetahuan terkait penerapan serta praktik agronomi yang terkini," kata Farra.

Suwandi Darmawan, Head of Portfolio PRISMA menyebutkan, dengan menjalin kerjasama dengan CORTEVA, ia berharap bisa mereplikasikan pilot project tersebut ke seluruh indonesia. Ke depan, PRISMA juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kerjasama dengan Pemerintah lokal agar akses petani pedesaan terhadap benih hibrida semakin terbuka.

Misalnya saat ini program Pemerintah terkait Jagung adalah subsidi benih hibrida, maka bisa berkerjasama dengan corteva dan PRISMA dalam memaping daerah mana saja yang belum pernah menggunakan bibit hidbrida. "Subsidi bisa diberikan sebagai perkenalan, ketika mereka sudah tahu bahwa ini menguntungkan mereka bisa membeli dan itu menjadi free market untuk benih," katanya.

Sedangkan untuk benih padi hibrida di Indonesia, lanjut Suwandi, penggunaannya masih minim sekali karena pemilihan lokasi yang susah. Jadi pada fase kedua ini, PRISMA bekerjasama dengan CORTEVA akan eksplor lebih jauh bagaimana meningkatkan potensi produktifitas padi dengan bibit hibrida.

Sementara menurut Benny Sugiharto, Head of Seed CORTEVA Agriscience, Indonesia masih punya peluang jika penggunaan benih hibrida ini didorong untuk pencapaian ketahanan pangan. Sebagaimana diketahui saat ini penggunaan padi hibidra di Indonesia baru 1 persen, sedangkan Menteri Pertanian menyebutkan bahwa luas lahan padi 14 juta ha.

Jika 10 persen telah hibridanisasi, lanjut Benny, hal itu bisa menambah panen sebanyak 1,4 juta ton. Sementara petani akan menghasilkan 1-2 ton lebih banyak. Sehingga petani akan mendapat income lebih bagus sekaligus mendukung negara untuk ketahanan pangan.

Sedang sebagai antisipasi cuaca yang ekstrim pihaknya telah mempunyai produk yang bisa membantu petani Indonesia untuk menjaga agar produktifitas tetap tinggi. "untuk benih yang cocok dengan lahan kering contohnya kasus tahun kemarin, kami ada benih jagung P27 yang cocok untuk musim kering. Lalu saat curah hujan sedang tinggi kita juga punya produk B36 dan untuk di pulau Jawa bibit ini cukup cocok dan hasilnya cukup bagus," kata Benny

Perpanjangan program kerjasama ini diharapkan dapat memberikan kesejahteraan lebih baik melalui produk-produk yang mampu meningkatkan produktifitas dan profitabilitas bagi petani-petani jagung dan beras khususnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Kementerian Pertanian Dorong Generasi Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0

SENTUL, JAWA BARAT - Kementerian Pertanian (Kementan) RI siap memasuki revolusi industri 4.0 dalam rangka mendorong modernisasi pertanian dan generasi milenial di sektor pertanian. Berbagai kebijakan yang disiapkan dapat menunjang efisiensi dan produktivitas pertanian sehingga meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani.


"Sektor pertanian sudah memasuki industri 4.0 yang ditandai babak baru antara lain munculnya KATAM, SI MANTAP, Smart farming, smart green house, autonomous tractor, dan smart irrigation, " ujar Prof.Dr.Ir. Dedi Nursyamsi,M.Agr, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian.

Hal ini diungkapkan dalam Bincang Asyik Pertanian kerjasama antara Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) dan Kementerian Pertanian RI bertemakan"Mendorong Modernisasi dan Regenerasi Pertanian di Era Revolusi Industri," di Sentul City, Jawa Barat, Senin (18 Maret 2019).

Hadir pula pembicara lainnya yaitu Dr. Farid Bahar (Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI) dan Dr.Riyanto (Ekonom Universitas Indonesia).

