Menu
SAJIAN ISI

Kolom - Majalah HORTUS Archipelago

Mentan Lepas Ekspor Hortikultura dan Perkebunan serta Bantuan Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali memperlihatkan kerja nyata sektor pertanian. Hari ini, Rabu (20/3) Kunjungan Kerja ke Kabupaten Cianjur dengan melepas ekspor bunga krisan 14 juta stek ke Jepang dan teh hitam 60 ton ke Taiwan, Malaysia, Uzbekistan, Turkmenistan dan Tazkistan.

Amran juga melepas bantuan ke petani Cianjur sebanyak 58 truk yang terdiri dari benih padi, jagung pakan, jagung manis, kedelai, bawang putih, kangkung dan cabai rawit, bibit manggis, alpukat, kopi, bibit ayam (DOC) plus kandang, obat-obatan dan pakan, bantuan juga anak ayam serta kambing. Selain itu, bantuan berupa green house dan alat mesin pertanian meliputi power tresher, cultivator, traktor dan motor roda tiga.

"Kami diperintahkan Bapak Presiden Jokowi ke Cianjur. Lihat pertanian dan petani Cianjur karena 80 persen bergerak di sektor pertanian, sehingga dapat untuk mengetahui persis apa masih perlu dibantu. Hari ini kami bawa bantuan terbesar sepanjang sejarah, ada ayam 600 ribu ekor nilainya Rp 45 miliar, kopi 200 ribu batang, kemudian bantuan bibit, traktor dan lainnya. Bantuan langsung kami serahkan semuanya ke petani dilokasi acara ini," demikian dikatakan Mentan Amran acara Apresiasi dan sinkronisasi Program Kementerian Pertanian 2019 di lapangan Binaraga Ciherang, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet.

Hadir Bupati Cianjur, Herman Suherman, Dirjen Hortikultura, Suwandi, Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiyono, Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat, Hendy Jatnika dan para penyuluh.

Lebih lanjut Amran menuturkan bantuan sebelum pemerintahan ini untuk Jawa Barat hanya Rp 1 triliun, namun di tahun pertama pemerintahan Jokowi naik menjadi Rp 2 triliun. Kemudian, di era pemerintahan Jokowi-JK, tidak hanya bantuan terbanyak diberikan kepada petani, tapi juga jumlah penyuluh pertanian terbanyak diangkat pegawai. Khusus santri, dalam sejarah Indonesia, pertama di era Presiden Jokowi santri bisa mengakses ke pertanian mendapatkan bantuan.

"Santri adalah genetasi kita, generasi pelanjut dan berakhlak mulia. Kami siapkan bantuan ayam khusus santri seluruh Indonesia 1 juta ekor. Aturan kami rubah agar santri mudah mendapatkan bantuan pertanian. Ini perintah Bapak Presiden Jokowi," tuturnya.

Amran menekankan pemerintahan Jokowi-JK melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah merancang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045. Hal ini pasti bisa diwujudkan karena potensi pertanian yang sangat besar dan memiliki semangat kerja keras sehingga ke depan Indonesia optimis menjadi negara super power.

"Sekarang kita sudah ekspor. Nilai ekspor terhitung 2014 hingga 2018 naik 29 persen nilainya mencapai Rp 500 triliun, kemudian sudah swasembada. Kita sudah ekspor jagung," terangnya.

Amran pun menyebutkan bukti nyata komitmen pemerintah memajukan sektor pertanian dan mengedepankan keberpihakan kepada petani yakni dari keseriusan dalam memberantas mafia pangan. Sebab, dulu sektor pertanian banyak dikuasai mafia.

"Presiden Jokowi perintah jangan beri ruang mafia. Sampai hari ini ada 482 mafia pangan kami proses hukum dan sebanyak 409 masuk penjara. Kami pertaruhkan semuanya. Ini atas perintah Bapak Presiden demi negeri yang kita cintai," sebutnya.

Terkait bantuan kopi yang diberikan ke petani, Amran mengatakan bibit kopi tersebut dipastikan meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab produktivitasnya mencapai 3 sampai 3,5 ton per hektar per tahun.

"Sebelumnya petani hanya tanam bibit kopi asal-asalnya produksinya hanya 0,7 ton per hektar per tahun. Jadi terjadi kenaikan yang luar biasa. Bibit kopi ini dalam waktu 3 tahun sudah memberikan hasil dan dinikmati sampai 25 tahun," ujarnya.

Bupati Cianjur, Herman Suherman mengaparesiasi dan mendukungan penuh kebijakan dan program pertanian yang digagas Kementan untuk memajukan pertanian Kabupaten Cianjur. Hingga saat ini, bantuan pertanian ke Kabupaten Cianjur jumlahnya sangat banyak sehingga tidak terhitung, sehingga Cianjur terus menjadi salah satu sentra produksi pertanian.

"Jadi kami yakin, kunjungan kerja Bapak Menteri ini bakal memajukan lagi sektor pertanian kami," ujarnya.

Dirjen Hortikultura, Suwandi menambahkan capaian ekspor komoditas hortikultura 2018 sangat membanggakan. Melansir data BPS, total ekspornya sebesar 435.328 ton senilai Rp 6,27 triliun.

"Khusus ekspor bunga krisan 2018 sebesar 59,1 ton dan senilai Rp 11,7 miliar dan tanaman hias 2018 sebesar 4.675 ton," ujarnya.

