Menu
SAJIAN ISI

Indonesia Ekspor Ratusan Ribu Ton Biji Pinang asal Jambi

Sebelum di ekspor, biji pinang asal Jambi sebanyak 320.260 ton dengan nilai Rp. 9,1 miliar disertifikasi Badan Karantina Pertanian (Barantan) sebelum diterbangkan ke Thailand dan India. Biji pinang ini biasanya digunakan sebagai bahan baku masakan, kosmetik, permen dan obat-obatan.

Menurut Ali Jamil, Kabarantan, pemeriksaan berupa tindakan karantina yang dilakukan terhadap komoditas ini sehingga dapat memenuhi persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) atau persyaratan kesehatan karantina dari negara mitra dagang, yaitu bebas hama dan penyakit target.

"Kementerian Pertanian berkomitmen meningkatkan ekspor berbagai komoditas pertanian, tujuannya agar para petani dan pelaku usaha bisa mendapat nilai tambah yang proporsional, selain menjadi masukan devisa bagi negara," kata Ali Jamil, saat melepas ekspor komoditas pertanian di Pelabuhan Talang Duku, Jambi, Sabtu (11/5).

Ali menambahkan, petugas karantina melakukan pemeriksaan dokumen dan fisik, memastikan komoditas pertanian tersebut bebas hama dan penyakit. Jika ditemukan adanya investasi hama, maka dilakukan tindakan karantina seperti fumigatasi atau tindakan karantina lainnya guna mengeliminasi hama tersebut.
"Hal ini agar tidak terjadi penolakan saat tiba di negara tujuan," jelasnya.

Berdasaskan catatan, biji pinang menyumbang 16.7% dari total ekspor komoditas pertanian asal Jambi di tahun 2018, berada di posisi kedua terbesar dibawah komoditas karet yang menyumbang 60%. Selain biji pinang, pada acara tersebut juga diekspor cangkang sawit sebanyak 3.700 ton senilai Rp. 5,6 miliar dengan tujuan Thailand dan kelapa bulat sebanyak 27 ton senilai Rp. 378 juta dengan tujuan Pakistan. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Karantina Pertanian Jambi, Bambang Hesti.

Provinsi Jambi sendiri memiliki potensi yang besar dibidang pertanian. Dari sistim otomasi perkarantinaan, IQFAST di Karantina Pertanian Jambi tercatat lalu lintas ekspor komoditas pertanian asal Jambi di tahun 2018 mencapai total nilak Rp. 3,95 triliun. Dengan komoditas unggulan diantaranya cangkang sawit, biji pinang, karet lempengan, crude coconut oil (CCO) atau minyak kelapa dan kayu olahan. Dan 5 negara tujuan ekspor terbesar adalah Jepang, Thailand, Korea Selatan, India dan Malaysia tambah Bambang.

Jamil menyampaikan pesan agar petani dan eksportir mendapatkan keuntungan sesuai harapan, langkah yang perlu dilakukan diantaranya dengan memperhatikan waktu panen dan cara penanganan pasca panen yang tepat, sistem sortasi yang efektif, serta efisiensi waktu dan biaya penanganan sampai komoditas siap diekspor. Ia juga menekankan agar ekspor pertanian tersebut dapat ditingkatkan, baik volumenya maupun tujuan negara mitra dagang yang baru. "Caranya dengan meningkatkan daya saing ekspor kita dibandingkan dengan sesama negara produsen lainnya," jelasnya.

Kabarantan juga mengingatkan bahwa bagi masyaralat terutama para milenial di Jambi yang ingin menjadi eksportir pertanian, Kemtan lewat program Agro Gemilang (Ayo Gerakkan Ekspor Produk Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa) membuka pelatihan berbagai komoditas pertanian guna memenuhi standar sanitary dan phytosanitary negara tujuan.

"Hubungi saja kantor karantina terdekat dan ikuti jadwal pelatihannya, mereka juga bisa melakukan bimbingan secara mandiri ke petugas karantina jika diperlukan. "Pokonya kami support penuh, supaya ekspornya lancar," terang Jamil.