Dedi Nursyamsi menuturkan, perkembangan teknologi sangat luar biasa karena telah memasuki era teknologi 4.0 yang sangat luar biasa dampaknya terhadap produksi barang dan jasa. Apalagi penggunaan internet dan teknologi informasi telah menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari.

Oleh karena itu, Kementerian Pertanian sangat siap memasuki revolusi industri 4.0 melalui berbagai aplikasi serta kebijakan. Berbagai aplikasi teknologi kini telah diperkenalkan untuk membantu usaha tani terutama mempermudah petani.

Sebagai contoh, aplikasi Sipotandi yang menggunakan citra satelit beresolusi tinggi untuk bisa membaca standing crop tanaman padi.


Dedi mencontohkan luas lahan sawah di Jawa Barat lebih dari 1 juta ha. Dari areal itu terlihat luas lahan yang akan panen dan tersebar dimana saja. Begitu juga tanaman padi yang baru tanam atau lahan yang belum ditanami (bera).

Termasuk pula ada aplikasi KATAM (Kalender Tanam). Adanya aplikasi KATAM mudah diketahui waktu tanam, rekomendasi pupuk dan penggunaan varietas. "Rekomendasi bukan hanya tingkat kabupaten melainkan kecamatan sampai desa," ujar Dedi.

Aplikasi lain adalah aplikasi si Mantap yang dimanfaatkan PT Jasindo dalam rangka mem-backup asuransi pertanian. Dedi menjelaskan bahwa aplikasi ini membantu pihak asuransi supaya mendeteksi resiko kekeringan dan banjir, bahkan organisme pengganggu tumbuhan.

"Aplikasi yang disiapkan Kementan  juga memfasilitasi generasi muda supaya terjun ke dunia pertanian," ucap Dedi.

Dr. Farid Bahar menyebutkan kinerja Menteri Pertanian, Amran Sulaiman perlu diapresiasi yang selalu membuat kebijakan pro petani. Saat ada wacana impor, Menteri Amran kerap pasang badan supaya produk impor tidak masuk Indonesia.

"Kasihan petani saat panen, tiba-tiba impor masuk. Akibatnya, harga beli pertanian menjadi jatuh. Tapi yang terjadi, Kementerian Pertanian disalahkan, padahal Kementerian lain yang memutuskan impor," jelas Farid.

Untuk itu, Farid meminta peranan Kementerian Perekonomian lebih diperkuat untuk menghindari polemik seperti impor pangan. Dengan begitu, tidak terjadi tudingan dan ketidaksinkronan antar kementerian terkait.

Riyanto, Ekonom Universitas Indonesia, menuturkan implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian sangat bermanfaat bagi konsumen dan petani untuk mendekatkan distribusi.

"Dalam hal ini, Kementerian Pertanian perlu memfasilitasi industri 4.0 lewat regulasi dan aturan. Alhasil, ada payung hukum bagi pelaku usaha dan generasi milenial," ujar Riyanto.

Riyanto menambahkan apabila tidak masuk industri 4.0 akan terjadi kekurangan pangan untuk mendorong multiplier effect dari sektor hulu sampai hilir pertanian.

Bersama Pentani Milenial, Kementan Angkat Petani Bandung Barat Menuju Petani Mandiri

Lembang - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi membuka Grand Launching Desa Tani Expo Petani Milenial #2019TetapPetaniBerdayaDitanahSendiri yang diselenggarakan oleh Kelompok Tani MACAKAL bekerjasama dengan Dompet Dhuafa di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Bandung Barat Provinsi Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019.

Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi mengapresisi kegiatan launching Desa Tani Expo Petani Milenial tersebut. Menurutnya upaya tersebut merupakan hal baik karena untuk mengangkat petani, baik itu petani dhuafa, penggarap, buruh supaya lebih mandiri dengan pola-pola sinergi seperti ini.

"Saya harapkan pola-pola seperti ini diterapkan di tempat-tempat lain, sehingga jangkauannya bisa lebih luas. Manfaatnya luar biasa, karena yang diproduksipun produk-produk sayuran yang kelas supermarket dan ekspor, Ini sangat baik. Jadi komprehensif, mulai dari pembinaan hulu, kemitraannya, hilir sampai pasar," terang Suwandi di Bandung Barat, Rabu (13/03/3019).