"Selain Jepang, tujuan ekspor krisan selama ini ke Kuwait, Malaysia dan Singapura," sambung dia.

Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiono menuturkan Kementan saat ini tengah fokus meningkatkan produksi dan nilai tambah seluruh komoditas perkebunan. Kementan memiliki program Benih Unggul (BUN) 500 dan membangun logistik benih.

"500 yang dimaksud adalah 500 juta batang selama 6 tahun. Itu artinya dari yang eksisten saat ini kami melipatgandakan 3 kali lipat karena rata-rata saat ini kita baru mampu menyediakan benih sekitar 30 juta batang untuk semua komoditas seperti kopi, kakao, karet, sawit, tebu, cengkeh, sama lada," jelasnya.

"Kalo ini 500 juta batang 6 tahun artinya tiap tahun kurang lebih 85 hingga 90 juta batang, artinya kan 3 kali lipat," pinta Kasdi.

Menurut Kasdi, logistik benih yang dimaksud adalah jumlahnya masif, kemudian kualitasnya bagus dan hingga distribusinya menjadi efisien. Sebab, jika sekarang misalnya kopi, kakao harus beli dari Jember dibawa ke Papua tentu membutuhkan biaya yang tinggi.

"Kita nanti di setiap sentra-sentra itu kita bangun KBI (Kebun Bibit Indo -red), kita bangun entrance-entance baru itu, kemudian KBD yaitu Kebun Bibit Desa atau Kebun Bibit Dasar, kemudian link dengan penangkar-penangkar lokal.

Dengan demikian, tegas Kasdi, pembibitan dipusatkan pada daerah pengembangan yaitu daerah yang bisa perluasan, membentuk kawasan baru, peremajaan dan bisa dilakukan rehabilitasi. Artinya kawasan itu bagi penyedia benih sebagai pasar langsung, sebab distribusinya menjadi deket dan kalau harga bibitnya murah dipastikan laku.

“Untuk sektor hirilirnya prinsipnya adalah peningkatan daya saing dan nilai tambah sehingga kita ingin supaya pendapatan petani itu tdak hanya didapat dari hulu. Hilirnya itu banyak sekali dari turunan produk yang sangat ekonomis nilanya dan itu akan meningkatkan kesejahteraan petani lebih cepat," pungkasnya.

Selengkapnya

Mentan Lepas Ekspor Hortikultura dan Perkebunan serta Bantuan Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali memperlihatkan kerja nyata sektor pertanian. Hari ini, Rabu (20/3) Kunjungan Kerja ke Kabupaten Cianjur dengan melepas ekspor bunga krisan 14 juta stek ke Jepang dan teh hitam 60 ton ke Taiwan, Malaysia, Uzbekistan, Turkmenistan dan Tazkistan.

Amran juga melepas bantuan ke petani Cianjur sebanyak 58 truk yang terdiri dari benih padi, jagung pakan, jagung manis, kedelai, bawang putih, kangkung dan cabai rawit, bibit manggis, alpukat, kopi, bibit ayam (DOC) plus kandang, obat-obatan dan pakan, bantuan juga anak ayam serta kambing. Selain itu, bantuan berupa green house dan alat mesin pertanian meliputi power tresher, cultivator, traktor dan motor roda tiga.

"Kami diperintahkan Bapak Presiden Jokowi ke Cianjur. Lihat pertanian dan petani Cianjur karena 80 persen bergerak di sektor pertanian, sehingga dapat untuk mengetahui persis apa masih perlu dibantu. Hari ini kami bawa bantuan terbesar sepanjang sejarah, ada ayam 600 ribu ekor nilainya Rp 45 miliar, kopi 200 ribu batang, kemudian bantuan bibit, traktor dan lainnya. Bantuan langsung kami serahkan semuanya ke petani dilokasi acara ini," demikian dikatakan Mentan Amran acara Apresiasi dan sinkronisasi Program Kementerian Pertanian 2019 di lapangan Binaraga Ciherang, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet.

Hadir Bupati Cianjur, Herman Suherman, Dirjen Hortikultura, Suwandi, Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiyono, Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat, Hendy Jatnika dan para penyuluh.

Lebih lanjut Amran menuturkan bantuan sebelum pemerintahan ini untuk Jawa Barat hanya Rp 1 triliun, namun di tahun pertama pemerintahan Jokowi naik menjadi Rp 2 triliun. Kemudian, di era pemerintahan Jokowi-JK, tidak hanya bantuan terbanyak diberikan kepada petani, tapi juga jumlah penyuluh pertanian terbanyak diangkat pegawai. Khusus santri, dalam sejarah Indonesia, pertama di era Presiden Jokowi santri bisa mengakses ke pertanian mendapatkan bantuan.

"Santri adalah genetasi kita, generasi pelanjut dan berakhlak mulia. Kami siapkan bantuan ayam khusus santri seluruh Indonesia 1 juta ekor. Aturan kami rubah agar santri mudah mendapatkan bantuan pertanian. Ini perintah Bapak Presiden Jokowi," tuturnya.

Amran menekankan pemerintahan Jokowi-JK melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah merancang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045. Hal ini pasti bisa diwujudkan karena potensi pertanian yang sangat besar dan memiliki semangat kerja keras sehingga ke depan Indonesia optimis menjadi negara super power.