Gubernur Provinsi Jambi yang diwakil oleh Asisten Dua Sekretariat Daerah Provinsi Jambi, Agus Sunarya yang hadir dan melepas ekspor dalam acara tersebut menyampaikan bahwa potensi pertanian Jambi harus didukung dengan potensi sumberdaya manusia agar mampu bersaing dan memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk para petani dan pelaku usaha.

"Apresiasi yang tinggi disampaikannya kepada Kementerian Pertanian dan Karantina Pertanian, kita semua terutama dari institusi pemerintah harus mendukung pemberdayaan sumberdaya pertanian lokal, agar mampu go internasional supaya manfaat buat semua. Kepada para eksportir PT Berkah Enegri Abadi, PT Indopak Trading, PT dan Indo Lanka Usaha Mandiri serta pelaku usaha lainnya, ia mengajak untuk terus lakukan inovasi agar produk pertanian yang diekspor merupakan produk hilir sehingga memberi nilai tambah," pungkas Agus.

Selengkapnya

Puas Kinerja Petani Kentang, Mentan Tingkatkan Bantuan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi hasil kerja para petani Jawa Barat, dengan melepas ekspor secara langsung 5 ton kentang senilai Rp 340 miliar ke Singapura. Pelepasan ekspor perdana komoditas hasil panen petani asal Kabupaten Garut ini dilakukan di lapangan GOR Ciateul, Garut pada Kamis (21/3/2019).

“Produksi pertanian kita terus membaik. Untuk jagung kita sudah bendung impor 3,5 juta ton, bahkan sudah ekspor di 2018 sebesar 850 ribu ton. Sekarang, kentang konsumsi kita mulai ekspor setelah kita stop impor di 2018,” kata Amran dihadapan 5.000 petani dari 23 Kecamatan di Garut.

Pada saat yang sama, Amran juga melepas dua komoditas lainnya yakni 19 ton manggis senilai Rp 392 juta, dan barecore atau plywood 591,3 M3 dengan nilai Rp 1,4 miliar tujuan Tiongkok. Amran juga mengapresiasi para pelaku usaha di bidang agribisnis yang telah turut mendukung dan memberi nilai tambah bagi petani yang turut hadir, masing-masing PT. Alamanda Sejati Utama, PT. Sumber Jaya Manggis, dan PT. Bineatama Kayone Lestari.

Sebagai komoditas wajib lapor Karantina, sesuai dengan persyaratan mitra dagang, Amran menjamin jajarannya di Badan Karantina Pertanian (Barantan) akan lakukan tugasnya dengan baik. Barantan juga tengah gencar galakkan ekspor dengan memberikan bimbingan teknis pelaku agribisnis masuki pasar ekspor, Agro Gemilang.

"Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah ekspor komoditas pertanian berbasis wilayah sekaligus menambah jumlah eksportir di sektor pertanian dari kalangan muda. Tidak saja sebagai trade facilitator, memperlancar perdagangan jajaran Barantan juga siap kawal petani,” terang Amran.

Sementara itu, Kepala Barantan Ali Jamil yang ikut hadir mendampingi kunker Mentan bertajuk Apresiasi dan Sinkronisasi Program Kementerian Pertanian 2019 ini menyampaikan, berdasarkan data dari sistem otomasi Barantan 2018 tercatat eksportasi komoditas kentang melalui sertifikasi di Karantina Bandung sebesar 1.000 ton dengan nilai ekonomi Rp 20 miliar.

Sementara itu untuk ekspor manggis, dalam kurun waktu triwulan pertama 2019, terdata total 1.261,2 ton dengan nilai Rp 17,6 miliar tujuan China, dan ekspor barecore total 926 kontainer dengan nilai Rp. 129,6 milyar dengan tujuan China dan Timur Tengah.

Selain itu, Jamil juga menyampaikan selama periode Januari-Maret 2019, ekspor sayuran tercatat sebanyak 293 ton, dengan frekuensi pengiriman sebanyak 372 kali, dan ekspor manggis sebanyak 833 ton dari total 1.586 ton atau sebesar 52.5 persen dari total ekspor manggis asal sertifikasi Karantina Bandung. "Ekspor sayuran dan buah lainnya telah menyumbang devisa sekitar US $ 3 juta, dan melati sekitar US $ 1.5 juta selama kurun waktu 2018-2019," tambahnya.