Selain itu, pola sinergi seperti ini juga saya lihat sangat bagus, terbukti dengan banyak pihak yang ingin bermitra dan membangun kerjasama dengan petani. "Saya lihat tadi ada MoU salah satunya dengan Bank BJB dan ini saya harap terus di tingkatkan," imbuh Suwandi.

"Kita aka mensupport penuh dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan, kita akan support," tambah Suwandi.

Terkait dengan lahan pertanian yang tersedia di Bandung Barat menurut Suwandi lahannya subur dan pengelolaannya efisien. Saya berharap tingkatkan pola bertani tumpangsari, ramah lingkuangan dan mengikuti SOP.

"Produksi kita akan naik, sekaligus ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya.

Mengenai konsep pertanian milenial yang diharapkan oleh pemerintah saat ini sudah ada pada Kelompok Tani MACAKAL ini. "Ini sudah contoh generasi Milenial, generasi muda bangkit. Image kita selama ini pertanian itu becek-becek dan kotor-kotor. Contonya apa, ini sudah dilakukan mekanisasi, pakai teknologi, produknya market oriented, dan pola transaksinya pun udah mengikuti generasi milenial," terang Suwadi.

"Jadi teknologi informasi, teknologi mekanisasi, teknologi yang lain kita manfaatkan untuk menggenjot produksi selada air, baby buncis kenya, baby timun, horenzo, tomat beef, kale dan lainnya. Tata niaga untuk pasar supermarket dan ekspor. Manajemen kelembagaannya tolong naik kelas menjadi koperasi, BUMP atau sejenisnya" tambah Suwandi.

Sementara itu Bupati Bandung Barat AA Umbara mengaku bangga dan mengapresiasi upaya Kelompok Tani MACAKAL dalam memajukan pertanian. Baginya, hal tersebut menjadi inspirasi karena dirinya juga lahir dan dibesarkan di keluarga petani.

"Saya dulu bertani, dan hari ini barangkali pertanian tidak seperti jaman jadul lagi. Karena sudah zaman now. Makanya sekarang ada petani milenial. Ini inspirasi buat kami terutama pemerintah daerah Bandung Barat," kata Umbara.

Sebagai wujud dukungan terhadap petani, pada tanggal 21 Maret 2019 mendatang pihaknya akan mengundang para petani dan kelompok tani dan akan diberikan bantuan Alsintan.

"Saya akan memberikan 1.000 traktor untuk petani Kabupaten Bandung Barat, dan didalamnya ada semua yang dibutuhkan petani," ujar Umbara.

Ketua Kelompok Tani MACAKAL, Triana dalam sambutannya mengucapakan banyak terimakasih kepada berbagai pihak, baik itu Dirjen Hortikultura Kementan, Bupati Bandung Barat, Dinas Pertanian Jawa Barat serta Dompet Dhuafa sebagai mitra Kelompok Tani MACAKAL.

"Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak. Ini merupakan penyemangat bagi kami sebagai petani di Cibodas," kata Triana.

Menurutnya, Kelompok Tani MACAKAL siap memajukan pertanian bersama para petani yang ada disekitar Desa Cibodas. Untuk itu kata Triana adanya dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak lain sangat dibutukan.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat Andriyansyah menuturkan setiap hari ada petani dapat memanen buncis 100 kg.

"Sebanyak 12 petani binaan tersebut kami berdayakan dalam program yang bernama desa tani dilahan seluas 1,2 hektar di kampung Ateng Lembang ini. Program ini berjalan sejak akhir tahun 2018 lalu,"ujar Andriansyah.

Andriansyah melanjutkan, desa tani merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Jabar. Desa tani hadir untuk mengatasi masalah kesejahteraan para petani yang ada di desa Cibodas.

