Menu
SAJIAN ISI

Ganoderma Ancaman Nyata Bagi Sawit

Bogor, - Serangan ganoderma mengancam keberadaan kelapa sawit Indonesia. Sebab, serangan jamur patogen ini  akan menimbulkan kerusakan besar pada perkebunan kelapa sawit. Tanaman yang terserang mengalami pembusukan dan akhirnya mati.

Hal tersebut disampaikan Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) saat acara Roundtable Ganoderma Management (RGM), yang bertemakan “Pemanfaatan Biopestisida Dalam Pengendalian Ganoderma”   di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa (2 Juli 2019).

Menurut Darmono, saat ini serangan ganoderma tidak pandang bulu terhadap sasaran yang diserang. Apakah perkebunan negara, swasta atau rakyat. Akibat serangan ganoderma ini, kerugiannya sangat besar. Sayangnya banyak perusahaan yang baru sadar karena sebelumnya tidak pernah memperhitungkan penanganan serangan jamur tersebut dalam biaya produksi.

“Saat ini, ganoderma sudah menyerang 30% kawasan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Selain itu juga sudah menyerang Lampung. Adanya ancaman serius ganoderma terhadap industri sawit sindonesia kini telah menjadi perhatian serius pemerintah,” jelasnya.
Perkebunan kelapa sawit menghadapi ancaman ganoderma yang berpotensi menekan produktivitas sawit nasional.  

Untuk itu, Darmono berpendapat,  pengendalian ganoderma itu perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak bisa secara parsial. Dengan demikian, kehadiran benih sawit unggul dan moderat toleran terhadap danoderma bukanlah jaminan akan terbebas dari ancaman ganoderma. Menurutnya, penyebutan benih moderat toleran karena memang tidak ada yang absolut tahan terhadap Ganoderma.

Darmono menjelaskan, ada sejumlah pertimbangan kenapa tanaman sawit tidak bebas sepenuhnya dari ganoderma di antaranya tekanan faktor lingkungan abiotik yang bervariasi. Kejadian penyakit di satu daerah bisa berbeda di daerah lain dengan latar belakang genetik tananaman yang sama.

"Ganoderma mampu beradaptasi melalui rekombinasi seksual membentuk galur-galur baru, menyebabkan patahnya ketahanan tanaman," ujarnya.

Oleh karena itu, Darmono menyarakan agar perusahaan kebun tidak boleh melupakan komponen pengendalian terpadu lainnya seperti penghancuran sumber inokulum, pemupukan yang berimbang antara pupuk kimia dan organik, penggunaan musuh alami, dan pembuatan parit isolasi, tidak dilakukan atau dilupakan.

Apabila cendawan Ganoderma di lingkungan sawit sulit berkembang, maka pembentukan galur baru juga bisa dicegah.

"Itu sebabnya eksplorasi materi genetik yang membawa ketahanan dan produktivitas tinggi tetap diperlukan,"ungkapnya.

Darmono menambahkan, perlu memberikan apresiasi kepada perekayasa dan pemulia tanaman sawit. Konsorsium riset Ganoderma yang pernah dideklarasikan perlu segera dijalankan karena untuk menanggulangi penyakit busuk pangkal batang yang saat ini menggerogoti perkebunan kelapa sawit.

Darmono menjelaskan bahwa ganoderma menjadi ancaman baru bagi perkebunan sawit yang akan diremajakan. Penggunaan pupuk akan sia-sia dalam rangka peningkatan produktivitas, apabila tanaman terserang ganoderma. Diperkirakan tanaman dapat bertahan dalam kurun waktu 10-12 tahun tanpa dibarengi revitalisasi lahan secara terintegrasi.

Dudi Gunadi Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian menambahkan, ganoderma merupakan ancaman bagi industri sawit, terutama sawit rakyat. Untuk itu pemerintah beserta jajarannya telah mempersiapkan berbagai cara untuk menanggulanginya.
"Kami sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari penyiapan bibit unggul yang tahan ganoderma sampai dengan sosialisasi ke petani sawit akan bahayanya ganoderma," jelasnya.

Dudi menambahkan, serangan ganoderma mencapai ratusan ribu hektar dan tersebar di hampir semua sentra-sentra sawit. Untuk itu harus segera ditemukan solusinya.
"Serangan ganoderma telah meluas, ya ratusan ribu hektar. Dan itu tersebar di sentra-sentra sawit," lanjutnya.

Hadir sebagai pembicara di Roundtable Ganoderma Management (RGM) antara lain; Dr.Gurmit Singh, Dr.Abdul Gafur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, MPOB, dan perusahaan Biopestisida.

Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 200 orang dari kalangan pelaku usaha perkebunan, HTI, akademisi, pemerintah, peneliti, dan mahasiswa.

Guru Besar IPB Jelaskan Isu Deforestasi di Norwegia

OSLO – Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Yanto Santosa, menjelaskan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi di Indonesia. Berpedoman pada sejarah degradasi lahan di Indonesia, Yanto mengungkapkan konversi lahan perkebunan kelapa sawit bermula dari penanaman kelapa sawit pada lahan yang terlebih dahulu terdegradasi akibat kegiatan penebangan ataupun kebakaran hutan.

