Menu
SAJIAN ISI

Melirik Peluang Ekspor Kakao di Pasar Eropa

Jakarta - Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan tingginya konsumsi cokelat di kawasan Uni Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi negara produsen kakao dunia, termasuk Indonesia. Terutama untuk kakao olahan yang bernilai lebih tinggi dibandingkan ekspor biji kakao.

"Bagi orang Eropa, cokelat dalam bentuk padat maupun yang dikonsumsi dalam bentuk beverages merupakan barang konsumsi wajib selain kopi dan cake" ungkap Kasdi pada Senin, (12/08/19)

Secara global impor Eropa pada 2018 didominasi oleh biji kakao dengan volume mencapai 2,3 juta ton. Kemudian diikuti dengan cocoa butter, fat and oil dengan jumlah volume mencapai 604.529 ton. Lalu ada cocoa paste (excluding defatted) dengan volume mencapai 502.866 ton dan cocoa paste, wholly or partly defatted dengan volume mencapai 139.253 ton.

"Ini bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia, kakao telah menjadi komoditas andalan ekspor nasional, di samping kelapa sawit dan karet" ujarnya.

Untuk mengoptimalkan ekspor kakao Indonesia, Kementerian Pertanian telah melakukan beberapa upaya untuk menekan hambatan dalam meningkatkan ekspor kakao olahan Indonesia ke Uni Eropa.

Salah satunya melalui wadah diplomasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU - CEPA) terus melakukan kerjasama diplomasi dan upaya dagang untuk mengurangi tarifikasi kakao di Eropa sekaligus meningkatkan konsumsi kakao olahan Indonesia di wilayah tersebut.

Selain itu, lanjut Kasdi, Kementerian Pertanian terus meningkatkan program BUN 500 yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kakao nasional melalui penyediaan bibit kakao unggul. "Ketersediaan benih unggul merupakan faktor penentu untuk meningkatkan produksi yang berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, BUN 500 diharapkan dapat menggenjot capaian ekspor perkebunan lebih agresif," pungkasnya.

Untuk itu, Pemerintah akan terus berupaya menggenjot produksi kakao nasional. Selain untuk memenuhi tingginya permintaan di dalam negeri, peningkatan produksi diperlukan untuk menangkap peluang-peluang ekspor terutama peluang yang diberikan pasar Uni Eropa.

Data menunjukkan konsumsi coklat untuk 10 (sepuluh) negara kawasan Eropa pada tahun 2019 mencapai 6,2 kg/kapita/tahun. Konsumsi tersebut didominasi oleh konsumsi cokelat negara Swiss (8,2 kg/kapita/tahun), Jerman (7,9 kg/kapita/tahun) serta Inggris dan Irlandia dengan masing-masing konsumsi mencapai 7,4 kg/kapita/tahun.

Lebih dari 100 siswa mendapatkan beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food 2019

Jakarta, – Sebanyak 113 siswa mendapatkan beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food 2019 sebagai bagian dari investasi jangka panjang perusahaan untuk masa depan sektor bisnis agri yang berkelanjutan.  
“Beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food dirancang untuk mendorong terlahirnya tenaga-tenaga terampil Indonesia yang dapat diserap oleh pasar industri. Kami menyadari bahwa perkembangan teknologi akan ikut mengubah cara kami beroperasi. Dan diperlukan tenaga-tenaga muda terampil dan melek teknologi yang bisa mengikuti perubahan tersebut,” jelas Dion Leswara, Head of HR Indonesia Business, Sinar Mas Agribusiness and Food (5/0719).

Sejak dimulai proses seleksi pada bulan April, 83 siswa yang lolos seleksi beasiswa akan memasuki tahap selanjutnya untuk menempuh perkuliahan di ITSB (Institut Sains dan Teknologi) Bandung dan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta dan 30 siswa lainnya akan melanjutkan studinya di Tzu Chi University of Science and Technology (TCUST) yang berlokasi di Taiwan. Seluruh biaya perkuliahan para peserta akan ditanggung sepenuhnya oleh Perusahaan. 