Dalam sambutannya, Bupati Garut Rudy Gunawan mengapresiasi kinerja ekspor pangan selama Pemerintahan Jokowi-JK. Menurutnya, Rudi menyatakan sebagai bukti dari dampak inovasi pertanian yang dilakukan Kementan. Ia berharap pendampingan khususnya bagi para petani di Garut untuk memasuki pasar ekspor dapat terus digalakkan.

Secara gamblang ia menyatakan bantuan Kementan ke Kabupaten Garut selama 4 tahun sudah mencapai 1,5 triliun lebih. Saat menerima tambahan bantuan Kementan dengan total nilai Rp 53,9 milyar, Rudi berharap perhatian besar pemerintah dalam bentuk alat mesin pertanian (alsintan), benih, domba, ayam, dan lain-lain itu dapat menjadikan pemicu semangat bagi petani di wilayah Garut.

"Berbagai bantuan produktif terutama dari sektor pertanian berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di Garut dari 11 persen, 9 persen," kata Rudy.

Selain melepas ekspor, Mentan Amran juga menyerahkan aplikasi i-MACE (Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export) yang bertujuan untuk mendata laluluntas ekspor pertanian secara real time di Jawa Barat.

"Harapannya, ini dapat digunakan Pemerintah Daerah sebagai landasan kebijakan pengembangan komoditas unggulan. Ini program nyata untuk mendongkrak ekspor di seluruh Indonesia, termasuk dari kontributor ekspor terbesar, Provinsi Jawa Barat,” tandas Amran.

Selengkapnya

Bersama Pentani Milenial, Kementan Angkat Petani Bandung Barat Menuju Petani Mandiri

Lembang - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi membuka Grand Launching Desa Tani Expo Petani Milenial #2019TetapPetaniBerdayaDitanahSendiri yang diselenggarakan oleh Kelompok Tani MACAKAL bekerjasama dengan Dompet Dhuafa di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Bandung Barat Provinsi Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019.

Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi mengapresisi kegiatan launching Desa Tani Expo Petani Milenial tersebut. Menurutnya upaya tersebut merupakan hal baik karena untuk mengangkat petani, baik itu petani dhuafa, penggarap, buruh supaya lebih mandiri dengan pola-pola sinergi seperti ini.

"Saya harapkan pola-pola seperti ini diterapkan di tempat-tempat lain, sehingga jangkauannya bisa lebih luas. Manfaatnya luar biasa, karena yang diproduksipun produk-produk sayuran yang kelas supermarket dan ekspor, Ini sangat baik. Jadi komprehensif, mulai dari pembinaan hulu, kemitraannya, hilir sampai pasar," terang Suwandi di Bandung Barat, Rabu (13/03/3019).

Selain itu, pola sinergi seperti ini juga saya lihat sangat bagus, terbukti dengan banyak pihak yang ingin bermitra dan membangun kerjasama dengan petani. "Saya lihat tadi ada MoU salah satunya dengan Bank BJB dan ini saya harap terus di tingkatkan," imbuh Suwandi.

"Kita aka mensupport penuh dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan, kita akan support," tambah Suwandi.

Terkait dengan lahan pertanian yang tersedia di Bandung Barat menurut Suwandi lahannya subur dan pengelolaannya efisien. Saya berharap tingkatkan pola bertani tumpangsari, ramah lingkuangan dan mengikuti SOP.

"Produksi kita akan naik, sekaligus ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya.

Mengenai konsep pertanian milenial yang diharapkan oleh pemerintah saat ini sudah ada pada Kelompok Tani MACAKAL ini. "Ini sudah contoh generasi Milenial, generasi muda bangkit. Image kita selama ini pertanian itu becek-becek dan kotor-kotor. Contonya apa, ini sudah dilakukan mekanisasi, pakai teknologi, produknya market oriented, dan pola transaksinya pun udah mengikuti generasi milenial," terang Suwadi.

"Jadi teknologi informasi, teknologi mekanisasi, teknologi yang lain kita manfaatkan untuk menggenjot produksi selada air, baby buncis kenya, baby timun, horenzo, tomat beef, kale dan lainnya. Tata niaga untuk pasar supermarket dan ekspor. Manajemen kelembagaannya tolong naik kelas menjadi koperasi, BUMP atau sejenisnya" tambah Suwandi.

