Menu
SAJIAN ISI

Pasar Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tergerus Sentimen Regulasi

Ekspor minyak sawit Indonesia mulai tergerus karena dampak dari regulasi beberapa negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono, pada April 2019 ekspor minyak sawit Indonesia secara total (CPO dan turunan, olechemical dan biodiesel) mengalami penurunan 18% dibandingkan total ekspor pada Maret lalu, atau dari 2,96 juta ton menurun menjadi 2,44 juta ton.

"Kemudian pada bulan Mei kinerja ekspor mulai merangkak naik tetapi masih dibawah ekspektasi. Pada Mei 2019 total ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 2,79 juta ton atau naik 14% dibandingkan dengan total ekspor pada bulan sebelumnya," kata Mukti di Jakarta, 15/7/2019.

Sementara itu, lanjut Mukti, total ekspor khusus CPO dan turunannya (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) pada April 2019 mencatatkan penurunan 27% atau dari 2,76 juta ton di Maret menurun menjadi 2,01 juta ton di April.

Pada bulan Mei total ekspor tercatat mencapai 2,40 juta ton atau meningkat 18% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Melemahnya pasar ekspor minyak sawit Indonesia tentu menjadi suatu pekerjaan rumah bagi industri sawit Indonesia.

"Beberapa negara tujuan ekspor utama memberlakukan regulasi yang sudah masuk dalam kategori hambatan dagang. Contoh India, yang menaikkan tarif bea masuk minyak sawit sampai pada batas maksimum," kata Mukti.

Perlu di ketahui, Malaysia sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua mengambil langkah sigap menghadapi regulasi India dengan memanfaatkan perjanjian dagang berupa Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) yang telah ditandatangani sejak tahun 2011 dengan perundingan lanjutan di Free Trade Agreement menghasilkan diskon bea masuk impor refined products yang lebih rendah dibandingkan bea masuk yang dikenakan kepada Indonesia.

Tarif bea masuk refined product dari Malaysia 45% dari dari tarif berlaku 54%. Alhasil dari diskon tarif bea masuk yang dinikmati Malaysia, pasar minyak sawit Indonesia ke India kian tergerus, pasar India didominasi oleh Malaysia.

Menyikapi hal ini, pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi kerja sama ekonomi dengan India untuk pemberlakuan tarif impor yang sama, sehingga Indonesia dapat berkompetensi memeriahkan pasar India.

Berikutnya adalah Uni Eropa, sejak diadopsinya Delegated Act RED II Maret lalu, tidak dapat dipungkiri telah ikut membangun sentimen negatif pasar minyak sawit Indonesia di Eropa. GAPKI mencatatkan ekspor CPO dan turunannya ke Benua Biru ini terus tergerus.

Pada April 2019 ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia tercatat menurun 37% dibandingkan Maret lalu, kemudian pada Mei kembali melorot 4% dibandingan April (Maret 498,24 ribu ton, April 315,24 ribu ton dan Mei 302,16 ribu ton). Lagi-lagi regulasi negara tujuan ekspor yang menjadi
hambatan dagang.

"Pasar utama ekspor lain yang juga mengalami dinamika adalah China. Pada April membukukan kenaikan impor sebesar 41% dibandingkan Maret (dari 353,46 ribu ton meningkat menjadi 499,57 ribu ton) kemudian pada Mei melorot 18% (atau dari 499,57 ribu ton turun menjadi 410,56 ribu ton). Hal ini juga diikuti oleh Bangladesh," jelasnya.

Beralih kepada penyerapan Biodiesel di dalam negeri. Sepanjang April serapan biodiesel di dalam negeri hanya mampu mencapai 516 ribu ton atau terkikis 2% dibandingkan Maret lalu. Pada Mei ini serapan menunjukkan progress yang positif yaitu mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8% dibandingkan April.

Melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, berkombinasi dengan cukup tingginya stock di Malaysia dan Indonesia, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah road test/uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober nanti. Demikian juga PLN yang semestinya dapat segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal (B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton) sehingga meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stock, Pada saat yang sama Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi dan kita tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa.