Sinar Mas Agribuinsss and Food seperti dengan industri lainnya saat ini tengah melalukan modernisasi dan peningkatan pemanfaatan teknologi dengan tujuan efektivitas dan efisiensi. Penggunaan teknologi seperti pemanfaatan drone, automation , big data, cloud ataupun IoT ( internet of things ) menjadi peluang dan tantangan baru kedepannya. Tentu, perusahaan akan membutuhkan banyak generasi muda yang melek dan terampil dalam teknologi agar dapat terus sejalan dengan perubahan waktu dan tuntutan dunia industri. 

Sejak tahun 2011, Sinar Mas Agribusiness and Food telah menggulirkan program beasiswa untuk mendorong terlahirnya para pemimpin masa depan Indonesia khususnya dalam bidang industri agribisnis. Program beasiswa ini merupakan investasi jangka panjang yang dilakukan perusahaan untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam dunia industri.

Hadi Santoso merupakan salah satu penerima beasiswa nasional Sinar Mas Agribusiness and Food 2019 yang berasal dari Sumatera Selatan. Selama bersekolah, Hadi dikenal sebagai siswa teladan yang memiliki prestasi di bidang akademik dan non-akademik.  Segudang prestasi non-akademik telah dia raih selama duduk di bangku SMA, seperti juara lomba cipta puisi maupun lomba kreasi limbah tingkat nasional. Di bidang akademik, nilai rata-ratanya pun dapat mencapai 93,33.

“Semoga pihak Sinar Mas Agribusiness and Food memperluas beasiswa ini ke sekolah-sekolah lain supaya anak-anak kurang mampu yang memiliki kemauan yang tinggi bisa terbantu,” ujar Hadi. 

Seleksi program beasiswa Sinar Mas Agribusiness and Food telah berlangsung sejak April 2019 di mana proses seleksi dilakukan secara ketat dan terbuka. Peserta seleksi harus melewati rangkaian tes seperti tes potensi akademik, psikotes, wawancara, dan medical check - up , sehingga pada akhirnya akan menciptakan kandidat terbaik dan sesuai kriteria yang siap berkontribusi membangun negeri secara kompeten untuk perindustrian Indonesia di masa depan.

Pelantikan Rektor INSTIPER Periode 2019-2023

Yogyakarta, - Suksesi tampuk kepemimpinan tertinggi Institut Pertanian Stiper Yogyakarta telah berakhir dengan terpilih dan dilantiknya Rektor baru INSTIPER untuk periode 2019-2024. Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. terpilih sebagai Rektor baru INSTIPER setelah melalui serangkaian proses seleksi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY).

Rektor terpilih dilantik oleh Ir. Sri Hartadi selaku Ketua Pengurus YPKPY pada 28 Juni 2019 disaksikan oleh sivitas akademika INSTIPER. Pelantikan dilakukan tersebut dilakukan di ruang Auditheater INSTIPER. Setelah acara pelantikan, serah terima jabatan dari rektor lama ke rektor baru diselenggarakan pada Senin (1/7). Serah terima jabatan dari Dr. Ir. Purwadi. MS kepada Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng.

Dalam acara serah terima jabatan tersebut Dr. Ir. Purwadi, MS. selaku rektor periode sebelumnya menyampaikan, “Saya memohon pamit kepada Bapak dan Ibu Dosen maupun Karyawan INSTIPER yang telah membantu saya membangun INSTIPER sampai pada posisi INSTIPER saat ini. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada mitra kerja INSTIPER yang telah bekerjasama dengan INSTIPER. Pada hari ini telah selesai tugas dan amanah yang diberikan kepada saya untuk menjadi Rektor INSTIPER. Saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama, dukungan, dan bantuannya yang telah diberikan kepada saya untuk mengemban amanah selama 10,5 tahun. Saya mohon maaf apabila ada salah khilaf yang terjadi . Dan saya ucapkan selamat kepada Rektor INSTIPER 2019-2023 Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. Selamat bertugas, semoga INSTIPER semakin maju dan kemitraan strategis bersama stakeholder terus dapat ditingkatkan”.

