Menu
SAJIAN ISI

Salak Pronojiwo Tembus Pasar Malaysia & Singapura

Salak Pronojiwo Salak Pronojiwo

Di tengah maraknya serbuan buah impor, kejayaan buah lokal ternyata masih saja bersinar di Malaysia dan Singapura. Salak Pronojiwo asal Kabupaten Lumajang merupakan salah satu buah lokal yang kini diminati konsumen di kedua negara jiran itu. Kabupaten Lumajang merupakan kabupaten yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yakni Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut (MDPL), Gunung Bromo 2.392 MDPL dan Gunung Lamongan setinggi 1.600 MDPL.

Pengembangan Salak Pronojiwo mulai dilakukan tahun 1990-an. Hingga 2013, seluas 650 hektar (ha) lahan Salak Pronojiwo telah berproduksi. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Pronojiwo, Kebupaten Lumajang. Dengan luas lahan hingga 3.000 ha, Pronojiwo memiliki potensi besar sebagai sentra salak.

Kelebihan Salak Pronojiwo karena rasanya yang lebih manis, daging buah yang tebal dan besar, kadar air yang tinggi. Produktivitasnya juga lebih tinggi dibandingkan Salak Pondoh.
Varietas Salak Pronojiwo ini berasal dari bibit salak yang diambil dari Salak Pondoh di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Setelah dibawa ke Lumajang dan ditanam di Kec. Pronojiwo, ternyata Salak Pondoh ini bisa berkembang dengan baik, dari segi rasa maupun ketebalan daging buahnya.

Petani asli Lumajang yang mulai menanam Salak Pondoh di Kecamatan Pronojiwo adalah Gito (53) pada tahun 1990. Nama Salak Pronojiwo sendiri diberikan karena punya kelebihan dari induknya, baik secara fisik, aroma maupun rasanya.

Keberhasilan Gito membudidayakan Salak Pronojiwo mendatangkan rejeki berlimpah. Buah salak tanamannya tak hanya dinikmati warga Pulau Jawa, tapi juga hampir semua provinsi di Indonesia Timur juga ikut merasakan nikmatnya buak salak ini. Termasuk, negeri tetangga Singapura dan Malaysia ketagihan ingin terus merasakan segar dan lezatnya "Salak Gito" Pronojiwo.

Sukses membudidayakan kebun salak itu tak dilakoni sendiri, kiprah pemilik lahan 1,5 hektar ini kemudian diikuti oleh petani lainnya dari 14 kecamatan di Lumajang. Hasilnya, hingga kini kelompok tani itu terus memetik hasil dengan perolehan melimpah.

Puncak keberhasilan bapak dari tiga anak warga Lumajang ini, membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu negara beserta rombongan penasaran. Kepala Negara tertarik, kemudian datang dan menyempatkan ke ladang ikut memetik salak pada 30 Juli 2013 lalu.

Gito mengakui, sebelum beralih ke budidaya salak, dia adalah petani cengkeh dan kopi selain rutin menanam padi. Tak dapat banyak untung, membuat dirinya mencari terobosan untuk menanam jenis tanaman yang lain. Dari kebiasaan menanam cengkeh dan kopi beralih menanam salak. “Sebelumnya, saya menanam cengkeh dan kopi. Tetapi, tidak mendatangkan hasil. Beda dengan tanaman salak ini, setiap saat saya bisa mendapatkan hasil. Sampai bisa membiayai kuliah anak saya,” ujarnya.

Tak berlebihan, kalau lelaki paruh baya ini disebut pioner budidaya buah salak di Lumajang. Karena, dia adalah satu dari empat orang yang merintis budidaya salak. Dan, dalam perjalanannya kemudian dikenal dengan sebutan Salak Pronojiwo dari Lumajang.

