Menu
SAJIAN ISI

Lahan Rawa Merupakan Masa Depan untuk Tebu

Lahan Rawa Merupakan Masa Depan untuk Tebu

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengemukakan lahan rawa diharapkan bisa menjadi masa depan pergulaan Indonesia. Pemanfaatan lahan rawa untuk tanaman tebu ini baru pertama kali dikembangkan di Indonesia.

Menurut Amran, pengembangan tebu di lahan rawa memiliki potensi produksi yang tinggi dan biaya yang relatif rendah karena kebutuhan air mudah terpenuhi. Selain itu, pengangkutan tebu menggunakan transporasi sungai yang rendah biaya dan sedikit menghasilkan CO2 sehingga tidak merusak lingkungan.

“Total lahan rawa Indonesia mencapai 21 juta hektar (ha) dan 8 hingga 10 juta ha yang sudah bisa digarap atau ditanami tebu. Indonesia dapat optimalkan 1 hingga 4 juta ha saja dapat terlepas dari impor bahkan melakukan ekspor,” jelas Amran saat meninjau perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, baru-baru ini.

Amran menambahkan, sampai saat ini terdapat 4 pabrik gula yang sudah berjalan dan 7 pabrik sedang dibangun sehingga totalnya terdapat 11 pabrik gula di Indonesia. Menurutnya, jika semua pabrik gula ini bergerak atau optimal memproduksi gula, maka di tahun 2019 untuk gula putih (white sugar) bisa swasembada. Sementara gula rafinasi paling lambat swasembada dapat diwujudkan 5 tahun ke depan dari sekarang.

“Kami fokus mendorong tebu. Kami dorong investasi di bidang gula. Sudah ada 4 pabrik gula yang jalan. Kalau ini bergerak semuanya, tidak ada lagi cerita impor,” ujar dia.

Amran menyebutkan Kebutuhan gula putih Indonesia mencapai 2,7 juta ton per tahun atau 225 ribu ton lebih per bulan. Kemudian kebutuhan gula rafinasi untuk industri 3 juta ton per tahun sehingga total kebutuhan mencapai 5,7 ton per tahun. Sementara produksi nasional bergerak 2,2 sampai 2,6 juta per tahun.

“Untuk itu, dengan adanya pemanfaatan lahan rawa untuk tanaman tebu, produksi gula dalam negeri akan meningkat dan impor semakin berkurang bahkan kita stop impor. Kita bisa lakukan ekspor,” tukasnya.

Lebih lanjut Amran menekankan, pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi melalui pengembangan pabrik gula. Akan tetapi, meningkatkan juga pendapatan petani dengan menjaga stabilitas harga jual tebu,

“Pabrik kita bangun, kami pun tetap jaga harga tebu petani sehingga pendapatan petani meningkat. Harga tebu petani telah diatur oleh Harga Patokan Pemerintah. Sehingga, pengembangan pabrik gula merupakan upaya untuk memotong rantai pasok agar harga gula di pasaran stabil,” paparnya.

Dalam kunjungan di Ogan Komering Ilir ini, Mentan melakukan panen sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pabrik gula pertama di Indonesia yang dibangun di lahan rawa. Pabrik gula akan beroperasi tahun 2019  

Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, Muhammad Rifa’i mengungkapkan, wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir terluas di Sumatera Selatan yang 75% merupakan lahan rawa. Untuk itu, pemerintah Ogan Komering Ilir sangat mendukung kegiatan investasi di bidang tebu.

“Dengan potensi lahan rawa yang sangat luas kami miliki, kami dukung penuh tujuan pemerintah pusat bersama investor untuk memanfaatkan tanam tebu di lahan rawa ini,” katanya.

Untuk diketahui, pengembangan tebu di lahan rawa Ogan Komering Ilir dimulai sejak tahun 2012 dengan luas tanam 4.000 ha. Target tanam pada tahun 2017 seluas 8.700 ha. Sementara target di tahun 2019 mencapai 20.000 ha dengan poduksi diperkirakan mencapai 10.000 ton tebu per hari.

Adapun produktivitas tebu di lahan rawa ini mencapai 80 ton per ha. Panen dilakukan pada bulan Maret, September dan Oktober dengan cara semi mekanikal.

Menurut Rifa'i, perusahaan perkebunan tebu pertama di Indonesia yang memanfaatkan lahan rawa adalah PT PNS yang saat ini tengah membangun pabrik gula berkapasitas 6.000 ton tebu per hari sekaligus menyiapkan kebun di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Perusahaan perkebunan yang merupakan gabungan tiga grup raksasa yaitu Wings Group, CP Prima dan Djarum sejak tahun 2009 tersebut akan menggarap lahan rawa seluas 30.000 hektar untuk tanaman tebu. Budidaya tebu di lahan rawa tersebut pertama kali diterapkan di Indonesia  dan kedua di dunia setelah Guyana, Amerika Selatan.

Budidaya tebu di lahan rawa memang cenderung lebih kompleks dan memiliki lebih banyak tantangan. Namun, produktivitas tebu rawa cukup menjanjikan karena pernah mencapai 125 ribu ton gula per hektar.

Saat ini, PT PNS segera membangun pabrik gula dengan kapasitas 6.000 ton tebu per hari (ton cane per day /TCD) pada 2019, yang kapasitasnya akan terus ditingkatkan menjadi 18.000 TCD seiring dengan perluasan penanaman kebun inti maupun plasma dalam jangka waktu tiga tahun berikutnya. Untuk itu, PT PNS tak kurang menggelontorkan investasi sebesar Rp 4 triliun yang akan dibagi tiga tahap sampai tahun 2020.

Selain memproduksi gula, PT PNS juga memproduksi pembangkit listrik biomassa hingga 10 megawatt dengan memanfaatkan limbah tebu.

Pada 2017, luasan target yang akan ditanam yaitu 8.700 ha. Saat beroperasi pada 2019, ditargetkan luasan tanaman tebu yang dipasok ke pabrik mencapai 11.000 ha. Penanaman tebu ini bertahap. Pada 2019 diperkirakan lebih 21.000 ha ditanami dari izin lokasi seluas 30.000 ha.

Dari 30.000 HGU yang dimiliki perusahaan,sekitar 20 persen akan dibentuk perkebunan plasma yang akan dikelola masyarakat sekitar. Perusahaan juga akan mengalokasikan lahan untuk infrastruktur pendukung seperti jalan dan sumber air.  *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id