"Sekarang kita sudah ekspor. Nilai ekspor terhitung 2014 hingga 2018 naik 29 persen nilainya mencapai Rp 500 triliun, kemudian sudah swasembada. Kita sudah ekspor jagung," terangnya.

Amran pun menyebutkan bukti nyata komitmen pemerintah memajukan sektor pertanian dan mengedepankan keberpihakan kepada petani yakni dari keseriusan dalam memberantas mafia pangan. Sebab, dulu sektor pertanian banyak dikuasai mafia.

"Presiden Jokowi perintah jangan beri ruang mafia. Sampai hari ini ada 482 mafia pangan kami proses hukum dan sebanyak 409 masuk penjara. Kami pertaruhkan semuanya. Ini atas perintah Bapak Presiden demi negeri yang kita cintai," sebutnya.

Terkait bantuan kopi yang diberikan ke petani, Amran mengatakan bibit kopi tersebut dipastikan meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab produktivitasnya mencapai 3 sampai 3,5 ton per hektar per tahun.

"Sebelumnya petani hanya tanam bibit kopi asal-asalnya produksinya hanya 0,7 ton per hektar per tahun. Jadi terjadi kenaikan yang luar biasa. Bibit kopi ini dalam waktu 3 tahun sudah memberikan hasil dan dinikmati sampai 25 tahun," ujarnya.

Bupati Cianjur, Herman Suherman mengaparesiasi dan mendukungan penuh kebijakan dan program pertanian yang digagas Kementan untuk memajukan pertanian Kabupaten Cianjur. Hingga saat ini, bantuan pertanian ke Kabupaten Cianjur jumlahnya sangat banyak sehingga tidak terhitung, sehingga Cianjur terus menjadi salah satu sentra produksi pertanian.

"Jadi kami yakin, kunjungan kerja Bapak Menteri ini bakal memajukan lagi sektor pertanian kami," ujarnya.

Dirjen Hortikultura, Suwandi menambahkan capaian ekspor komoditas hortikultura 2018 sangat membanggakan. Melansir data BPS, total ekspornya sebesar 435.328 ton senilai Rp 6,27 triliun.

"Khusus ekspor bunga krisan 2018 sebesar 59,1 ton dan senilai Rp 11,7 miliar dan tanaman hias 2018 sebesar 4.675 ton," ujarnya.

"Selain Jepang, tujuan ekspor krisan selama ini ke Kuwait, Malaysia dan Singapura," sambung dia.

Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiono menuturkan Kementan saat ini tengah fokus meningkatkan produksi dan nilai tambah seluruh komoditas perkebunan. Kementan memiliki program Benih Unggul (BUN) 500 dan membangun logistik benih.

"500 yang dimaksud adalah 500 juta batang selama 6 tahun. Itu artinya dari yang eksisten saat ini kami melipatgandakan 3 kali lipat karena rata-rata saat ini kita baru mampu menyediakan benih sekitar 30 juta batang untuk semua komoditas seperti kopi, kakao, karet, sawit, tebu, cengkeh, sama lada," jelasnya.

"Kalo ini 500 juta batang 6 tahun artinya tiap tahun kurang lebih 85 hingga 90 juta batang, artinya kan 3 kali lipat," pinta Kasdi.

Menurut Kasdi, logistik benih yang dimaksud adalah jumlahnya masif, kemudian kualitasnya bagus dan hingga distribusinya menjadi efisien. Sebab, jika sekarang misalnya kopi, kakao harus beli dari Jember dibawa ke Papua tentu membutuhkan biaya yang tinggi.

"Kita nanti di setiap sentra-sentra itu kita bangun KBI (Kebun Bibit Indo -red), kita bangun entrance-entance baru itu, kemudian KBD yaitu Kebun Bibit Desa atau Kebun Bibit Dasar, kemudian link dengan penangkar-penangkar lokal.

Dengan demikian, tegas Kasdi, pembibitan dipusatkan pada daerah pengembangan yaitu daerah yang bisa perluasan, membentuk kawasan baru, peremajaan dan bisa dilakukan rehabilitasi. Artinya kawasan itu bagi penyedia benih sebagai pasar langsung, sebab distribusinya menjadi deket dan kalau harga bibitnya murah dipastikan laku.

“Untuk sektor hirilirnya prinsipnya adalah peningkatan daya saing dan nilai tambah sehingga kita ingin supaya pendapatan petani itu tdak hanya didapat dari hulu. Hilirnya itu banyak sekali dari turunan produk yang sangat ekonomis nilanya dan itu akan meningkatkan kesejahteraan petani lebih cepat," pungkasnya.

Selengkapnya

MENRISTEKDIKTI Resmikan Perpustakaan Instiper

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir meresmikan gedung perpustakaan Instiper. Gedung megah berlantai 3 dengan luas total 3.215 m2 ini diperuntukkan bagi sivitas akademika INSTIPER maupun masyarakat umum dalam mencari buku, artikel, dan jurnal ilmiah.

Peresmian Gedung perpustakaan Instiper ditandai dengan pemotongan buntal dan penandatangan prasasti oleh Menristekdikti, sekaligus meninjau gallery perkebunan yang sedang dikembangkan Instiper.

Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi mengatakan, Instiper terus mengembangan gallery perkebunan Indonesia sebagai pendukung dalam menyiapkan model pendidikan tinggi 4.0 sekaligus pengembangan Politeknik Perkebunan Stiper Yogyakarta, yaitu program pendidikan sarjana terapan bidang perkebunan dan industri serta bisnisnya. Untuk awal pendirian direncanakan ada 3 jurusan yaitu: Agroteknologi Kelapa Sawit, Teknologi Kelapa Sawit, dan Agroindustri Kopi.

Selain mengembangkan Gallery Perkebunan pada saat ini INSTIPER juga menyiapkan Model Pendidikan Tinggi 4.0 dan juga rencana pengembangan pendidikan tinggi yang baru yaitu Politeknik Perkebunan Stiper Yogyakarta, yaitu program pendidikan sarjana terapan bidang perkebunan dan industri serta bisnisnya.

"Untuk awal pendirian direncanakan ada 3 jurusan yaitu: Agroteknologi Kelapa Sawit, Teknologi Kelapa Sawit, dan Agroindustri Kopi. Selanjutnya akan ditambah untuk komoditas teh, kakao, dan gula,” kata Purwadi di Yogyakarta, 18/3 2019.

Purwadi menambahkan, pendidikan ini memiliki ciri khas INSTIPER dengan platform yang baru baik dalam model pendidikan dan proses pendidikannya seperti kurikulum khas INSTIPER dan desain pembelajaran yang juga khas.

"Semua ini disiapkan INSTIER untuk menyongsong era baru model pendidikan kompetensi dengan memanfaatkan teknologi terkini sesuai dengan kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan di era industry 4.0 serta dirancang untuk Mahasiswa generasi milenial. Pada awal pembukaannya program pendidikan ini akan diisi mahasiswa beasiswa dari perusahaan," jelasnya.

Menurut Purwadi, pada model pendidikan yang tengah dikembangkan INSTIPER ini, mahasiswa akan menjalani kurikulum blok dan system ME-ME yang tidak mengenal istilah DO (drop out). Mahasiswa dapat mengambil mata kuliah di suatu blok dan pengambilan blok-nya pun tidak harus urut. Mahasiswa yang mengambil suatu blok akan mendapatkan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai bukti bahwa dirinya telah lulus pada blok yang diambilnya tersebut.

"Mahasiswa tidak harus menjalani pendidikan sepanjang waktu, bias saja mahasiswa yang telah lulus kompetensi tertentu kemudian melanjutkan bekerja, dan jika ingin melanjutkan kuliah lagi bisa langsung mengambil blok lain yang belum ditempuhnya," urainya.

Untuk memudahkan mahasiswa yang mengambil pendidikan ini sambil tetap bekerja, maka model pendidikan ini akan menggunakan model pembelajaran online (daring) menggunakan platform Google Enterprise for Education dengan bekerjasama dengan Google Indonesia. "Mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan semua blok akan dinyatakan lulus dan dapat memperoleh Ijazah Sarjana Terapan," kata Purwadi.

Betti Yuniasih, Humas INSTIPER menambahkan, selain meresmikan gedung perpustakaan, Menristekdikti beserta rombongan berkesempatan untuk meninjau Gallery Perkebunan yang sedang dikembangkan INSTIPER sebagai pusat informasi dan pengetahuan tentang Perkebunan di Indonesia.

Menurut Betti, lantai basement Gedung Perpustakaan pada saat ini dikembangkan sebagai Gallery Perkebunan. Gallery Perkebunan tersebut nantinya akan menjadi salah satu pusat informasi dan pengetahuan tentang budidaya, komoditas, dan pengembangan teknologi di bidang perkebunan di Indonesia.

"Terdapat berbagai komoditas perkebunan yang nantinya akan ditampilkan dalam Gallery Perkebunan tersebut seperti: kelapa sawit, kopi, kakao, karet, tebu, the, tembakau, cengkeh, lada, dan komoditas perkebunan lainnya. Hal ini dilakukan INSTIPER sebagai bukti totalitas INSTIPER yang memilih core competency pendidikan di bidang perkebunan dan kehutanan. Jika masyarakat Indonesia ingin mempelajari tentang perkebunan Indonesia cukup berkunjung ke INSTIPER Yogyakarta,” pungkasnya.

Menristekdikti buka Munas XI FL2MI
Musyawarah Nasional XI Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (Munas XI FL2MI) kali ini mengambil tema “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Era Globalisasi untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Bermartabat”.

FL2MI merupkan wadah pemersatu Lembaga Legislatif Mahasiswa seluruh Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia yang memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan lembaga legislative mahasiswa di Indonesia. Forum yang berasaskan Pancasila ini bertujuan supaya terbina rasa kekeluargaan antara lembaga legislatif mahasiswa yang akademis dan mampu berkarya untuk pengabdian yang berketuhanan, bertanggungjawab, atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Dalam sambutannya, Rektor INSTIPER, Dr. Purwadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa yang telah hadir dalam acara Munas XI FL2MI. Rektor juga menyampaikan pesan kepada para mahasiswa “INSTIPER sangat mendukung kegiatan positif mahasiswa, seperti Musyawarah Nasional Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia ini.

Rektor menambahkan, melalui kegiatan berorganisasi mahasiswa dapat mengembangkan pemikiran kritis dalam batasan masih berlandaskan Pancasila. Mahasiswa jangan sampai mengikuti kegiatan yang radikal dan harus selalu menjaga kebhinekaan dan merawat rasa kebangsaan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Prof. H. Mohammad Nasir, Ph.D, Ak., berkesempatan membuka acara Munas XI FL2MI ini.