Sementara itu Bupati Bandung Barat AA Umbara mengaku bangga dan mengapresiasi upaya Kelompok Tani MACAKAL dalam memajukan pertanian. Baginya, hal tersebut menjadi inspirasi karena dirinya juga lahir dan dibesarkan di keluarga petani.

"Saya dulu bertani, dan hari ini barangkali pertanian tidak seperti jaman jadul lagi. Karena sudah zaman now. Makanya sekarang ada petani milenial. Ini inspirasi buat kami terutama pemerintah daerah Bandung Barat," kata Umbara.

Sebagai wujud dukungan terhadap petani, pada tanggal 21 Maret 2019 mendatang pihaknya akan mengundang para petani dan kelompok tani dan akan diberikan bantuan Alsintan.

"Saya akan memberikan 1.000 traktor untuk petani Kabupaten Bandung Barat, dan didalamnya ada semua yang dibutuhkan petani," ujar Umbara.

Ketua Kelompok Tani MACAKAL, Triana dalam sambutannya mengucapakan banyak terimakasih kepada berbagai pihak, baik itu Dirjen Hortikultura Kementan, Bupati Bandung Barat, Dinas Pertanian Jawa Barat serta Dompet Dhuafa sebagai mitra Kelompok Tani MACAKAL.

"Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak. Ini merupakan penyemangat bagi kami sebagai petani di Cibodas," kata Triana.

Menurutnya, Kelompok Tani MACAKAL siap memajukan pertanian bersama para petani yang ada disekitar Desa Cibodas. Untuk itu kata Triana adanya dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak lain sangat dibutukan.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Barat Andriyansyah menuturkan setiap hari ada petani dapat memanen buncis 100 kg.

"Sebanyak 12 petani binaan tersebut kami berdayakan dalam program yang bernama desa tani dilahan seluas 1,2 hektar di kampung Ateng Lembang ini. Program ini berjalan sejak akhir tahun 2018 lalu,"ujar Andriansyah.

Andriansyah melanjutkan, desa tani merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Jabar. Desa tani hadir untuk mengatasi masalah kesejahteraan para petani yang ada di desa Cibodas.

Dan dalam pelaksanaan pembedayaan petani tersebut, Dompet Dhuafa Jabar bermitra dengan Kelompok Tani MACAKAL. Kelompok Tani MACAKAL lah yang membantu melakukan ekspor ke Malaysia.

"Adanya kolaborasi dengan mitra lokal diharapkan bisa semakin memudahkan dan melejitkan tujuan program," imbuh Andriansyah.