Pada saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit/replanting untuk menjaga keseimbangan stock. Replanting akan mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan, Indonesia akan memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam jangka panjang.

Dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO CIF Rotterdam bergerak di kisaran US$ 492,5 – US$ 535 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 511,9 per metrik ton Produksi minyak sawit pada April dan Mei menunjukkan trend kenaikan.

"Produksi April mencapai 4,64 juta ton dan Mei 4,73 juta ton. Faktor cuaca yang masih baik sehingga mendorong kenaikan produksi. Sementara stock minyak sawit Indonesia mulai menumpuk. Sampai pada Mei, stock bertengger di 3,53 juta ton atau naik 11% dibandingkan dengan stock April sebesar 3,18 juta ton," pungkas Mukti.

UNS Menangi Lomba Riset Sawit Mahasiswa BPDP-KS

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Alfiyatul Fithri dan Wahyu Puji Pamungkas menangi Lomba Riset Sawit Mahasiswa yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Dua mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) berhasil menjuarai lomba dengan risetnya yang berjudul, PULOSAKTI (Plester Luka Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ikan Sidat) Plester Inovatif Sebagai Pertolongan Pertama.

Penelitian PULOSAKTI dilakukan oleh Alfiyatul Fithri dan Wahyu Puji Pamungkas selama hampir satu tahun dibawah bimbingan Dr Maulidan Firdaus MSc.

Menurut Fithri, Pulosakti ini merupakan plester luka modern berbasis hidrogel dengan sifat ramah lingkungan. Hidrogel dibuat dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Sedangkan ikan sidat adalah komponen tambahan pada plester yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka karena tingginya kandungan albumin dalam ikan sidat.

"Cara penggunaan Pulosakti sangat sederhana hanya dengan menempelkan plester pada bagian luka, dimana sebelumnya luka dibersihkan dengan air atau alkohol untuk menghilangkan kotoran dan darah. Efektifitas Pulosakti diperoleh dari uji luka pada tikus putih. Kemampuan percepatan penyembuhan luka diamati dan dibandingkan dengan plester luka konvensional komersil dan gel komersil," kata Fithri seusai pengumuman pemenang Lomba Riset Sawit Mahasiswa BPDP-KS yang di Bogor, 13/7/2019 .

BPDP-KS mengadakan Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa sejak Maret 2018 yang menyeleksi lebih dari 350 proposal riset dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dari jumlah tadi disaring menjadi 30 riset yang diberikan pendanaan riset.

Pada Final Lomba Riset Sawit Mahasiswa 2019, ada 10 hasil riset yang dipresentasikan di hadapan Tim Penilai untuk menentukan 3 riset terbaik yang akan mendapatkan penghargaan.

Direktur Penyaluran Dana BPDPKS Edi Wibowo mengatakan, kegiatan Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa merupakan salah satu program unggulan BPDP KS yang dilaksanakan sebagai upaya untuk mendorong pengembangan riset yang terkait dengan sektor kelapa sawit.

"Lomba Riset Mahasiswa ini sebagai upaya untuk mendorong pengembangan riset kelapa sawit yang dilakukan oleh mahasiswa. Selain itu juga untuk meningkatkan minat kemampuan, kreatifitas dan inovasi mahasiswa untuk menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Edi seusai acara pengumuman pemenang Lomba Riset Sawit Mahasiswa BPDP-KS.

Edi menambahkan, pada tahun 2016 telah dilakukan Lomba Riset Sawit tingkat Mahasiswa yang pertama, dimana pada kegiatan tersebut, yang keluar sebagai juara I adalah universitas Brawijaya, Juara II adalah Universitas Sebelas Maret, dan Juara III Institut Teknologi Bandung.

"Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai sarana untuk menyiapkan kemampuan, keahlian, sikap dan tanggung jawab, serta kemandirian mahasiswa menjadi peneliti sawit masa depan.
Sektor kelapa sawit Indonesia merupakan sektor yang sangat strategis," jelas Edi
Perlu diketahui, secara global, Indonesia juga merupakan produsen CPO terbesar, dimana lebih dari separuh supply CPO dunia berasal dari Indonesia. Sektor ini merupakan sektor padat karya, dimana banyak sekali orang tergantung dari sektor ini.