Rektor terpilih Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. dalam sambutannya menanggapi sambutan yang disampaikan oleh Dr. Ir. Purwadi, MS. Dr. Ir. Harsawardana,M.Eng. menyampaikan, “Hari ini merupakan hal yang sangat penting bagi INSTIPER, karena pada hari ini merupakan satu tahapan pergantian kepemimpinan di INSTIPER. Hal ini merupakan hal yang wajar bahwa setiap masa jabatan pemimpin pasti ada masanya. Jika selama ini pergantian kepemimpinan di INSTIPER mendapatkan perhatian dari pihak eksternal terutama dari stakeholder mitra kerja INSTIPER yang menayakan jika rektor INSTIPER ganti nanti bagaimana, kedepannya INSTIPER akan seperti apa, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Menurut saya pribadi, siapapun Rektornya yang menggantikan Rektor terdahulu harus tetap berada di jalur yang sama dengan yang telah digariskan oleh rektor-rektor terdahulu dan meneruskan program yang sudah berjalan”.

Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng menambahkan, “Begitu juga dengan saya, saya akan meneruskan hal-hal yang baik yang telah dilakukan oleh Dr, Ir. Purwadi, MS. Kedepan pembangunan INSTIPER akan lebih mengedepankan pada pembangunan SDM di INSTIPER sesuai dengan arahan dari YPKPY. Pada akhirnya saya memohon kepada Bapak/Ibu sekalian yang merupakan sivitas akademika baik itu Dosen, Karyawan, Mahasiswa dan komponen lainnya untuk meneruskan karya–karya besar INSTIPER”.

Agrofood Expo 2019; Industri 4.0 untuk Menyongsong Kejayaan Perkebunan Indonesia

Jakarta, - Arif Amin Hakim, Peneliti Manajemen Pengembangan Teknologi PT. RPN (Riset Perkebunan Nusantara), menjelaskan, revolusi Industri 4.0 saat ini telah menjadi keniscayaan mengingat perkembangan teknologi yang sangat pesat terutama internet. Industry perkebunan pun mau tidak mau akan terkena.

Namun sebagai sebuah keniscayaan, revolusi industri 0.4 merupakan peluang bagi perkembangan industry perkebunan di Indonesia. Yaitu dengan memasukkan aspek teknologi internet untuk menyelesaikan masalah terkini di perkebunan.

Kunci implementasi industri 0.4 harus ada peralatan yang memadai, protocol monication, jaringan internet di lokasi, keamaanan, kemampuan sumber daya manusia untuk melakukan pencatatan data yang diperlukan, memastikan semua lini peralatan di perusahaan perkebunan berjalan secara integrasi serta kemampuan analisis database untuk mengevaluasi kinerja perkebunan.

“Langkah awalnya adalah ketahui apa permasalahan di industri perkebunan, bagaimana kita bisa memasukkan aspek teknologi internet untuk menyelesaikan masalah terkini. Lalu mengembangkan teknologi untuk mengatasinya, dengan begitu indusri 4.0 bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di perkebunan,” jelas Arif dalam acara Agro Food Expo 2019, pada hari Sabtu (29/06) di Jakarta Convention Center, Senayan.

Salah satu project yang dilakukan PPKS PT. RPN saat ini, mengembangkan inovasi drone untuk memudahkan proses pemetaan tanaman sawit dengan menghubungkannya ke GPS sehingga langsung didapatkan koordinatnya. Dimana dengan pemanfaatan drone dapat memonitor unsur hara dalam tanaman dengan melihat dari warna daunnya, cahaya, dan lain-lain.