Moh. Nasir dalam paparannya menyampaikan, “Mahasiswa harus peka terhadap perubahan terutama di era revolusi industry 4.0 dimana lingkungan berubah dengan cepat. Mahasiswa juga harus cepat berubah dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Anak muda-lah yang harusnya lebih cepat merespon perubahan, karena mahasiswa merupakan salah satu agen perubahan yang diharapkan membawa perubahan yang positif dalam rangka mencerdaskan bangsa. Di tangan para pemuda dan pemudi ini, Bangsa Indonesia akan dibawa menuju Indonesia Emas yang bermartabat dengan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila".

Selengkapnya

Sawit Bukanlah Penyebab Utama Deforestasi di Dunia

Sebuah studi penelitian yang dirilis International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan larangan terhadap kelapa sawit (sawit) hanya memindahkan kerusakan hutan atau deforestasi dari Indonesia ke Amerika Selatan.

IUCN bahkan memprediksi jika sawit dilarang, maka produsen akan mencari sumber minyak nabati lain seperti minyak kedelai yang berarti merupakan ancaman bagi kelangsungan hutan di Amerika Selatan, terutama Brazil dan Argentina yang selama ini merupakan negara produsen minyak kedelai terbesar di dunia.

Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan, tentu jawabannya hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya?

Mau tidak mau dunia harus mengakui, ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, risikonya kebutuhan akan lahan kian bertambah sangat besar dan akan menghabiskan hutan tropis di Amerika selatan.

United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata konsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya.

Peningkatan produksi minyak kedelai, khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Selatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.
Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 5 ton minyak/hektar.

Pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).

Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.

Untuk mengetahui lebih jelas kontribusi sawit terhadap pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia, wartawan HORTUS Archipelago, Suharno mewawancarai Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) di Jakarta, baru-baru ini.

Berikut Petikannya:

Bagaimana menjawab tuduhan bahwa sawit sebagai penyebab deforestasi?
Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan, tentu jawabannya hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainya?

Mau tidak mau dunia harus mengakui, ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, risikonya kebutuhan akan lahan kian bertambah sangat besar dan akan menghabiskan hutan tropis di Amerika Selatan.

Sebenarnya berapa besar kebutuhan minyak nabati dunia?
Seberapa besar kebutuhan minyak nabati dunia, kita bisa merujuk pada data United Nations Development Programs (UNDP) yang memproyeksikan bahwa populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata komsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya.

Dalam 5 tahun terakhir (2013-2017), terdapat pertumbuhan permintaan +/-7 juta MT. Pada tahun 2017 konsumsi minyak nabati dunia mencapai 202 juta ton, dimana minyak kedelai dan sawit adalah supplier utama kebutuhan minyak nabati dunia.

Dengan peningkatan kebutuhan yang sedemikian besar, dari mana saja pemenuhannya?
Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Selatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 5 ton minyak/hektar.

Pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).

Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia daripada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.

Sebenarnya berapa besar share sawit terhadap pemenuhan minyak nabati dunia?
Saat ini saja, share minyak sawit 38% dari total kebutuhan minyak nabati dunia dan diperkirakan pada 2050 nanti share minyak sawit akan mencapai 55 %.

Untuk itu, dunia sadar akan potensi besar sawit. Kalau ada yang salah dalam pengelolaannya tinggal diperbaiki, bukan sawitnya yang disalahkan sebagai penyebab deforestasi. Mestinya dunia juga melihat penyebab deforestasi terbesar di dunia adalah peternakan.

Seberapa besar luas lahan kedelai saat ini?
Berdasarkan data USDA, selama tahun 2013-2017 tanaman kedelai menggunakan lahan paling luas dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya di dunia. Pada tahun 2017, total luas lahan tanaman minyak nabati di dunia mencapai 276,6 juta Hektar. Luasan tersebut didominasi oleh tanaman kedelai sebesar 45%, diikuti oleh tanaman minyak lainnya sebesar 25%, rapeseed 13%, bunga matahari 9% dan kelapa sawit 8%.

Jika dilihat dari produksi minyak nabati dunia tahun 2013-2017, dengan luas lahan paling kecil, kelapa sawit menjadi penghasil minyak paling tinggi. Pada tahun 2017, produksi kelapa sawit mencapai 69,8 juta ton (34%), baru kemudian diikuti oleh minyak kedelai sebesar 56,2 juta ton (27%).

Pada tahun 2017, pangsa produksi minyak nabati diisi sebanyak 34% oleh minyak sawit, 27% oleh minyak kedelai, 14% oleh minyak rapeseed dan 9% oleh minyak biji bunga matahari. Pangsa minyak kelapa sawit (CPO) meningkat dari sekitar 8 persen (1980) menjadi sekitar 30 persen (2015) atau meningkat hampir empat kali lipat.

Sedangkan pangsa minyak kedelai turun dari 53% menjadi sekitar 30%. Kondisi ini menunjukkan betapa kelapa sawit telah menjadi minyak nabati primadona dunia. Produktivitas minyak sawit yang lebih tinggi dan biaya produksi minyak sawit yang lebih rendah menyebabkan harga minyak sawit konsisten lebih rendah dibandingkan minyak nabati lainnya. Harga minyak sawit yang lebih murah tersebut dan ketersediaannya di pasar internasional menyebabkan meningkatnya konsumsi minyak sawit dunia.
Apa yang perlu kita lakukan?
Ya, sebenarnya tugas kita semuanya, terutama pemerintah untuk memberi pengertian pada dunia, bahwa Indonesia sudah memiliki perencanaan yang matang untuk memanfaatkan lahan, baik hutan maupun non hutan yang dimilikinya. Negara lain tidak boleh mencampurinya, sebab mereka sudah melakukan terlebih dahulu.