Selengkapnya

Ekspor Durian lokal Ranah Minang Naik 353 Persen

Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus meningkatkan pengembangan buah-buahan lokal asli tanah air salah satunya adalah buah durian atau yang kita kenal dengan sebutan King of Fruits. Kemarin, Kamis (28/2/2019), Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, bersama dengan anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra, Assisten II Pemda Provinsi Sumatera Barat Benni Warlis berkunjung ke Solok mencari durian lokal khas setempat. Salah satu pohon durian yang disambangi Dirjen Suwandi dan rombongan adalah kebun 40 hektar dengan 4.000 pohon milik Pak Anjung di Kecamatan Kubung. Jenis durian lokal yang ditanam belum dirilis antara lain jantung selayo, tembaga selayo, tembaga emas, tembaga super, kunyit super, sanggan, sehelai sarawq, kubung, madu racun, maupun bangau berat berkisar 3,5 hingga 6,5 kg per butir. Anjung pemilik kebun durian tersebut mengatakan membudidaya jenis durian Matahari yang pada saat panen raya mampu berbuah paling banyak 1.000 butir per pohon. Namun harga durian di kebun masih murah di petani Rp 15.000 per butir. "Harga di petani ini berbeda dengan di Jakarta bisa mencapai harga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per butir," ujarnya. Menurut Anjung, perbedaan harga tersebut justru merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup terbuka. Dia memiliki durian lokal yang unik, belum ada di daerah lain yakni jenis Madu dan Racun yang bisa berbuah hingga mencapai berat 8 kilogram per butir. "Jenis durian lainnya adalah durian Madu Racun. Salah satu keunikan durian tersebut adalah satu butir durian Madu Racun tidak akan habis untuk 4 orang. Saking besarnya durian ini sehingga sering disebut dengan Durian Galon. Pohon durian ini bisa berbuah 800 sampai 1.000 buah per pohon," ungkap Anjung Anjung menjelaskan di kebunnya juga terdapat durian jenis Bango yang salah satu keisitimewaannya adalah memiliki rasa tidak kalah dengan durian Musang King. Satu butir durian Bango bisa dijual Rp 350 ribu per butir. Menurutnya, supaya pohon durian berbuah lebat, caranya menerapkan aturan tanaman sesuai dengan kaidah SOP. "Kami benar-benar mengikuti setiap tumbuh kembangnya durian seperti pada pemberian pupuk organik, pencegahan hama penyakit dan sebagainya," sambungnya. Anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin menyatakan kepuasannya dapat mencicipi nikmatnya durian khas Solok. Sebagai warga asli Solok, dia merasa bangga dengan beragamnya jenis durian yang ada di tanah air khususnya asli Solok. "Di sini tidak hanya dikenal beras dan kopi maupun bawang merahnya, tetapi duriannya juga hebat," ujarnya. Hasanuddin berharap agar pemerintah dalam hal ini Kementan melanjutkan komitmennya untuk memberikan perhatian terhadap pengembangan buah-buahan asli tanah air. "Khususnya buah-buahan yang berasal dari kekayaan alam Solok," pintanya. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Chandra menyampaikan apresiasi atas perhatian Kementan dan DPR RI. Hal tersebut bisa memberikan semangat kepada petani untuk terus berkebun dengan baik dan mempromosikan durian lokal khas Solok agar bisa diterima masyarakat luas yang pada gilirannya dapat memperluas pasar durian untuk meningkatkan kesejahteraan petani durian. "Saat ini terdapat beberapa durian jenis baru yag dapat dikenalkan kepada masyarakat seperti Salai Sarawa Serayo, Jantung Sedayo dan lain sebagainya," sebutnya. Dirjen Hortikultura Suwandi menjelaskan durian adalah buah yang paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia setelah itu jeruk. Selain rasanya yang nikmat durian juga banyak memberi manfaat untuk kesehatan tubuh manusia seperti kaya akan protein, serat, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin C, Kalsium, Kalium dan Fosfor "Kami berpesan agar buah-buah durian unggulan lokal segera didaftarkan untuk diberi nama varietas sehingga semakin mudah dikenal oleh anggota masyarakat dan yang terpenting adalah bisa dikomersilkan," ucapnya. Suwandi juga mengharapkan bantuan semua instansi terkait untuk selalu memberikan pendampingan agar setiap sumberdaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelola dengan baik. Kemudian menghasilkan produk durian unggulan yang bisa bersaing dengan durian dari negara lain. "Indonesia memiliki keragaman jenis dan varietas durian lokal. Varietas durian unggul yang sudah dikenal masyarakat seperti durian Pelangi dari Papua, durian Merah dari Banyuwangi, durian Srobut dari Kalimantan Barat, Durian Bawor Romo Banyumas, durian Petruk, durian Matahari dan banyak jenis lainnya," bebernya. Suwandi pun menyebutkan pasar durian sangat terbuka luas dan durian lokal digemari baik di dalam negeri dan mampu bersaing di pasar ekspor. Buktinya, Indonesia pada tahun 2017 masih defisit neraca perdagangan durian, namun seiring berbagai program menggerakkan mutu dan mendorong ekspor. "Kini pada 2018 ekspor durian lebih tinggi dari pada impornya, sehingga neraca perdagangan durian sudah surplus 733 ton," tuturnya. Mengacu pada data BPS Tahun 2017, ekspor durian hanya 240 ton sementara impor lebih besar mencapai 764 ton sehingga neraca perdagangan defisit 524 ton. Namun ekspor durian 2018 melonjak 1.084 ton, impor hanya 351 ton artinya neraca perdagangan surplus 733 ton. "Volume ekspor durian 2018 naik 353 persen dibandingkan 2017," pungkasnya Suwandi.

