Menu
SAJIAN ISI

Pemerintah Optimis, 2019 Swasembada Gula Tercapai

Pemerintah Optimis, 2019 Swasembada Gula Tercapai

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan keyakinanannya mampu mewujudkan target swasembaga gula konsumsi pada 2019 mendatang.

Berdasarkan data Kementan, produksi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi lokal sebesar 2,2 juta ton pada 2016, sedikit di bawah target yang dicanangkan yakni 2,3 juta ton.
"Insya Allah target 2019 itu bisa terpenuhi, yakni target swasembada gula konsumsi dengan hadirnya beberapa industri gula baru mulai tahun 2018. Tahun 2017 ini akan ada tambahan anggaran untuk perkebunan," ujar Dirjen Perkebunan Bambang, baru-baru ini, di Jakarta.

Bambang mengungkapkan, realisasi capaian tahun lalu produksi gula di bawah ekspektasi karena imbas dari iklim kemarau basah sepanjang tahun. “Tahun kemarin terlalu banyak hujan sehingga banyak tebu yang tidak bisa dipanen. Rendemen pun menurun,” ujarnya.

Menurut Bambang, saat ini iklim sudah normal kembali dan diharapkan bisa mendukung peningkatan produksi gula konsumsi dalam negeri yang ditargetkan mencapai 2,5 juta ton. “Diharapkan tahun ini bisa melebihi target karena kondisi yang agak kering.”

Kenaikan produksi juga diproyeksikan terus terjadi hingga 2019 mendatang. Pada 2018, produksi GKP ditarget sebesar 2,8 juta ton dan pada 2019 mencapai 3,3 juta ton.
Jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan gula konsumsi di dalam negeri yang pada saat ini berkisar 2,7 juta ton.

“Tambahan produksi sampai 800.000 ton pada 2019 bukan hal yang sulit dan kami optimis ini bisa dicapai. Beberapa pabrik gula baru seperti di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, sudah siap menopang produksi. Perluasan lahan tebu di sekitar pabrik gula juga akan dilakukan,” paparnya

Hal senada disampaiakan Agus Wahyudi, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjenbun Kementan pada acara Diskusi Nasional Gula tema 'Mampukah Gula Indonesia Berdaya Saing," di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, produksi gula saat ini baru mencapai 2,5 juta ton yang berasal dari areal lahan seluas 450 ribu hektar (ha). Sementara itu, pihaknya menargetkan peningkatan lahan tebu seluas 500 ribu ha. "Maka saat ini produktivitas 5,5 ton/ha harus ditingkatkan 0,5 ton/ha sehingga bisa mencapai 6 ton/ha," kata Agus.

Untuk mencapai produktivitas sebesar 6 ton/ha, lanjut dia, bukanlah sulit, karena hal tersebut sudah pernah dicapai pada tahun 2008. Tapi setelah itu turun kembali menjadi 5 ton/ha. Kemudian rendemen gula pun harus kembali ditingkatkan dari 7,5 persen menjadi 8 persen, seperti tahun 2003. "Sehingga kalau naik dalam 3 tahun ke depan bukan khayalan karena pernah mencapai 6 ton pada 2016,"ujar Agus.

Saat ini Jawa Timur merupakan kontributor gula nasional dengan produksi 46,39% dari total produksi nasional dengan luas lahan mencapai 45% dari total luas lahan tebu. Kontributor ke dua Lampung 27,7% dari total produksi nasional, dengan luas lahannya 35% dari total luas lahan nasional.

Sementara itu, perluasan areal tebu di Indonesia, kata Agus ada tiga sumber. Pertama, mengembalikan areal tebu rakyat sebesar 20 ribu ha yang diperoleh dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung. Kemudian perluasan tebu rakyat, 10 ribu ha di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Lampung.  Selain itu, perluasan di areal pabrik gula (PG) baru luar Jawa yaitu Lampung, NTB, NTT dan OKI.

Kedua, tidak kalah penting selain perluasan yaitu harus dilakukan bongkar ratoon secara bertahap. “Hal ini mengingat tidak sedikit petani yang masih enggan melakukan bongkar ratoon secara tepat waktu," katanya.

Menurutnya, produktivitas yang tinggi akan bisa dicapai secara berkelanjutan apabila dilakukan sesuai good agriculture practices (GAP). Di antaranya mengairi tebu di lahan kering dengan mengembangkan sumur dalam dan pompa, bongkar ratoon menggunakan varietas unggul dan melakukan perawatan.

"Tahun depan secara bertahap kita akan membangun sumur dalam dengan biaya Rp 500 juta dan pompa sebesar Rp 25 juta per unit. Harapannya kita bisa mengairi lahan. Dengan tersedianya kedua hal ini sekalipun El Nino datang masih bisa meningkatkan produktivitas," papar Agus.

Ketiga, sudah saatnya petani meningkatkan pola konvesional beralih ke mekanisasi. "Mekanisasi sudah menjadi kewajiban karena tenaga kerja sudah sangat sulit," ujar Agus.

Selain itu, katanya, karakter tanaman tebu yang butuh pemeliharaan secara baik. Maka dalam hal ini mekanisasi sangat berfungsi, dengan membangun drainase di areal sawah. Hal ini juga untuk mengantisipasi musim hujan tapi tetap bisa untuk mengeluarkan air.

Di tempat yang sama, Agus Pakpahan, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menambahkan, sebenarnya revolusioner itu impor gula. Sebab sejak zaman Orde Baru (Orba) sudah ada impor 500 ribu ton, tapi sejak zaman Reformasi melonjak menjadi 2 juta ton.

"Untuk itu dalam hal ini pembelajaran menjadi sangat penting untuk bisa maju. Sebab yang namanya swasembada gula tidak akan tercapai kalau hanya di atas kertas," tegas Agus.
Dia mengakui masalah tebu, di antaranya harga gula dunia yang turun terus. "Sedangkan sampai sejauh ini kita bisa bertahan."
.
Adapun turunnya harga gula dunia, ungkap dia, karena tiap-tiap negara berbeda-beda dalam menangani masalah pergulaan ini. Amerika Serikat (AS) memberikan subsidi kepada industri gula. Skemanya memberikan penghargaan kepada PG bukan karena efisien, namun industri gula mampu menyerap tenaga kerja dan berfungsi sebagai keamanan pangan. Sedangkan kalau efisiensi di sana tidak terjadi,” katanya. ***HB,NM, SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id