Dan dalam pelaksanaan pembedayaan petani tersebut, Dompet Dhuafa Jabar bermitra dengan Kelompok Tani MACAKAL. Kelompok Tani MACAKAL lah yang membantu melakukan ekspor ke Malaysia.

"Adanya kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan bisa semakin memudahkan dan melejitkan tujuan program," imbuh Andriansyah.

Program DMPA Sinar Mas Agribusiness and Food Torehkan Prestasi

Ketapang, 14 Maret 2019 – Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) Sinar Mas Agribusiness and Food yang dilaksanakan sejak tahun 2016 telah menorehkan catatan prestasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Melalui program pemberdayaan masyarakat secara partisipatif, masyarakat memiliki kemampuan dalam mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mencapai ketahanan pangan dengan cara yang lebih ramah lingkungan melalui Pertanian Ekologis Terpadu (PET), dan meninggalkan pola bertani dengan membakar.

"Program DMPA kami rancang dengan memahami kebutuhan masyarakat dari desa binaan kami. Tahap pertama fokus pada pencegahan dan mengatasi kebakaran. Tahap kedua, kami mencoba memberikan solusi dari akar permasalahan agar masyarakat mau dan bisa meninggalkan pola bertani dengan membakar melalui PET. Saat ini, perusahaan telah melakukan pendampingan kepada 32 desa di Sumatera dan Kalimantan untuk program DMPA,” jelas Susanto Yang, CEO Sinar Mas Agribusiness and Food Wilayah Kalimantan Barat.

Melalui PET, masyarakat akan tetap dapat bertani dan mendapatkan pangan yang dibutuhkan, bahkan mendapatkan produktifitas yang lebih baik dan pengeluaran yang lebih sedikit untuk mengelola pertanian. Bersama dengan Masyarakat Siaga Api (MSA) dan pemerintah setempat, masyarakat desa diajak untuk melakukan proses belajar dengan praktik di lapangan – atau disebut juga sekolah lapangan PET – dan kemudian mereplikasikan di kebun masing-masing. Keberhasilan ini dapat terlihat dengan keluarga anggota kelompok PET yang mampu mendapatkan penghasilan 1 – 1.3 juta rupiah setiap bulannya.

Penghasilan tersebut dapat membantu masyarakat anggota kelompok PET untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun membayar kebutuhan anak-anak sekolah. Selain itu, tentunya indikator keberhasilan program DMPA yang telah berlangsung sejak tahun 2016, juga dapat diukur dengan penurunan titik panas di Kabupaten Ketapang. Pada tahun 2018, titik panas di Ketapang menurun sebesar 89,0% dibandingkan dengan tahun 2015, dimana terdapat 213 titik panas dan 130 titik api di desa binaan. Cuaca menjadi tantangan utama di tahun 2018, di mana curah hujan lebih sedikit dan musim kering lebih panjang dibandingkan tahun 2017.

Upaya dari desa-desa binaan di Ketapang untuk menjaga areanya agar tidak terbakar mendapatkan apresiasi dari perusahaan. Sejak tahun 2016, desa-desa yang berhasil mencegah terjadinya kebakaran lahan menerima penghargaan sebesar 50-100 juta rupiah dalam bentuk sarana dan prasarana pemadaman kebakaran dan fasilitas umum bagi desa. Di tahun 2018, sebanyak lima desa mendapatkan 100 juta rupiah dan tiga desa mendapatkan lima puluh juta rupiah.

Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan (Distanakbun) Kabupaten Ketapang menyambut baik dan merespon positif hasil yang telah dicapai masyarakat delapan desa di Kecamatan Nanga Tayap dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

“Kami menyadari bahwa diperlukan sebuah kolaborasi yang menyentuh dari berbagai pemangku kepentingan agar program dapat berjalan dengan berkelanjutan," ungkap Ir. L. Sikat Gudag, M.Si., Kepala Dinas s Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang.