Sumbangan sektor ini terhadap perekonomian nasional sangat besar. Saat ini sektor kelapa sawit menjadi penghasil Devisa Terbesar, tercatat lebih dari Rp 240 Triliun, yang lebih besar dari sektor Pariwisata maupun sektor Migas.

Sektor ini mempekerjakan lebih dari 4,2 Juta pekerja langsung, dan 12 Juta pekerja tidak langsung.Dari sisi hulu, hampir separuh dari perkebunan kelapa sawit dikuasai oleh Petani Swadaya, yang mampu menciptakan 2,3 Juta usaha pertanian dan mempekerjakan 4,6 Juta orang. Dari sisi ketahanan energi, dengan program Biodiesel B20, pasokan biodiesel dari kelapa sawit untuk tahun 2019 ini ditargetkan mampu menggantikan hampir 6,2 Juta Kilo Liter bahan bakar fossil yang kita impor, sehingga menghemat devisa lebih dari USD 2,5 Milyar, serta mengurangi emisi CO2.

Riset merupakan salah satu elemen penting dalam pengembangan sektor ini, sehingga riset harus menjadi salah satu bagian dari proses utama dari upaya pengembangan sektor kelapa sawit. Riset harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh sektor kelapa sawit saat ini, seperti masalah rendahnya produktivitas petani swadaya, penggunaan teknologi yang belum merata serta kualitas SDM yang masih perlu diperbaiki.

Pada lomba riset sawit tingkat mahasiswa tahun 2018-2019, dari seluruh peserta lomba yang berasal dari berbagai universitas di seluruh Indonesia, telah diseleksi sebanyak 30 peserta lomba riset terbaik yang merupakan kelompok terpilih dari kurang lebih 380 proposal yang diseleksi. Selanjutnya, pada acara Final lomba riset sawit 2019 ini, telah diseleksi kembali 10 finalis riset terbaik untuk mempresentasikan laporan akhir hasil penelitiannya, dimana tim penilai akan menentukan juara 1,2 dan 3 di akhir acara. Beirikut 10 finalis lomba riset sawit tingkat mahasiswa 2019:

Pada lomba riset sawit tingkat mahasiswa tahun 2018-2019 menghasilkan pemenang, yaitu:

Juara 1 Alfiyatul Fithri dari Universitas Sebelas Maret dengan judul penelitian, PULOSAKTI (Plester Luka dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ikan Sidat): Plester Inovatif Sebagai Pertolongan Pertama Luka.

Juara 2 Gia Eka Negara dari Universitas Lambung Mangkurat dengan judul penelitian, Sistem Monitoring Karbondioksida ( CO2 ), Kelembaban dan Temperatur Berbasis Web pada Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut.

Juara 3 Muhamad Mas’ud dari Universitas Padjadjaran dengan judul penelitian, PemanfaatanTandan Kosong Kelapa Sawit Menjadi Kain Yang BernilaiEkonomi Tinggi

"Kepada Mahasiswa peserta lomba riset sawit tingkat mahasiswa ini diharapkan tetap semangat untuk terus melanjutkan riset sawit ke tahap selanjutnya dan bersama-sama mengembangkan sektor kelapa sawit Indonesia agar lebih maju, berkelanjutan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan Bangsa Indonesia," pungkas Edi.

Mantap, Koperasi Binaan Astra Agro Kembali Raih Terbaik Nasional

PURWOKERTO – Koperasi Unit Desa (KUD) Karya Mukti yang beroperasi di dusun Karya Harapan Mukti, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi kembali mendapatkan gelar sebagai koperasi terbaik nasional 2019 untuk kategori pemasaran. Penghargaan diberikan dalam rangka hari koperasi nasional ke-72 oleh menteri Koperasi dan UKM Puspoyoga (11/9/19).

Koperasi yang berbasis komoditas kelapa sawit ini sebelumnya telah menerima penghargaan serupa di tahun 2013 dan 2016. Saat ini KUD Karya Mukti telah memiliki 18 unit usaha. Dalam menjalankan bisnisnya KUD Karya Mukti bermitra dengan PT Sari Aditya Loka 2 dan 3 (SAL) yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk. Kemitraanpun telah dilakukan sejak tahun 90-an hingga saat ini.

