Menu
SAJIAN ISI

Menunggu Janji Revitalisasi PG

Menunggu Janji Revitalisasi PG

Industri gula di Indonesia masih dihantui oleh rendahnya rendemen tebu. Di samping itu, uzurnya usia pabrik gula (PG) yang beroperasi di Indonesia juga menjadi faktor terpuruknya industri gula nasional. Kapan seluruh PG milik BUMN direvitalisasi? Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Gamal Nasir mengatakan, hingga saat ini rendemen tebu di PG-PG Pulau Jawa hanya berkisar antara 6 - 7%. Sementara, di luar Jawa nilainya bisa lebih tinggi mencapai 7 – 8%.

Rendahnya rendemen ini diakibatkan PG-PG yang ada sudah berusia tua dan tertinggal dari segi teknologi.  Selain itu, rendahnya rendemen tebu juga diakibatkan oleh faktor cuaca. Hujan yang turun pada musim kering mengakibatkan tumbuhnya bunga pada batang tebu. Pertumbuhan bunga ini, lanjutnya, mengurangi nira yang terkandung dalam batang tebu.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto menambahkan, pemerintah telah melakukan program revitalisasi PG dalam 5 tahun terakhir. Meski demikian, ia mengakui revitalisasi belum sepenuhnya berjalan optimal. "Ada beberapa PG yang sudah efisien, namun ada pula yang belum," kata dia, baru-baru ini.  

Panggah menambahkan, pemerintah terus mengkaji kinerja pabrik gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berdasarkan kajian itu ditemukan produksi pabrik gula milik BUMN masih belum optimal.

"Penyebabnya yaitu inefisiensi pabrik-pabrik gula BUMN. Di situlah penyakitnya. Kalau di situ ada kejelasan, kita akan punya regulasi yang pas untuk mengatasinya. Itu dulu diperbaiki," ujar Panggah.

Menurutnya, saat ini Kemenperin sedang memetakan kondisi pabrik gula BUMN karena selama ini belum ada langkah seperti itu.  "Kami coba petakan, karena tidak pernah ada pemetaan dari Kementerian BUMN. Petakan mana yang tutup, mana yang tidak efisien. Kita tidak lagi bisa basa-basi. Pabrik gula terbaik yang masih bisa bertahan ada 9. Lainnya ada 12 pabrik gula yang harus direvitalisasi," kata Panggah

Peneliti asal Institut Pertanian Bogor (IPB), Purwono mengungkapkan berdasarkan hasil risetnya terhadap pabrik gula BUMN bahwa revitalisasi mutlak dilakukan. Hal tersebut melihat kebutuhan gula terus meningkat, sementara produksi belum bisa mengejar kekurangannya.

Sedikitnya ada 12 pabrik gula milik BUMN yang perlu direvitalisasi. Ada 3 cara yang bisa dilakukan yaitu menggabungkan beberapa pabrik gula (PG) yang efisiensinya rendah; membangun PG baru; atau merevitalisasi PG yang memiliki HGU.

"Proyeksi konsumsi GKP (gula kristal putih) dan GKR (gula kristal rafinasi) hingga 2020 totalnya 6,868 juta ton. Produksi GKP pada 2020 hanya 3,022 juta ton. Jadi ada selisih besar yang dipenuhi dari gula rafinasi, sementara bahan bakunya sebagian.besar masih impor," ungkap Purwono.

Revitalisasi, selain untuk mengejar pertumbuhan kebutuhan konsumsi, juga melihat kondisi PG yang memang sudah tidak efisien lagi. "PG milik BUMN kapasitas produksinya hanya 3.000 TCD. Boilernya boros butuh kayu banyak. Rendemennya nggak sampai 80%," ujar Purwono.

Penataan PG BUMN, tambah Purwono, berpeluang mendongkrak produksi gula mencapai 3,6 juta ton. Dalam risetnya, Purwono juga menyebutkan, diperlukan 21 PG baru untuk memenuhi proyeksi kebutuhan gula pada 2020, sebesar 6,8 juta ton.

"Jika mulai membangun dari sekarang, kita baru punya PG baru di luar Jawa paling cepat beroperasi pada 2020," ujarnya. Menurut dia, hingga 2020 PG BUMN perlu punya beberapa target dari langkah revitalisasi.

"Pertama, efisiensi kinerja PG, kapasitasnya didesain dari minimal 4.000 TCD ke 6.000 TCD. Rendemennya minimal 80%. HPP gula harus di bawah Rp 6.000/kg dari saat ini Rp 8.000/kg. Kemudian waktu giling efektif paling lama hanya 135 hari," kata Purwono lagi.

Dikatakannya, ke 12 PG BUMN yang perlu direvitalisasi tersebut adalah, Asembagus Baru, Sindang Laut Baru (bangun PG baru), Sumber Harjo Baru (bangun PG baru), Tasik Madu Baru, Cukir Baru, Mojopanggung, Pagotan Baru, Sudono Baru. Selanjutnya, Candi Baru, Krembung baru, Prajekan Baru, Kedawung Baru.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Tengah, Sukadi Wibisono mengatakan, usia PG yang tua menyebabkan rendemen tebu tak pernah menggembirakan. Dari 12 PG di Jateng, hanya PG di Blora yang rendemen tebunya mencapai 8%. Lainnya masih ada pada angka 6% bahkan kurang.

Menurut Sukadi, pemerintah perlu segera merevitalisasi PG. Jika tak ada upaya revitalisasi, petani tebu akan terus didera kerugian. Biaya yang dibutuhkan untuk revitalisasi satu PG rata-rata mencapai Rp 1 triliun. Jika setelah revitalisasi rendemen bisa naik, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami surplus gula.

Di perusahaan swasta, lanjut Sukadi, rendemen tebu berkisar antara 9-10%. Menurutnya, produksi tebu di Jateng sudah bagus. Sayangnya, rendemen yang rendah mengakibatkan kebutuhan gula tak pernah tercukupi oleh produksi dalam negeri. Saat ini, luas kebun tebu rakyat di Jateng tercatat 67 ribu hektar dengan dengan rata-rata produktivitas sebesar 600 kuintal per hektar. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id