Kenapa mereka kok ribut. AS menebang ratusan juta hektar untuk peternakan dan kedelai, dunia diam saja. Sementara untuk sawit yang hanya kurang dari 20 juta di seluruh dunia diributkan, perlu RSPO dan sebagainya.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan UNDP, aktivitas peternakan sapi justru menyebabkan deforestasi hutan dan lahan lebih pesat di dunia. Peternakan sapi membutuhkan lahan seluas 1 hektar untuk melakukan budidaya ternak sapi. Aktivitas ternak sapi juga menyebabkan emisi gas karbon tinggi yang berasal dari kotorannya.

Tingginya emisi karbon yang dihasilkan, dan luasnya penggunaan lahan bagi peternakan sapi, menjadi hal utama akan penyebab deforestasi. Karena itulah, dapat disimpulkan secara ringkas bahwa perkebunan kelapa sawit bukan penyebab deforestasi, melainkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang hidup di daerah pelosok.

Dunia tak perlu meributkan pemanfaatan hutan di Indonesia. Semua negara di dunia membutuhkan lahannya untuk kemakmuran. Indonesia memiliki kedaulatan, AS, Eropa dan Australia sudah lebih dulu membuka hutannya, sementara Indonesia baru membuka hutan setelah kemerdekaannya.

Kalau demikian, apa prediksi anda soal kebutuhan minyak nabati?
Saya perkirakan, tahun 2050 dunia akan balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya. Hal ini karena sawit mampu memenuhi kebutuhan untuk pangan dan energi dunia.

Dunia mestinya bersyukur dengan adanya tanaman sawit. Karena sawit berkontribusi besar dalam pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Betapa tidak, komoditas ini awalnya adalah tumbuhan hutan, perakarannya kokoh mampu menahan tanah dari erosi. Sementara dahan kanopinya mampu melindungi muka bumi dari panasnya sinar matahari, terpaan derasnya air hujan dan hempasan angin.

Atas dasar itu, maka tidaklah heran jika Malaysia mengkategorikan sawit sebagai tanaman hutan. Hebatnya lagi kelapa sawit adalah sumber energi nabati paling efektif dan efisien serta lebih ramah lingkungan bila dibanding komoditas sumber energi lainnya.

Mohon dijelaskan seperti apa sawit itu, apa bedanya dengan tanaman hutan?
Tanaman sawit sama dengan tanaman pohon hutan, mengingat pada dasarnya dalam proses pertumbuhannya menyerap dan menyimpan karbon. Oleh beberapa institusi dan tenaga ahli, tanaman sawit sudah dikategorikan sebagai tanaman hutan termasuk ahli spasial dari University of Maryland, Amerika Serikat.

Malaysia bahkan memasukkan sawit dalam kategori tanaman hutan. Mereka dengan kebijakan yang solid, berhasil menciptakan iklim yang kondusif dalam pengembangan perkebunan tanpa harus disibukkan dengan kecaman dari lembaga swadaya masyarakat, baik dalam maupun luar negeri.
Harus diakui bahwa tanaman sawit yang monokultur tidak dapat menandingi nilai konservasi sebagaimana yang dimiliki hutan tropikal basah yang berada di wilayah Indonesia. Akan tetapi dalam luasan terbatas, tanaman sawit dengan memanfaatkan lahan kosong (lahan hutan tidak produktif), selain memiliki nilai ekonomis, juga memiliki nilai perlindungan lahan jauh lebih baik dibanding dengan tanaman minyak nabati sub tropis seperti kedelai, rapeseed, sunflower dan lainnya.

Kondisi ini sesuai dengan data Kementerian Kehutanan, dari 130,68 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (atau 72% dari luas daratan Indonesia 181,16 juta hektar), seluas 41 juta hektar berupa penutupan non hutan.

Bagaimana perbandingan luas lahan pertanian Indonesia dengan negara lain?
Data menunjukkan bahwa luas lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia, jauh lebih kecil dibanding secara proporsional luas daratan dan jumlah penduduk negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Brazilia, Eropa, China dan lainnya. Apalagi kalau memperhitungkan tingkat pendapatan per kapita penduduk, dimana jumlah penduduk Indonesia yang berada pada posisi terbesar ke-4 dunia.

Sebagai negara yang dahulu bercorak agraris, pada kenyataannya luas lahan pertanian kita terbilang kecil jika dibandingkan jumlah penduduk. Dalam laporan Bank Dunia, luas lahan pertanian Indonesia hanya 29,59% dari total luas areal daratan. Jumlah lahan pertanian Indonesia lebih kecil dari total luas daratan dibandingkan negara lain seperti Inggris 73%, Jerman 48,5%, Italia 45,5%, Polandia 53%, Portugal 37,8% Belanda 57%, Perancis 53%, Spanyol 56% dan Amerika Serikat 45%. ***

Selengkapnya

Ke Depan Dunia Akan Tergantung pada Sawit

Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan. Tentu hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainya.

