Menu
SAJIAN ISI
Redaksi

Redaksi

Alamat : Gedung Graha BUN. Jln Ciputat Raya No.7 Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53 E-mail : majalah_hortus@yahoo.co.id
No Rekening : 121 00333 55557 Bank Mandiri a/n PT Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan

Website URL: http://www.majalahhortus.com

Sawit Tetap Jadi Tumpuan Perekonomian Indonesia

PADANG - Hingga beberapa dekade ke depan, perekonomian Indonesia masih akan begantung kepada sektor kelapa sawit. Karena itu perlu kebijakan strategis agar industri sawit tetap tumbuh dengan berkelanjutan, termasuk berkelanjutan dalam aspek
bisnis.

“Agak sulit mencari sektor lain di Indonesia yang bisa menggantikan peranan sektor kelapa sawit bagi perekonomian,” kata Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), di Padang kemarin (14/8).

Tofan mengatakan, sepanjang tahun ini sektor kelapa sawit menghadapi tantangan karena harga minyak sawit yang melemah. Namun beberapa rencana kebijakan strategis pemerintah seperti mandatory B30 yang akan dilaksanakan awal tahun depan, mendorong sentimen positif pasar.

“Dalam beberapa hari terakhir harga komoditas sawit perlahan menguat, ini angin segar buat semuanya,” kata Tofan yang menjadi pembicara dalam workshop wartawan dan humas pemerintah di Padang, Sumatera Barat (14/8).

Tahun 2017,  sumbangan devisa ekspor sawit mencapai rekor tertinggi yaitu USD 22,9 miliar atau sekitar Rp 320 triliun. “Melihat tren harga sepanjang tahun 2019, sumbangan devisa ekspor sawit tahun ini akan lebih rendah dibandingkan satu atau dua tahun sebelumnya,” kata Tofan.

Namun Tofan Mahdi optimistis bahwa sektor kelapa sawit sangat prospektif meskipun hambatan dari negara maju semakin berat, seperti dari Uni Eropa. Sebagai pasar ekspor minyak sawit Indonesia terbesar kedua, kebijakan RED II dan kebijakan EU mengenakan bea masuk 18% untuk produk minyak sawit Indonesia, cukup memukul industri sawit.

“Rasanya saat ini tidak ada komoditas lain yang sehebat sawit. komoditas lain sekarang sudah impor, hanya sawit yang ekspor. Ini semua masalah perang dagang. Maka jangan biarkan kampanye negatif mematikan industri ini. Jika dibiarkan, Indonesia bisa-bisa menjadi importir sawit suatu saat nanti. Itu yang negara lain harapkan,” tegas Tofan.

Agar tidak terlalu bergantung terhadap pasar ekspor, Tofan menilai penyerapan dalam negeri perlu dioptimalkan. Kata Tofan, GAPKI mengapresiasi upaya pemerintah yang telah menjalankan program mandatori biodiesel B20 dan B30 pada awal tahun depan.

Hal senada diungkapkan Division Head Biodiesel and Product Development Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (BPDPKS), Fajar Wahyudi. Fajar optimistis, program mandatori biodiesel akan bisa rampung dalam 3 tahun.

“Penggunaan sawit untuk biodiesel memiliki dampak yang dignifikan yakni menambah lapangan pekerjaan di sektor industri dan perkebunan sawit, meningkatkan demand terhadap CPO, stabilisasi harga CPO dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit,” kata Fajar.

Harga Sawit Mencapai Level Terendah Sejak 10-15 Tahun yang Lalu

Padang, - Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi menyebutkan, tahun ini adalah kondisi yang paling berat karena harga minyak sawit ini saat ini mencapai level paling rendah sejak 10-15 tahun terakhir, yaitu di kisaran 460-470 US Dolar per ton.

"Memang kita melihat sejak awal 2019 bahkan akhir 2018 harga terus turun bahkan sempat di akhir 2018 mencapai angka 460 US Dollar per ton untuk CPO. Pada 2019 kondisinya terus bergerak sekitar 470 hingga 500 US Dollar. Kita berharap harga ini terus naik, " ujar Tofan Mahdi pada acara seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang industri kelapa sawit Indonesia di Padang, Rabu (14/8/2019).

Namun dua minggu terakhir, tren harga mulai naik. Terus bergerak dari 470 hingga 500 US Dolar per ton. Dan saat ini berada di kisaran 540 US dollar per ton.

Ini merupakan hal baik di tengah terjadinya perang dagang antara US dan Cina yang semakin tajam. Karna itu, Topan Mahdi optimis bahwa industri kelapa sawit akan tetap menjadi industri yang strategis bagi perekonomian Indonesia.

Hal ini melihat bagaimana pemerintah memproyeksikan minyak sawit sebagai energi alternatif pengganti solar pada tahun 2025 mendatang. Upaya tersebut terlihat dari kebijakan mandatori biodiesel B 20 yang saat ini diterapkan.

Dengan kebijakan tersebut, harga minyak sawit di pasaran diharapkan terstimulasi naik.  "Ini tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam industri kelapa sawit bagaimana kita harus segera menemukan solusi untuk memberikan dorongan dan stimulasi sehingga harga minyak sawit di pasaran bisa naik," jelas Tofan Mahdi.