Oleh karena itu, lanjutnya, peran serta elemen perusahaan, masyarakat dan pemerintah seperti Distanakbun, Manggala Agni, serta Muspika dan Lembaga Adat di Kecamatan Nanga Tayap sangatlah diperlukan. Distribusi informasi yang mampu mengedukasi masyarakat harus tetap berjalan baik melalui lembaga pendidikan formal dan informal.

"Saya berharap dengan melihat kisah sukses dari warga desa yang lain, program positif dari DMPA, dengan Pertanian Ekologis Terpadu akan dapat cepat diikuti oleh warga-warga lainnya,” pungkasnya.

DEKOPI Rayakan Ulang Tahun Pertama di Hari Kopi Nasional

JAKARTA, Di hari ulang tahun pertama dari Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI) yang juga bertepatan dengan Hari Kopi Nasional, maka diselenggarakan Workshop dengan tema “Harmonisasi Pengembangan Kopi Hulu Hilir” dan Ngopi Bareng bersama Bapak Menteri Pertanian, serta Public Cupping. 

Pada kesempatan ini, dilakukan penandatanganan MoU DEKOPI bersama ITC Group sekaligus terkait pengembangan industri kopi dari hulu sampai dengan hilir. Hal ini juga meliputi penjualan biji kopi khas Nusantara, alat – alat pendukung pembuatan kopi, serta training pembuatan kopi dari kopi khas Nusantara.

“Dekopi berharap industri kopi dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ekonomi rakyat, sebab kita semua tahu sebagian besar industri ini dimiliki oleh small holder.” Ujar Anton Apriyanto pada acara workshop di Gedung PIA Kementerian Pertanian, pada Senin (11/03).

Perkembangan kopi saat ini terasa sangat pesat, ditandai dengan mulai maraknya pembukaan kedai – kedai kopi dari anak Negeri. Hal ini patut kita dukung agar memberikan dampak positif bagi Negara kita terutama dari segi ekonomi. Juga mendukung para petani kopi dalam Negeri untuk menyalurkannya ke pihak yang tepat.

Untuk mendukung tren industri kopi yang terus meningkat tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian, Irmiyanti mengatakan bahwa Pemerintah akan berupaya melakukan sejumlah usaha lain untuk mendukung peningkatan produksi.

“Kami akan berupaya terus melakukan pemberdayaan kelembagaan petani, pandampingan intensif dan berkelanjutan, peningkatan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia, pengaturan tata niaga, peningkatan ketersediaan investasi usaha, pengembangan kopi berdasarkan indikasi geografis, serta mendorong pengembangan kopi specialty atau produksi kopi khas daerah Indonesia,” ungkapnya.

Dengan berbagai upaya ini, lanjut Irmiyanti, Pemerintahberharap pada 2045 Indonesia bisa menghasilkan 1,742 juta ton kopi per tahun dengan ekspor sebanyak 643.835 ton kopi. Adapun kebutuhan dalam negeri pada saat itu diperkirakan mencapai 1,033 juta ton.

Selain itu, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungn Hidup dan Kehutanan (PSKL KLHK) Bambang Supriyanto juga menyatakan bahwa saat ini ada 4 juta hektare lahan perhutanan sosial yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pertanaman kopi. Hal itu untuk mendukung peningkatan produksi kopi nasional.

“Saat ini ada 13,8 juta hektare (ha) lahan perhutanan sosial di mana 4 juta ha diantaranya memenuhi kriteria untuk dimanfaatkan sebagai lahan bertanam kopi,” tuturnya Bambang.

Adapun kriteria yang dimaksud meliputi curah hujan tahunan, lamanya bulan kering, kemiringan lereng, elevansi atau ketinggian, dan sifat fisik tanah. “Untuk kopi syaratnya curah hujan 1.500-2.000 milimeter, kelerengan 0,8 derajat, lama kering dua bulan saja,” ujarnya usai acara Workshop Harmonisasi Pengembangan Kopi Hulu Hilir yang dilaksanakan dalam rangka memperingatati hari Kopi Nasional dan Ulang Tahun Dekopi itu.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id