Selengkapnya

Ekspor Durian lokal Ranah Minang Naik 353 Persen

Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus meningkatkan pengembangan buah-buahan lokal asli tanah air salah satunya adalah buah durian atau yang kita kenal dengan sebutan King of Fruits. Kemarin, Kamis (28/2/2019), Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, bersama dengan anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra, Assisten II Pemda Provinsi Sumatera Barat Benni Warlis berkunjung ke Solok mencari durian lokal khas setempat. Salah satu pohon durian yang disambangi Dirjen Suwandi dan rombongan adalah kebun 40 hektar dengan 4.000 pohon milik Pak Anjung di Kecamatan Kubung. Jenis durian lokal yang ditanam belum dirilis antara lain jantung selayo, tembaga selayo, tembaga emas, tembaga super, kunyit super, sanggan, sehelai sarawq, kubung, madu racun, maupun bangau berat berkisar 3,5 hingga 6,5 kg per butir. Anjung pemilik kebun durian tersebut mengatakan membudidaya jenis durian Matahari yang pada saat panen raya mampu berbuah paling banyak 1.000 butir per pohon. Namun harga durian di kebun masih murah di petani Rp 15.000 per butir. "Harga di petani ini berbeda dengan di Jakarta bisa mencapai harga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per butir," ujarnya. Menurut Anjung, perbedaan harga tersebut justru merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup terbuka. Dia memiliki durian lokal yang unik, belum ada di daerah lain yakni jenis Madu dan Racun yang bisa berbuah hingga mencapai berat 8 kilogram per butir. "Jenis durian lainnya adalah durian Madu Racun. Salah satu keunikan durian tersebut adalah satu butir durian Madu Racun tidak akan habis untuk 4 orang. Saking besarnya durian ini sehingga sering disebut dengan Durian Galon. Pohon durian ini bisa berbuah 800 sampai 1.000 buah per pohon," ungkap Anjung Anjung menjelaskan di kebunnya juga terdapat durian jenis Bango yang salah satu keisitimewaannya adalah memiliki rasa tidak kalah dengan durian Musang King. Satu butir durian Bango bisa dijual Rp 350 ribu per butir. Menurutnya, supaya pohon durian berbuah lebat, caranya menerapkan aturan tanaman sesuai dengan kaidah SOP. "Kami benar-benar mengikuti setiap tumbuh kembangnya durian seperti pada pemberian pupuk organik, pencegahan hama penyakit dan sebagainya," sambungnya. Anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin menyatakan kepuasannya dapat mencicipi nikmatnya durian khas Solok. Sebagai warga asli Solok, dia merasa bangga dengan beragamnya jenis durian yang ada di tanah air khususnya asli Solok. "Di sini tidak hanya dikenal beras dan kopi maupun bawang merahnya, tetapi duriannya juga hebat," ujarnya. Hasanuddin berharap agar pemerintah dalam hal ini Kementan melanjutkan komitmennya untuk memberikan perhatian terhadap pengembangan buah-buahan asli tanah air. "Khususnya buah-buahan yang berasal dari kekayaan alam Solok," pintanya. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Chandra menyampaikan apresiasi atas perhatian Kementan dan DPR RI. Hal tersebut bisa memberikan semangat kepada petani untuk terus berkebun dengan baik dan mempromosikan durian lokal khas Solok agar bisa diterima masyarakat luas yang pada gilirannya dapat memperluas pasar durian untuk meningkatkan kesejahteraan petani durian. "Saat ini terdapat beberapa durian jenis baru yag dapat dikenalkan kepada masyarakat seperti Salai Sarawa Serayo, Jantung Sedayo dan lain sebagainya," sebutnya. Dirjen Hortikultura Suwandi menjelaskan durian adalah buah yang paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia setelah itu jeruk. Selain rasanya yang nikmat durian juga banyak memberi manfaat untuk kesehatan tubuh manusia seperti kaya akan protein, serat, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin C, Kalsium, Kalium dan Fosfor "Kami berpesan agar buah-buah durian unggulan lokal segera didaftarkan untuk diberi nama varietas sehingga semakin mudah dikenal oleh anggota masyarakat dan yang terpenting adalah bisa dikomersilkan," ucapnya. Suwandi juga mengharapkan bantuan semua instansi terkait untuk selalu memberikan pendampingan agar setiap sumberdaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelola dengan baik. Kemudian menghasilkan produk durian unggulan yang bisa bersaing dengan durian dari negara lain. "Indonesia memiliki keragaman jenis dan varietas durian lokal. Varietas durian unggul yang sudah dikenal masyarakat seperti durian Pelangi dari Papua, durian Merah dari Banyuwangi, durian Srobut dari Kalimantan Barat, Durian Bawor Romo Banyumas, durian Petruk, durian Matahari dan banyak jenis lainnya," bebernya. Suwandi pun menyebutkan pasar durian sangat terbuka luas dan durian lokal digemari baik di dalam negeri dan mampu bersaing di pasar ekspor. Buktinya, Indonesia pada tahun 2017 masih defisit neraca perdagangan durian, namun seiring berbagai program menggerakkan mutu dan mendorong ekspor. "Kini pada 2018 ekspor durian lebih tinggi dari pada impornya, sehingga neraca perdagangan durian sudah surplus 733 ton," tuturnya. Mengacu pada data BPS Tahun 2017, ekspor durian hanya 240 ton sementara impor lebih besar mencapai 764 ton sehingga neraca perdagangan defisit 524 ton. Namun ekspor durian 2018 melonjak 1.084 ton, impor hanya 351 ton artinya neraca perdagangan surplus 733 ton. "Volume ekspor durian 2018 naik 353 persen dibandingkan 2017," pungkasnya Suwandi.