Sebab jika kisaran harga sawit di bawah 500 pasti harga jual TBS rendah. Menurut Topan, hal ini tidak bagus bagi ekonomi negara juga ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup kepada kelapa sawit.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan daya serap pasar domestik. Tofan Mahdi mencontohkan kebijakan mandatori B-20 pindah ke B-30 pada awal 2020. Sehingga nantinya akhir 2020 bisa melompat ke B-50.

"Kita harapkan dengan program mandatori biodiesel akan memberikan dorongan terhadap harga minyak sawit sehingga akan segera naik." ujarnya.

Melirik Peluang Ekspor Kakao di Pasar Eropa

Jakarta - Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan tingginya konsumsi cokelat di kawasan Uni Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi negara produsen kakao dunia, termasuk Indonesia. Terutama untuk kakao olahan yang bernilai lebih tinggi dibandingkan ekspor biji kakao.

"Bagi orang Eropa, cokelat dalam bentuk padat maupun yang dikonsumsi dalam bentuk beverages merupakan barang konsumsi wajib selain kopi dan cake" ungkap Kasdi pada Senin, (12/08/19)

Secara global impor Eropa pada 2018 didominasi oleh biji kakao dengan volume mencapai 2,3 juta ton. Kemudian diikuti dengan cocoa butter, fat and oil dengan jumlah volume mencapai 604.529 ton. Lalu ada cocoa paste (excluding defatted) dengan volume mencapai 502.866 ton dan cocoa paste, wholly or partly defatted dengan volume mencapai 139.253 ton.

"Ini bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia, kakao telah menjadi komoditas andalan ekspor nasional, di samping kelapa sawit dan karet" ujarnya.

Untuk mengoptimalkan ekspor kakao Indonesia, Kementerian Pertanian telah melakukan beberapa upaya untuk menekan hambatan dalam meningkatkan ekspor kakao olahan Indonesia ke Uni Eropa.

Salah satunya melalui wadah diplomasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU - CEPA) terus melakukan kerjasama diplomasi dan upaya dagang untuk mengurangi tarifikasi kakao di Eropa sekaligus meningkatkan konsumsi kakao olahan Indonesia di wilayah tersebut.

Selain itu, lanjut Kasdi, Kementerian Pertanian terus meningkatkan program BUN 500 yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kakao nasional melalui penyediaan bibit kakao unggul. "Ketersediaan benih unggul merupakan faktor penentu untuk meningkatkan produksi yang berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, BUN 500 diharapkan dapat menggenjot capaian ekspor perkebunan lebih agresif," pungkasnya.

Untuk itu, Pemerintah akan terus berupaya menggenjot produksi kakao nasional. Selain untuk memenuhi tingginya permintaan di dalam negeri, peningkatan produksi diperlukan untuk menangkap peluang-peluang ekspor terutama peluang yang diberikan pasar Uni Eropa.

Data menunjukkan konsumsi coklat untuk 10 (sepuluh) negara kawasan Eropa pada tahun 2019 mencapai 6,2 kg/kapita/tahun. Konsumsi tersebut didominasi oleh konsumsi cokelat negara Swiss (8,2 kg/kapita/tahun), Jerman (7,9 kg/kapita/tahun) serta Inggris dan Irlandia dengan masing-masing konsumsi mencapai 7,4 kg/kapita/tahun.

Indonesia Targetkan Ekspor Kopi ke Amerika Latin

Jakarta - Pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyebut Indonesia akan menargetkan ekspor kopi ke negara-negara Amerika Latin. Di antaranya Brasil, Kolombia, Chili dan Karibia akan segera menikmati kopi-kopi nusantara setelah masuk dalam ploting negara yang menjadi target baru ekspor Indonesia.

Negara penghasil kopi di Amerika Latin sebetulnya sudah ada seperti Kolombia dan Brasil, tetapi produk kopi khas Indonesia diyakini bisa menjadi pesaing berkualitas. Faktor kualitas ekspor juga ditekankan ketimbang kuantitas ekspor kopi Indonesia yang notabene sudah memiliki pasar tersendiri.

"Yang namanya specialty coffee itu punya pasar dan segmen tersendiri di Amerika Selatan jadi pasar kopi kita lebih ke exclusive, single origin, dan ini yang bisa dinikmati oleh masyarakat Amerika Latin khususnya kalangan menengah ke atas," jelas Darianto.

Darianto menyebut Kemenlu memiliki 132 perwakilan di seluruh dunia untuk membantu fasilitas ekspor produk Indonesia. Potensi bisnis di Amerika Latin juga ditopang oleh bebasnya tarif masuk Indonesia ke Chili menjadi nol persen. Selama ini Indonesia kurang melirik wilayah potensial tersebut. Kemenlu pun siap membantu sinergi dan memfasilitasi kemudahan ekspor produk dalam negeri.

"Pasar Amerika Latin dan Karibia merupakan pasar non-tradisional, belum maksimal dioptimalkan pasar Indonesia," ucap Darianto Harsono, Direktur Amerika II, Dirjen Amerika dan Eropa Kemenlu, pada Senin (12/8/2019) di Jakarta.

Pihak Kemenlu juga akan memfasilitasi pertemuan bisnis antar dua wilayah pada sebuah forum internasional yang akan berlangsung pada 14-15 Oktober 2019.

"Pada bulan Oktober kami akan menyelenggarakan Indonesia-Latin America-Carribean Business Forum. Kami jadikan forum usaha kedua wilayah, yaitu Indonesia dan Amerika Selatan-Karibia untuk bertemu melakukan business matching," ujar Darianto.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id