Menu
SAJIAN ISI

Rendemen Tebu Petani KTM Tertinggi di Jawa

Rendemen Tebu Petani KTM Tertinggi di Jawa

Pabrik Gula (PG) milik PT Kebun Tebu Mas (KTM) mencatatkan rekor rendemen tertinggi di Pulau Jawa, yakni 8,21%. Padahal pabrik gula KTM baru beroperasi dalam 2 tahun. Tahun ini diproyeksikan bisa memproduksi gula sekitar 80.000 ton seiring dengan peningkatan produktivitas tanaman tebu rakyat.

Selain mampu meraih rendemen tertinggi, PT KTM akan terus berupaya meningkatkan produktivitas lahan tebu milik mitra petani binaan. Salah satunya dengan menjadi off-taker petani dalam mendapatkan modal kerja dengan bunga kredit usaha rakyat (KUR) rendah.

Direktur KTM Adi Prasongko menyatakan, salah satu cara meningkatkan produktivitas kebun petani adalah dengan memberikan modal yang cukup bagi petani untuk mengolah kebun tebunya dengan baik. Sebab, selama ini modal selalu menjadi kendala. Untuk itu, PT KTM bekerja sama dengan BRI Agro untuk mengupayakan pembiayaan modal kerja petani tebu.

“Kalau petani punya modal yang cukup tentu produktivitas lahan tebu mereka bisa diandalkan dan mereka bisa memasok tebu ke KTM,” kata Adi seusai penandatanganan kerja sama penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI Agro- KTM, baru-baru ini, di Surabaya.

Menurut Adi, pabrik gula milik PT KTM yang berada di Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur tahun ini diproyeksikan bisa memproduksi gula sekitar 80.000 ton seiring dengan peningkatan produktivitas tanaman tebu rakyat.

Saat ini, lanjut dia, dari kapasitas pabrik 12.000 ton cane per day (TCD), KTM baru mampu memproduksi gula kurang dari 50% kapasitas terpasang, dikarenakan masih kekurangan bahan baku berupa tebu petani.

“Ini karena masih kekurangan bahan baku tebu. Kita bisa memaksimalkan kapasitas pabrik apabila ada pasokan tebu dari 25.000 ha, sekarang ini masih 8.000 ha,” katanya.

Dia mengatakan, pabrik yang baru beroperasi dalam 2 tahun ini sudah mampu mencapai rendemen tertinggi di Jawa yakni 8,21%, dan produktivitas lahan sekitar 5,6 ton-6 ton/ha. Tahun ini pun diharapkan rendemennya bisa lebih tinggi dari 8,21% dan produktivitas lahan tebu bisa meningkat ke arah 7,5 ton-8 ton/ha.

Adi menambahkan, pabrik gula PT KTM masih sangat bergantung pada lahan tebu di 4 kabupaten yakni Lamongan, Gresik, Tuban, dan Bojonegoro. Saat ini, lanjutnya, KTM sedang dalam tahap pengembangan lahan tebu terutama bermitra dengan petani, di mana saat ini PT KTM memiliki mitra 12.000 petani.

“Kami akan kembangkan di 4 wilayah ini karena selain dekat dengan pabrik, wilayah ini juga punya tanah yang kering dan cocok ditanami tebu. Meski begitu, kami tidak mengganggu tanah sawah yang ada karena tanah sawah itu untuk tanaman padi,” jelasnya.
Menurut dia, lokasi pabrik dan lokasi pemasok tebu yang tidak jauh diharapkan bisa meningkatkan efisiensi petani. Terlebih pabrik PT KTM yang memproduksi beragam jenis gula itu memiliki pabrik yang modern sehingga mampu menekan biaya produksi.

PT KTM dibangun menggunakan teknologi mesin yang modern dan terintegrasi. Tebu dari petani yang digiling di pabrik gula ini, hari itu juga bisa diketahui rendemennya, serta dibeli putus oleh pihak pabrik sehingga petani tak perlu menanggung rugi akibat inefisiensi pabrik gula .

Pabrik gula tersebut didirikan dengan konsep modern dan terintegrasi pertama di Indonesia, yang akan memproduksi 30% raw sugar, 40% gula kristal putih dan 30% gula kristal rafinasi untuk formula bayi dan farmasi.  

Sejatinya pabrik gula tersebut memiliki kapasitas 12.000 ton TCD. Namun diharapkan pada tahun depan, pabrik gula tersebut sudah bisa melakukan giling sesuai dengan kapasitas terpasang.

Menurutnya, agar kapasitas terpasang bisa dipenuhi, pihaknya terus melakukan pengembangan area tebu di 4 kabupaten yakni Lamongan, Gresik, Bojonegoro dan Tuban.

Adapun PG tersebut didirikan dengan konsep modern dan terintegrasi. PG tersebut dapat menghasilkan beragam jenis gula seperti gula kristal putih (untuk keperluan konsumsi langsung), gula industri (untuk bahan baku industri makanan/minuman), dan gula kristal mentah (untuk diolah lebih lanjut menjadi gula konsumsi dan gula industri).

Pabrik gula  tersebut juga didesain untuk bisa menghasilkan produk derivat melalui industri hilir, seperti listrik dari ampas, bio-ethanol dari tetes, dan bio-fertilizer dari limbah padat blotong.   
Selain itu,  PT KTM juga berkomitmen dalam pembinaan kepada petani, di mana akan terus bertambah mengingat antusiasme petani yang ingin bekerja sama dengan PT KTM. "

Komitmen pembinaan terhadap petani ini sesuai dengan amanat dari  pasal 13 dan pasal 22 Permentan No. 98/PERMENTAN/ OT.140/9/2013. Hingga saat ini, PT KTM telah menjalin kemitraan dengan petani tebu seluas 23.475,76 hektar yang terdiri dari  petani tebu sendiri seluas 56,34 hektar, tebu rakyat seluas 2.316,56 hektar dan tebu rakyat mandiri seluas 21.102,86 hektar.  

Kurangnya pasokan bahan baku tebu bagi pabrik gula sebenarnya bukan masalah baru, bahkan Kementerian Pertanian pun mengakui sulitnya swasembada gula karena keterbatasan lahan untuk perkebunan tebu.

Untuk mencapai swasembada gula diperlukan tambahan lahan baru bagi tanaman tebu seluas 350.000 hektar. Sebab, idealnya untuk satu pabrik gula dibutuhkan 20.000 hektar lahan tebu agar pasokan bahan baku terjaga.

Menurut Dirjen Perkebunan Bambang, pemerintah mendukung niat para pengusaha untuk melakukan perluasan lahan tanaman tebu. Namun, diakuinya luasan lahan yang diberi izin memang tidak sebesar harapan para pelaku industri. Hal tersebut, kata Bambang didorong oleh kondisi lahan yang memang terbatas sehingga sulit untuk memberikan lahan dengan luasan minimal 20.000 ha di satu lokasi seperti permintaan para pemain industri.  *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id