Menurut Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin), ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

"Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, kebutuhan akan lahan sangat besar. Deforestasi akan menghabiskan hutan tropis di Amerika Selatan," kata Teguh di kantornya kawasan Kuningan Jakarta, baru baru ini.

Menurut Teguh, United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata komsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

"Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya," kata dia.

Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Sealatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

"Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivias 5 ton minyak/hektar," jelas Teguh.

Ditambahkannya, pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).
Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. "Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan," tegas Teguh.

Bahkan dia memperkirakan, tahun 2050 dunia akan balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya. Hal ini karena sawit mampu memenui kebutuhan untuk pangan dan energi untuk dunia.

"Bisa jadi nanti dunia balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia," jelasnya.

Saat ini saja, share minyak sawit 38 % dari total kebutuhan minyak nabati dunia dan diperkirakan pada 2050 nanati share minyak sawit akan mencapai 55 %.

Teguh berharap, dunia sadar akan potensi besar sawit. Kalau ada yang salah dalam pengelolaannya tinggal diperbaiki, bukan sawitnya yang disalahkan sebagai penyebab deforestasi. Mestinya dunia sadar penyebab deforestasi terbesar di dunia adalah peternakan.

Untuk itu, pemerintah perlu memberi pengertian pada dunia, bahwa Indonesia sudah memiliki perencanaan yang matang untuk memanfaatkan lahan, baik hutan maupun non hutan yang dimilikinya. Negara lain tidak boleh mencampurinya, sebab mereka sudah melakukan terlebih dahulu.

"Kenapa mereka kok ribut. AS menebang ratusan juta hektar untuk peternakan dan kedelai dunia diam saja. Sementara untuk sawit yang hanya kurang dari 20 juta di seluruh dunia ribut, perlu RSPO dan sebagainya," kata dia.

Teguh berpendapat, mestinya dunia tak perlu meributkan pemanfaatan hutan di Indonesia. Semua negara di dunia membutuhkan lahannya untuk kemakmuran. Indonesia memiliki kedaulatan, AS, Eropa dan Australia sudah lebih dulu membuka hutannya, sementara Indonesia baru membuka hutan setelah kemerdekaannya.

Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang menambahkan, dunia mestinya bersyukur dengan adanya tanaman sawit. Karena sawit berkontribusi besar dalam pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Betapa tidak, komoditas ini awalnya adalah tumbuhan hutan, perakarannya kokoh mampu menahan tanah dari erosi. Sementara dahan kanopinya mampu melindungi muka bumi dari panasnya sinar matahari, terpaan derasnya air hujan dan hempasan angin.

"Atas dasar itu, maka tidaklah heran jika Malaysia mengategorikan sebagai tanaman hutan. Hebatnya lagi kelapa sawit adalah sumber energi nabati paling efektif dan efisien serta lebih ramah lingkungan bila dibandingkan komoditas sumber energi lainnya,” jelas Bambang.

Untuk itu, Bambang berharap pada ilmuwan, pengusaha, masyarakat luas dan siapapun, untuk memberikan dukungan agar kelapa sawit Indonesia tetap nyiur melambai untuk kejayaan bangsa dan negara serta sumber energi masa depan bagi semua.

Hasil studi oleh Doug Boucher, anggota Union of Concerned Scientists (UCS) dan penasihat Climate and Energy, bahkan mengakui bahwa perkebunan kelapa sawit selama ini menjadi korban salah sasaran oleh masyarakat dunia, terutama Barat, yang dituding sebagai pemicu deforestasi.
“Faktanya, berdasarkan studi yang dilakukan Climate Focus 2016, pemicu terbesar deforestasi adalah industri pengolahan daging. Yang kedua adalah kedelai, sementara produk sawit dan kayu hanya sedikit berperan dalam kondisi hilangnya hutan, atau hanya sekitar sepersepuluh dari industri daging,” tambahnya. ***SH

Selengkapnya

2050, Mayoritas Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Dipasok dari Sawit

United States Department of Agriculture (USDA) atau Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) memprediksi pada tahun 2050 dunia akan membutuhkan 670 juta ton. Dari jumlah itu, 55,9 % kebutuhan minyak nabati dunia akan dipenuhi oleh sawit. Sementara sisanya berasal dari tanaman minyak nabati lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, rape seed dan yang lainnya.

Tingginya peran sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia dapat di mengerti, sebab rata-rata produktivitasnya sangat tinggi 4 ton per hektare per tahun, unggul jauh dibandingkan produktivitas kedelai 0,5 ton per hektar atau rape seed yang 0,9 ton per hektar per tahun.

Dengan produktivitasnya yang tinggi, sawit mampu menekan deforestasi di dunia.

Dengan produktifitas yang tinggi, USDA bahkan memprediksi sawit akan mampu memenuhi 55,9% kebutuhan minyak nabati dunia. Tentu ini peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan sawit.

Menurut Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin), Teguh Patriawan, peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan produksi dan produktivitas sawit melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

"Peluang ini harus dimanfaatkan oleh Indonesia, sebab sawit merupakan komoditas yang berkelanjutan, berbeda dengan hasil tambang dan kayu yang akan habis pada masanya," kata Teguh di Jakarta, baru-baru ini.

Apalagi, negara-negara konsumen minyak sawit terbesar seperti India, China, Pakistan, juga Uni Eropa, jelas tidak mungkin bisa menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya. “Maka dari itu dunia tidak mungkin hidup tanpa minyak sawit,” tegasnya.