Selengkapnya

Pemerintah, Satgas Pangan, Petani, dan Importir Sinergi Sukseskan Wajib Tanam Bawang Putih

Yogyakarta,- Pemerintah terus berupaya memperluas areal tanam bawang putih untuk mengejar target swasembada tahun 2021. Untuk mendukung target tersebut, importir diwajibkan memproduksi 5% dari total pengajuan rekomendasi impornya. Sejak diluncurkan program wajib tanam pada tahun 2017 lalu hingga awal 2019, setidaknya telah tertanam 5.500 hektar bawang putih oleh importir.

Selengkapnya

Upaya Kementan Dorong Durian Lokal Banjiri Pasar Dunia

hortus edisi feb 2019Melalui penyelenggaraan festival maupun gelar buah eksotik, Kementan bekerjasama dengan Dinas Pertanian setempat berupaya menggali dan mengembangkan produk hortikultura seperti durian dan buah-buahan lainnya untuk memasok kebutuhan dunia. Durian saat ini dijadikan salah satu komoditas ekspor unggulan produk hortikultura ndonesia. Festival Durian dan Gelar Buah Eksotik ke- 5 digelar Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, baru-baru ini. Acara yang melibatkan petani durian serta pecinta durian se-Kabupaten Banjar ini merupakan upaya pemerintah untuk terus mendorong pengembangan durian lokal unggul dari berbagai wilayah.

Selengkapnya

Kiat Kementan atasi Rontoknya Harga Cabai Jatuh

Jakarta-Ditengah perkembangan harga cabai yang terus menurun di tingkat petani di beberapa sentra produksi, pemerintah tidak tinggal diam. Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan berupaya melakukan konsolidasi untuk mencari solusi yang cepat, tepat dan bisa dieksekusi.

Senin malam, 4 Februari 2019 Direktur Jenderal Hortikutura, Suwandi mengumpulkan petani cabai andalan yang tergabung dalam champion cabai dari 20 dinas pertanian kabupaten sentra utama, dinas-dinas pertanian sentra cabai, KTNA, HKTI dan Satgas Pangan.

Menghadapi masalah menurunnya harga cabai, Suwandi memaparkan beberapa alternatif pilihan. "Kita dorong sektor hilir, seperti logistik distribusi, substitusi bahan olahan industri dengan cabai lokal, pengembangan industri olahan skala rumah tangga hingga bazar dan pasar lelang cabai", terang Suwandi.

“Selain itu kita bangun koordinasi dengan pihak asosiasi penerbangan Indonesia untuk meringankan biaya kargo dan mendorong pemerintah daerah tetap menginisiasi pasar lelang cabai”, tuturnya.