“Jadi dalam industry 4.0 jaringan internet penting. beberapa waktu lalu, ada perusahaan telekomunikasi yang menawarkan jaringan internet berbasis satelit yang memungkinkan koneksi jaringan hingga ke daerah perkebunan yang kebanyakan wilayah terpencil,” ujar Arif.

Sementara itu menurut Iriana,Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia, tak hanya sebagai solusi permasalahan teknis di hulu, teknologi industry 4.0 bisa dimanfaatkan untuk industry hilir perkebunan. Seperti untuk meningkatkan branding produk-produk perkebunan Indonesia. Sebab dengan kemajuan teknologi, setiap produk yang dimiliki petani bisa otomatis terkoneksi dengan konsumen di luar sana.

Hal itu merupakan sebuah peluang besar. Ia pun mengakui bahwa dengan memanfaatkan dukungan teknologi industry 4.0 ini, brand white tea miliknya pun berhasil menjadi salah satu rangkaian produk teh termahal di indonesia. Salah satunya, dengan memanfaatkan platform digital, Instagram.

Menurutnya, dalam membangun platform digital, harus memperhatikan tiga aspek. 1) tetapkan identitas brand /merk. 2) demand yang memenuhi kebutuhan konsumen, dan 3) eksperiensial produk.

“Eksperiensial produk harus digambarkan, seperti dalam instagram story. Kita bisa tunjukkan bagaimana saat menyeduh white tea, kalau sudah siap diminum dia berdiri, ketika batang teh seperti akan tidur berarti sudah selesai. Ini proses seduh teh yang benar,” jelas pemilik brand Sila Tea tersebut.

Ia yakin dengan memberitahukan proses penyeduhan teh lewat digitalisasi bisa meningkatkan branding komoditas, sehingga ketertarikan konsumen akan semakin tinggi. Inilah yang Iriana maksud dengan memanfaatkan teknologi 4.0 sebagai basis media untuk berkomunikasi dengan pasar dan mengetahui yang diinginkan konsumen.

“Seperti teh untuk kesehatan harus dari teh organik maka kebunnya juga harus kita perlihatankan dimana teh itu ditanam, kapan dipetik, jam berapa dihasilkan, bagaimana diproses, maka ketertarikan konsumen akan lebih tinggi,”pungkasnya. (NM)

 

Lebaran Telah Lewat, Harga Cabai Masih Mengalami Kenaikan

Jakarta, - Meski lebaran telah usai, harga sejumlah komoditas pangan masih terpantau mengalami kenaikan. Terutama pada komoditas cabai. Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga seluruh jenis cabai yang dijual diketahui naik Rp900 per Kilogram (Kg) sampai Rp1.850 per Kg dalam sepekan terakhir ini.

Tercatat kenaikan tertinggi, terutama terjadi pada jenis cabai merah keriting. Periode 17-21 Juni, kenaikannya mencapai 3,77 persen atau menjadi rata-rata Rp50.950 per Kg.

Kenaikan harga termahal ada di Kota Palangkaraya, di mana cabai merah keriting dibanderol Rp75 ribu per Kg dan di Banda Aceh dipatok Rp71.250 per Kg.

Sementara, harga rata-rata cabai rawit hijau sebesar Rp40.250 per Kg atau naik 3,34 persen (Rp1.300). Di beberapa kota besar di bagian barat Indonesia, bahkan harganya menyentuh Rp57 ribu - Rp65 ribu per Kg.

Untuk cabai merah besar, harga rata-ratanya dipatok Rp50.150 per Kg atau naik 2,14 persen. Namun, di Pangkal Pinang harga cabai merah besar tembus Rp80 ribu per Kg, dengan harga terendah Rp30 ribu an per Kg di beberapa kota lainnya.

Jenis cabai lainnya, yakni cabai rawit merah yang tercatat naik 2,26 persen atau Rp900 per Kg menjadi rata-rata sebesar Rp40.750 per Kg. Namun, harga di beberapa kota di wilayah timur tembus hingga Rp90 ribu per Kg.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id