“Kami menjadi besar berkat program kemitraan. Kami menjalankan koperasi dengan modal saling percaya antara perusahaan, pengurus dan juga anggota koperasi. Tanpa kepercayaan roda koperasi bisa hancur”. ungkap Ketua KUD Karya Mukti Riswanto.

Pria yang telah mendapat Penghargaan Bakti Koperasi dan UKM Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini kembali mengenang kisah sukses KUD yang dibinanya. Riswanto menuturkan, anggota KUDnya yang merupakan warga transmigran telah mencoba menggarap berbagai komoditas namun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

“tahun 90-an datang PT SAL menawarkan kemitraan perkebunan kelapa sawit melalui program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) untuk transmigrasi mulailah kami membangun ekonomi desa kami. Selain itu dibentuk juga Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) yang menjadi modal para petani setempat (Anggota)”. Jelas Riswanto.

Untuk pengembangan, KUD Karya Mukti mempekerjakan 40 karyawan muda. Semua karyawan adalah anak-anak Desa Karya Harapan Mukti, tempat KUD Karya Mukti berdomisili. Pengembangan SDM menjadi fokus utama, Kini KUD Karya Mukti menjadi tujuan karier bagi masyarakat Desa Karya Harapan Mukti.

“Anak-anak petani ini sekarang sudah pada sekolah di Jawa, bahkan ada yang lulusan S2. Kami ingin anak-anak muda ini menjadi kader agar koperasi ini terus berjalan.” Lanjut Riswanto.

Community Development Area Manager Jambi, PT Astra Agro Lestari, Suharto menyatakan komitmen Astra Agro untuk terus membangun kemitraan dengan petani. Bahkan meningkatkan kemitraan kini menjadi program prioritas 2019 dari perusahaan. Riseanto juga menyampaikan bahwa Kompetensi yang dimikili perusahaan juga berikan kepada petani binaan agar bisa berkembang bersama-sama.

Perusahaan juga terus mendukung pelaksanaan tata kelola perkebunan petani yang memegang prinsip keberlanjutan / sustainable palm oil. Hal ini terbukti dengan telah diberikannya sertifikat ISPO bagi KUD Karya Mukti Tahun 2017 lalu.

Membangun Pondasi Baru Sawit Rakyat dengan PSR

Jakarta - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), bukan hanya mengganti tanaman tua atau salah benih dengan tanaman baru menggunakan benih bersertifikat, tetapi PSR adalah membangun pondasi baru perkebunan kelapa sawit rakyat.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Naional dengan tema “Seriuskah Program Peremajaan Sawit Rakyat?” Peremajaan Sawit Rakyat Solusi Peningkatan Produktivitas Sawit Nasional yang dilaksanakan Media Perkebunan di Jakarta.

Menurut Bungaran Saragih, Menteri Pertanian Periode 2000 – 2004 dengan melakukan PSR maka ada banyak hal yang harus dibenahi bukan semata-mata dengan PSR maka dapat meningkatkan produktivitas tanaman rakyat. Sehingga diharapkan dalam PSR ini jangan hanya berpikir mengganti tanamannya saja tanpa membenahi atau menata perkebunannya. “Maka dalam hal ini jangan berpikir mikro, tapi juga berpikir makro,” tegas Bungaran.

Sehingga, Bungaran berharap dalam program PSR ini pemerintah harus bisa men-design tenaman sawit rakyat ini. Sebab jika pemerintah tidak bisa membenahinya maka masalah ini akan terus menjadi masalah di beberapa tahun kedepan meskipun melakukan peremajaan. “Saya melihat ini salah satu stargi pemerintah untuk mensinkronkan pemerintah pusat dengan daerah. Atas dasar itulah presiden turun langsung ke bawah untuk membenahinya. Ini dilakukan agar sawit rakyat naik kelas dan lebih berkelanjutan,” ucap Bungaran.