Ditambahkan, Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit memiliki peluang yang lebih baik untuk mengambil porsi terbesar sebagai pemasok kebutuhan minyak nabati dunia ke depan.

“Produktivitas dan efisiensi, ciri khas utama sawit, menjadi syarat utama dalam rangka memperbesar kontribusi Indonesia di pasar sawit global,” ujarnya.

Namun, untuk merealisasikan sebagai pemasok utama sawit ke pasar dunia maka Indonesia perlu memperbaiki daya saing ekspor minyak sawit di pasar dunia. Daya saing sangatlah penting dalam rangka berkompetisi dengan negara produsen CPO lainnya. Di Indonesia, persoalan daya saing sangat dipengaruhi biaya logistik, infrastruktur, dan social security cost.

Apalagi, lanjut Teguh, belakangan ini sering terjadi tren penurunan daya saing industri sawit akibat naiknya biaya logistik, tenaga kerja, serta biaya sosial serta keamanan. Belum lagi, dengan ketidakpastian regulasi dari tingkat daerah sampai pusat yang kerapkali berubah. Kondisi ini mengakibatkan pengusaha bukannya memikirkan cara peningkatan produktivitas melainkan khawatir persoalan regulasi.

Jika hambatan daya saing tidak segera dipecahkan maka bisa mengancam keberlanjutan industri sawit di masa depan.

Teguh menjelaskan, Indonesia telah kehilangan sejumlah komoditas unggulan di masa lalu. "Jangan sampai sawit yang menjadi komoditas andalan yang akan hilang ditelan zaman, yang diakibatkan karena ketidak pedulian kita semua," jelasnya.

Apalagi, saat ini perolehan devisa Indonesia mengandalkan sawit untuk menjaga surplus neraca perdagangan. Jangan sampai neraca perdagangan menjadi minus sehingga berakibat kepada tekanan berat untuk rupiah dan posisi Indonesia di pasar global.

Presiden Jokowi selalu menekankan pentingnya pemangkasan aturan (deregulasi) dalam rangka peningkatan investasi dan inovasi. Tetapi arahan ini belum berjalan baik di level teknis kementerian dan pemerintahan daerah.

“Keinginan Presiden Jokowi belum dilaksanakan sebagain atau sepenuhnya di dalam konteks deregulasi,” ungkapnya.

Industri sawit belum merasakan dampak deregulasi bahkan yang terjadi regulasi terus bertambah. Deregulasi belum menyentuh aspek ketidakpastian hukum atau kepastian investasi sebagai contoh masalah tata ruang (RTRW) yang selalu berubah. Bahkan seringkali membuat cemas pengusaha yaitu, setelah puluhan tahun menjadi pemegang HGU pada kenyataannya kebun tumpang tindih dengan kawasan hutan atau tidak bisa direplanting bahkan tidak dapat diperpanjang karena masuk fungsi lindung.

“Industri sawit belum memperoleh dampak signifikan program deregulasi pemerintah,” tukasnya.

Menurut Teguh, kampanye deforestasi seringkali dijadikan senjata untuk memojokkan industri berbasis sumber daya alam seperti kelapa sawit. Padahal kenyataannya, studi Climate Focus yang berbasiskan data Europe Commision menunjukkan bahwa deforestasi dipicu kegiatan peternakan sapi dalam skala besar. Kemudian disusul tanaman kedelai dan gandum yang aktif membuka hutan untuk lahan pertanian.

Selain itu, lanjutnya, berdasarkan definisi hutan dengan konsep land cover change yang dianut banyak negara maupun definisi hutan yang dianut FAO, perkebunan termasuk perkebunan kelapa sawit dapat dikatagorikan sebagai hutan yang berfungsi ekologis hutan, meskipun secara adminitratif tidak berada dalam kawasan hutan.

Hal ini karena; perkebunan kelapa sawit merupakan penumbuhan land cover (afforestasi menurut konsep land cover change), memiliki canopy cover hampir/mendekati 100 persen pada umur dewasa (syarat FAO, lebih besar 10 persen), dan memiliki ketinggian pohon setelah dewasa lebih dari 5 meter dan luas hamparan diatas 0,5 hektar (FAO mensyaratkan tinggi pohon 5 meter dan hamparan 0,5 hektar). Dengan demikian memiliki kriteria minimal (threshold) bahkan di atas definisi FAO.

Berikutnya, perkebunan kelapa sawit merupakan permanen crop yang baru di-replanting setelah 25 tahun (timber plantation yang oleh FAO dikategorikan hutan, dipanen 7-10 tahun per siklus) yang berarti fungsi ekologis kelapa sawit lebih lama dari pada timber plantation.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit juga memiliki perakaran yang massif/padat, berlapis serta permukaan tanah mengandung banyak bahan organik (pelapah daun, batang) yang berfungsi sebagai bagian dari konservasi tanah dan air seperti mengurangi aliran air permukaan (water run-off) sebagaimana salah satu fungsi hutan.

Selanjutnya, perkebunan sawit merupakan bagian dari pelestarian fungsi ekologis seperti pelestarian daur CO2 daur O2 dan daur air (H2O) melalui mekanisme fotosintesis dan respirasi tanaman kelapa sawit. Fungsi ini juga merupakan bagian hutan secara ekologis. ***SH

Selengkapnya
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id