“Kegiatan konversi lahan demi kepentingan ekonomi dan keamanan pangan merupakan hal yang lumrah, terutama pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia,” kata Yanto dalam seminar sawit berkelanjutan di Oslo Norwegia, akhir pekan lalu.

 Bermula dari kesuksesan program transmigrasi, kata Yanto, konversi hutan mendorong peralihan fungsi hutan tropis menjadi lahan-lahan untuk tanaman pangan seperti padi.

“Pada tahun 1980an, pemerintah mendorong pelaku usaha kelapa sawit dan industri kayu untuk meningkat produktiftas lahan hutan terdegradasi,” kata Yanto. Dalam seminar di Oslo tersebut, hadir juga Duta Besar RI di Norwegia dan Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesian) Joko Supriyono.

Puncak deforestasi terjadi pada periode 1950-1985 dan 1985-2000 yaitu sebesar 42 juta hektar dan 16 juta hektar, sementara ekspansi lahan untuk kelapa sawit hanya 1 juta hektar dan 3 juta hektar dalam periode yang sama.

Fakta menarik lainnya, konversi lahan perkebunan kelapa sawit hingga tahun 2010 yaitu sekitar 8 juta hektar, 5,5 juta hektar di antaranya berasal dari konversi lahan pertanian dan lahan terlantar. Sementara, 2,6 juta hektar merupakan hasil dari konversi hutan produksi.

“Bukti sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa kelapa sawit bukan penyebab langsung deforestasi di Indonesia yaitu awal pendirian perkebunan di Sumatera Utara pada tahun 1863. Komoditas pertama yang ditanam saat itu adalah tembakau bukan kelapa sawit, yang pada saat itu merupakan komoditas perdagangan utama di pasar Eropa” ungkap Yanto.

Perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi, bahkan konversi lahan kelapa sawit dapat dikategorikan sebagai “penghijauan kembali” atau “rehabilitasi” lahan yang semula telah terdegradasi.(*)

Alasan Generasi Muda Perlu Mengenal Sawit

Jakarta, - Kepala Divisi Perusahaan BPDP Kelapa Sawit Achmad Maulizal Sutawijaya mengungkapkan bahwa semua stakeholder di perkelapasawitan memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang benar tentang sawit. Industri ini bukan industri yang membahayakan. Industri ini bukan industri yang tidak memilki masa depan.

"Pemahaman sawit secara turun temurun harus berjalan dengan baik agar perkebunan dan komoditas tersebut tetap menjadi produk unggulan Indonesia," tuturnya, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 20 Juni 2019.

Menurutnya banyak sekali dampak positif yang dilahirkan dengan adanya sawit dan produk-produk olahannya. Mulai dari sumbangan kepada ekonomi Indonesia, yakni kontribusi terhadap devisa sekitar USD20,54 miliar pada 2018. Ada pula dampak penyerapan tenaga kerja yang besar dari sektor ini. Paling tidak ada sekitar 50 juta jiwa yang hidup dari sawit.

"Dan yang perlu terus digaungkan kepada semua lapisan masyarakat adalah sawit telah memberikan manfaat bagi kita semua. Tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia," pungkasnya.

Selain devisa, sawit juga berkontribusi terhadap penurunan emisi global dan mencegah deforestasi. Sebab dibandingkan produk minyak nabati lainnya, dengan luas lahan yang sama sawit merupakan komoditas dengan produktifitas 10 kali lebih unggul.

Kelapa sawit dan produk turunannya telah hidup berdampingan dengan masyarakat. Sebagai masyarakat Indonesia harus berbangga diri dengan kekayaan sumber daya yang Indonesia miliki. Pasalnya Indonesia merupakan negara penghasil sawit terbesar di dunia dan tentunya harus menjadi kebanggaan.

Ia menambahkan budidaya kelapa sawit mulai dilakukan sejak 1878 di Indonesia. Melihat sejarah perkembangan tersebut, kelapa sawit sudah sejak lama berada di Tanah Air. Sampai sekarang kelapa sawit terus mengalami perkembangan dengan berbagai produk turunannya.
 
Dengan fakta tersebut, Achmad Maulizal Sutawijaya menilai kebanggaan tersebut tentu juga harus dirasakan oleh generasi milenial di Tanah Air. Generasi milenial dan generasi Z harus harus mendapatkan asupan informasi yang benar tentang kelapa sawit dan produk-produk turunannya.
 
"Mereka harus tahu sejarahnya dan perkembangan saat ini serta masa depannya," tandas Achmad.

Ketua Dewan Karet Indonesia; Pemerintah Masih Abai dalam Membangun Industri Hilir Karet

Jakarta, - Ketua Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane mengatakan pemerintah hingga saat ini dinilai masih abai dalam membangun industri hilir karet. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand. Sayangnya, sekitar 85% produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Akibatnya, petani karet memiliki pendapatan yang kecil. Sebagai ilustrasi, harga karet dunia saat ini berada pada kisaran USS2,5- 3 per kilogram, namun, harga jual di tingkat petani di Kalimantan Selatan hanya berkisar Rp7 ribu Rp8 ribu per kg.