Hal senada disampaikan, Antarjo Dikin, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), bahwa dengan melakukan PSR ini maka akan ada banyak hal yang terbenahi. Seperti diketahui, bahwa ditahun 1980-an ada banyak lahan terlantar yang sulit untuk dibudidayakan untuk pertanian. Lalu masuklah tanaman kelapa sawit yang mampu mengubah ekonomi masyarakat.

Bahkan ada masyarakat yang sudah 30 tahun menetap disana dan hidup dari kelapa sawit. “Dari yang tidak punya kendaraan menjadi punya kendaraan sekelas pejabat dan bisa menuaikan ibadah haji semua itu karena kelapa sawit,” kata Antarjo.

Melihat fakta tersebut, Antarjo mengakui, bahwa maka tanaman kelapa sawit telah mengubah ekonomi masyarakat. Bahkan bukan hanya masyarakat yang merasakan dampak ekonominya, tapi juga pemerintah daerah (Pemda) setempat. “Dari kelapa sawit daerah-daerah tumbuh dan berkembang dan itu bukti nyata,” tutur Antarjo.

Namun, Antarjo mengakui dengan berkembangnya kelapa sawit rakyat ini, negara luar dalam hal ini Eropa merasa terganggu. Padahal negara Eropa juga melakukan hal yang sama sebelum menjadi seperti saat ini. “Eropa hanya ingin menang sendiri, padahal dia senidiruntuk menjadi negara maju juga melakukan hal yang sama. Apakah yang dia lakukan pola sustainable?” jelasnya.

Meski begitu, Antarjo mengakui bahwa permintaan akan produk kelapa sawit masih tinggi. Tapi tetap harus dibenahi agar tidak ada lahi celah untuk memojokan produk kelapa sawit. Contoh nyata yaitu cangkang kelapa sawit yang saat ini bisa dijadikan briket sebagai sumber energi, dan itu permintannya cukup tinggi.

Lalu gula dari kelapa sawit dan itu permitaan dari Sumatera Selatan juga lumayan banyak. Hal itu karena gula yang berasal dari kelapa sawit sangat bagus untuk penderita penyakit diabetes.

“Artinya kelapa sawit itu tanaman kehidupan karena semua bagian bisa digunakan, maka tidaklah heran jika kelapa sawit tidak hanya sebagai sumber energi tapi juga untuk pangan,” terangnya.

Gamal Nasir, pengamat perkebunan mengungkapkan membenarkan bahwa pertumbuhan kelapa sawit rakyat cukup pesat karena memang memberikan banyak manfaat, dan itu sudah terbukti.

Bukti nyata, berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2017, bahwa dari luas perkebunan kelapa sawit yang luasnya mencapai 12.307.677 hektar, yang dimiliki oleh rakyat atau petani mencapai 4.756.272 hektar. Angka ini meningkat tajam dibandingkan dengan tahun 1979 atau awal perkebunan rakyat, dimana total luas perkebunan kelapa sawit hanya 260.939 hektar dan yang dimiliki oleh petani seluas 3.125 hektar. Angka tersebut terus meningkat setiap tahunya.

“Artinya program PSR ini sangatlah berat jika tidak dilakukan dengan bersungguh-sungguh,” terang Gamal. Sekedar catatan, bahwa target PSR tahun 2019 ini yaitu 200 ribu hektar, dan data rekomendasi teknis (rekomtek yang sudah masuk per Juni 2019 mencapai sekitar 33 ribu hektar.

Apkasindo Berharap Alokasi Dana Sawit BPDPKS ke Petani Diperbesar

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) berharap terbitnya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 7 tahun 2019 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengembangan, Peremajaan, serta Sarana dan Prasarana Perkebunan Sawit memperbesar alokasi dana sawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ke petani.

Ketua Umum Apkasindo Alpian Arahman, mengatakan, Apkasindo sebagai asosiasi petani kelapa sawit terbesar di Indonesia siap bekerjasama dengan pemerintah dan BPDPKS dalam hal penyajian data real petani kelapa sawit di Indonesia.

"Hal ini dibutuhkan untuk pengambilan kebijakan yang tepat dan strategis untuk petani kelapa sawit di daerah,” kata Alpian dalam Mukernas Apkasindo, Senin (8/7).