Dia bercerita, awalnya, karena hasil panen yang selalu tidak sebanding dengan biaya tanam, yakini cengkeh dan kopi membuat dia mencari terobosan lain. Bersama petani lainnya, dia memutar otak, hingga akhirnya muncul keinginan berganti menanam salak. “Kami keliling Jawa, hingga akhirnya sampai ke Kabupaten Sleman di  DI Yogyakarta. Dari Sleman itulah kami mendapat bibit salak,” katanya.

Dengan beberapakali uji coba, bersama sejumlah petani bibit salak yang dibawa dari Sleman mereka menanam salak di ladang masing-masing. Tak disangka, hasil panen salak manis dan masir asal Lumajang ini banyak diminati. Sejak itu, dari berbagai penjuru Pulau Jawa, Bali dan sejumlah provinsi dari Indonesia Timur berdatangan, pemesanan pun terus mengalir. Termasuk, dari Singapura dan Malaysia juga rutin minta dikirim.

Nama Salak Pronojiwo, menurutnya, sebutan spontan dan nama yang sederhana dipakai saat menjajakan hasil penen perdana saat itu. Ada tiga jenis salak yang berhasil dibudidayakan dan menjadi produk unggulan masyarakat petani di Kabupaten Lumajang, yakni jenis Gula Pasir. Salak ini bibit asalnya dibawa dari Bali, harga jual antara Rp25-30 ribu per kg. Jenis Pondoh Madu, asal Sleman yang ditanam di sekitar lahan 5 hektar milik petani. Harga jual antara Rp20-30 ribu. Ketiga adalah jenis Pondoh Lumut, bibitnya asal Sleman, ditanam di lahan seluas 473 hektar, dengan harga jualnya Rp2.500 sampai Rp7.500 per kg. Tercatat, ada 14 kecamatan sebagai daerah penghasil salak di Kabupaten Lumajang.

Gito bertutur, menanam salak tidak terlalu sulit. Hasil panen setiap minggu bisa didapat setelah tanaman ini masuk umur yang cukup, yakni setelah berumur dua tahun. Di umur itu, pohonnya bisa setinggi lima meter. Mulai mengembang, menjadi penthil (bakal buah salak) kemudian membesar menjadi buah salak dan siap dipanen. "Tanaman ini terus berbuah dan bisa dipanen setiap minggu," ujarnya sambil memetik salak di pohon yang sudah besar-besar.

Perawatannya tidak rumit, setelah pohon salak berbunga, dilakukan pembungkusan, terbaru dilakukan dengan menggunakan botol plastik air mineral yang dipotong separuh dan sejajar. Tujuannya, agar bunga bakal buah salak tidak tertetes atau teraliri air secara langsung.
Cara itu, lanjut petani, agar proses penyerbukan bisa berlangsung sempurna, dan buah yang dihasilkan bisa maksimal, besar dan rasanya enak.

Setelah lebih dari 30 hari, botol plastik pembungkus buah bisa dibuka, tujuannya agar cepat besar. Dan, panen buahnya bisa dilakukan setiap seminggu sekali (dipilih yang besar, buah yang kecil menyusul).

Budidaya dan pemasaran salak asal Bumi Lumajang ini terus membaik. Itu karena Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur dan dinas pertanian di kabupaten bersama-sama memberikan berbagai kebutuhan kepada petani. Selain penyuluhan juga soal hasil panen dan distribusi pemasaran. “Alhamdulillah, di sini ada 40 kelompok petani (Poktan), dengan luas lahan yang ditanami salak ada 648 hektar. Hasilnya lumayan baik, kesejahteraan hidup petani terus membaik,” tutur Gito.

Oleh sebab itu, tidaklah salah jika SBY dan Pakde Karwo, sapaan akrab Presiden dan Gubernur Jawa Timur itu, mengaku terkesan dengan potensi hortikultura Kabupaten Lumajang, yaitu salak yang telah yang telah direkayasa genetika oleh UPT-BPP Kec. Pronojiwo yang diberi nama Salak Pronojiwo. Kelebihan dari Salak Pronojiwo adalah memlilik kadar air yang banyak, lebih segar, warna yang menarik, ukuran yang lebih besar. *** HEN

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id