"Hal serupa dialami juga oleh petani karet di daerah lain. Padahal, jumlah mereka sekitar 2,1 juta orang menguasai 85% luas areal karet alam nasional. Mereka ini telah memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan devisa negara," kata Aziz dalam acara Pameran Produk Karet dan Plastik di Jakarta.

Untuk atasi itu, Aziz meminta pemerintah serius untuk menangani hilirisasi karet yang saat ini stagnan. Dalam hal ini, hilirisasi karet tertinggal dari kakao dan kelapa sawit. "Setelah diketahui penyebabnya, maka buat regulasi yang bisa mendorong pertumbuhan industri hilir karet," katanya.

Menurut dia, keberhasilan hilirisasi karet akan berimplikasi positif pada stabilitas harga yang menguntungkan petani. sebagai bukti, keberhasilan hilirisasi industri kakao di dalam negeri membuat harga komoditas ini stabil di level US$2.400 perton. "Keberhasilan hilirisasi bisa mengangkat petani karet dari kemiskinan," katanya.

Lebih jauh lagi Aziz mengungkapkan industri karet dalam negeri rupanya masih terganjal beberapa masalah. Salah satunya adalah program penanaman kembali (replant) atau revitalisasi pohon karet yang saat ini tidak berjalan dengan baik. Padahal pohon karet yang ada saat ini sudah terbilang cukup tua dan tidak produktif.

Aziz mengatakan rata-rata pohon karet yang ada di perkebunan sudah tua dan sudah dikelupas kulitnya dari atas sampai bawah pohon tersebut. Hal ini, kata Aziz, menandakan kalau pohon karet tersebut memang sudah sangat tidak layak lagi untuk diambil getahnya (sadap). Sehingga produksi karet dalam negeri tidak meningkat alias stagnan.

Saat ini, ujar Azis, produktivitas karet Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Thailand dalam memproduksi karet setiap tahunnya. "Akan tetapi, dengan memiliki tanah seluas tiga juta hektare lahan, Indonesia cuma mampu memproduksi tiga juta ton karet per tahunnya, sedangkan Thailand yang punya dua juta ha lahan bisa memproduksi tiga juta ton lebih dalam setiap tahunnya," ujar Aziz.

Menurut dia, dengan memiliki tanah seluas tiga juta ha, seharusnya Indonesia bisa memproduksi lebih dari empat juta ton karet per tahunnya. Hal itulah yang harus difokuskan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karet tiap tahunnya.

Aziz menjelaskan, kalau pemerintah bisa memberikan bibit unggul dan revitalisasi yang baik kepada petani, dalam dua tahun ke depan Indonesia bisa jadi nomor satu sebagai penghasil karet." Berikan bibit yang terbaik kepada para petani, berikan keistimewaan kepada para petani, dan berikan revitalisasi yang terbaik kepada petani. Saya yakin kalau itu diberikan oleh pemerintah, Indonesia bisa jadi nomor satu dalam memproduksi karet per tahunnya," katanya.

Cargill Siapkan Beasiswa Untuk Mahasiswa Politeknik Negeri Ketapang

Poliplant Group, anak perusahaan Cargill yang beroperasi di Kalimantan Barat memberikan beasiswa bagi 23 mahasiswa/i Politeknik Negeri Ketapang yang berprestasi sebagai bagian dari kemitraan Cargill dengan Politeknik Negeri Ketapang yang dimulai sejak tahun 2016. 

Hingga kini, 39 beasiswa telah diberikan kepada mahasiswa/i Politeknik Negeri Ketapang di jurusan pertanian, teknik dan teknik informatika.

Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa/i yang memperoleh Indeks Prestasi (IP) minimum 3.0 atau lebih sejak semester ketiga hingga lulus pada semester delapan. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah hingga lulus dan bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa/i dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam pembangunan nasional. Selain itu, mahasiswa/i juga memperoleh kesempatan lebih awal untuk mengenal lingkungan kerja melalui program magang di Cargill selama tiga bulan.

Anthony Yeow, Presiden Direktur Poliplant Group, berkata, “Kami berharap dapat menginspirasi para generasi muda Indonesia untuk menilai diri mereka dengan rekan-rekan sesama mahasiswa di negara-negara lain; sebagai acuan yang diperlukan agar generasi muda Indonesia mampu menjadi sumber daya manusia berkelas dunia.

Selain membantu mereka tumbuh secara akademis, kami juga ingin mengembangkan kemampuan non-akademis mereka, seperti bakat dan minat, sehingga mereka meraih kesuksesan ketika memasuki dunia kerja.

Hal ini mencerminkan bagaimana Cargill bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa kami dapat mewujudkan komitmen berkelanjutan kami, yang mana inti dari inisiatif ini adalah untuk membangun kapasitas para pemangku kepentingan kami untuk mencapai dampak keberlanjutan.”

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id