Menurut Alpian, dengan Permentan ini, program-program yang banyak membantu petani dan didanai oleh BPDPKS seperti PSR, Pengembangan SDM dan penyediaan sarana prasarana diharapkan akan meningkat, sehingga dana BPDPKS akan lebih banyak dialokasikan utuk petani.

“Pada intinya, kami akan terus memperjuangkan aspirasi petani kelapa sawit agar petani mempunyai posisi tawar yang tinggi dengan mengedepankan prinsip sawit berkelanjutan. Saat ini kami akan membangun asosiasi ini dengan kuat yang dikelola secara transparan, keadlian yang merata ke seluruh petani, jangan sampai bantuan dari pemerintah disalahgunakan,” kata Alpian.

“Apapun yang diprogramkan pemerintah melalui BPDPKS kami sepenuhnya mendukung selama itu dikelola secara transparan dan akuntabel”, ujar Alpian.

Salah satu program utama Apkasindo adalah pembentukan kelembagaan petani yang kuat. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo tingkat provinsi dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Apkasindo tingkat kabupaten akan membentuk koperasi.

DPD Apkasindo di kabupaten diminta untuk lebih meningkatkan kerjasama dengan dinas perkebunan setempat sebab semua pengajuan pengembangan sdm, PSR dan penyediaan sarana prasarana harus diusulkan lewat dinas.

“Keberpihakan pemerintah terhadap petani kelapas sawit sebenarnya sangat bagus. Permentan nomor 7 misalnya mengatur secara rinci semua hal yang menguntungkan petani seperti pengembanagn sdm, PSR dan penyediaan sarana prasarana. Kami harap pelaksanaannya berjalan sampai daerah. Pemda diharapkan proaktif, DPD dan DPW Apkasindo siap bekerjasama ,” katanya.

Mukernas Apkasindo juga menyoroti harga TBS petani yang menunjukkan trend penurunan. “Pemerintah harus memberi perhatian positif soal ini. Baik pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota yang banyak petani sawitnya harus segera bergerak menolong petani supaya hal ini jangan terus berlanjut, “ katanya.

Kondisi ini tentu sangat memberatkan petani. Dengan harga tingkat petani hanya Rp750/kg, bila terus berlanjut maka petani dipastikan tidak akan mampu membeli pupuk. Akhirnya produksi tahun depan semakin rendah dan petani semakin terpuruk.

Sebenarnya pemerintah sudah membuat Permentan no 1 tahun 2018 tentang Penetapan Harga TBS pekebun dan isinya sangat membantu petani. Masalahnya di lapangan banyak dilanggar oleh PKS (Pabrik Kelapa Sawit). “Mereka seenaknya saja memotong harga. Ketentuan yang ada permentan tidak diindahkan karena lemahnya kontrol pemda,” katanya.

Peraturan Menteri Pertanian nomor 01/Permentan/KB.120/1/2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun tujuannya sangat baik. Permentan ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam memberikan perlindungan pada pekebun supaya TBSnya memperoleh harga yang wajar, juga menghindari persaingan yang tidak sehat di antara Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Masalahnya masih banyak wilayah yang belum menerapkannya. “Pemda juga sangat lamban dan kurang serius dalam merespon permentan ini sehingga melemahkan posisi tawar petani sawit,” katanya.

Dengan lambatnya sosialisasi di masing-masing daerah maka berdampak pada kesejahteraan petani kelapa sawit dan semakin terpuruknya harga TBS di beberapa wilayah Indonesia. “Bagi Apkasindo Permentan nomor 1 tahun 2018 sudah sangat tepat sebagai pedoman penetapan harga TBS karena itu harus disosialisasikan secara proaktif dengan melibatkan seluruh stakeholder,” katanya.

Seluruh pihak baik pemerintah, perusahaan dan petani harus patuh dan tunduk terhadap Permentan ini. Apkasindo sendiri akan secara proaktif mensosialisasikan permentan ini ketingkat petani, menjalankannya dan mengawal penerapannya diseluruh wilayah Indonesia.

“Kita akan berusaha meningkatkan kemitraan antara petani, pengusaha dan pemerintah untuk mewujudkan harga TBS yang ideal,”terangnya.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id