"Kita tidak bisa menyelesaikan semua masalah sendiri-sendiri, tapi perlu dukungan dari berbagai sektor", tambahnya.

Bahkan yang terpenting saat ini agar ongkos kargo pesawat untuk mengirim ke luar Jawa lebih murah, “saat ini banyak dikeluhkan naiknya biaya angkut pesawat”, jelas Dirjen termuda di Kementerian Pertanian ini.

Suwandi menyampaikan agar petani mengikuti 10 jurus stabilisasi pasokan dan harga stabil, yakni pertama, gunakan benih unggul sehingga produksi dan provitas naik; kedua ikuti anjuran manajemen pola tanam, diversifikasi tanam dan tumpang sari dari petani champion; ketiga pupuk organik ramah lingkungan dibuat sendiri sehingga efisien biaya; keempat, pestisida hayati ramah lingkungan dibuat sendiri; kelima, terapkan cara pasca panen yang baik; keenam hirilisasi olahan pasta, goreng dan lainnya dengan skala rumah tangga dan usaha kecil; ketujuh, bangun kemitraan dengan usaha olahan dan pasar; kedelapan, membentuk koperasi sehingga terkoordinir, teknologinya seragam dan hasil pasarnya bersama-sama; kesembilan, membentuk pasar lelang di level farmgate sehingga petani peroleh harga tertinggi, cash and carry dan tercipta one region produk bersama champion; kesepuluh membangun sistem logistik dan coldstorage untuk menyimpan produk dalam jumlah besar untuk memasok antar pulau maupun ekspor.

Kementan bersama Pemda dan Penyuluh membina petani untuk efisiensi input dengan cara memproduksi sendiri pupuk organik dan pestisida hayati ramah lingkungan, memfasilitasi benih unggul serta sarana pasca panen sesuai skala prioritas.

“10 jurus tersebut sebagian merupakan solusi jangka pendek dan sebagian solusi jangka menengah dan panjang”, ujar mantan Kapusdatin Kementan ini.

Dari hasil koordinasi dengan berbagai pihak, dihasilkan beberapa solusi yang bersifat jangka pendek, menengah dan panjang. Jangka pendek yang bisa dilakukan antara lain: Pemda dan ASN membeli langsung ke petani, membuka pasar tani di pusat keramaian, melakukan menjalin kemitraan dengan industri makanan, mencari alternatif angkutan yang lebih murah. Untuk jangka menengah meningkatkan provitas untuk menekan BEP dan pengembangan industri olahan. sedangkan untuk jangka panjang bisa dilakukan dengan penumbuhan unit pengolahan atau BUMD dengan dukungan logistik modern.

Suwandi juga menyampaikan beberapa solusi yang sifatnya mendasar dalam menjaga stabilisasi harga. "Kita harus hitung dulu berapa tingkat kebutuhan perwilayahan, baru kita hitung berapa yang harus kita tanam", terang pria yang akrab dipanggil Wandi ini

Suwandi menambahkan bahwa penanaman cabai tetap berbasis kawasan, namun harus dihitung berdasarkan kapasitas kebutuhan di masing-masing daerah. "Kuncinya satu, tingkat kepatuhan manajemen pola tanamnya harus dikawal ketat", tegasnya.

Hamid, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia menjelaskan bahwa pelaku usaha cabai Indonesia harus mampu mengembangkan diri baik teknologi maupun pemasaran. "Kalau kita bisa meningkatkan kemampuan dan teknologi, misal di budidaya atau pengolahan, banyak permasalahan cabai yang bisa kita selesaikan", terangnya.

Minimal dengan demikian dapat mengurangi resiko kerugian akibat harga fluktuatif, ‘’yang jadi masalah sebenarnya bukan harga yang murah saja, tetapi biaya produksi kita yang mahal, nah kita harus bisa mengurangi biaya usaha tani agar cabai dan petani kita bisa tetap eksis", tuturnya.

Selengkapnya

Bersama Gempita, Kementan Genjot Buru Selatan Jadi Sentra Bawang Putih

Pencanangan sebagai Lumbung bawang di Kabupaten Buru Selatan ditandai panen bawang menyambut penetapan daerah ini sebagai sentra produksi bawang putih oleh Kementerian Pertanian yang digelar secara Marathon.

Terhitung sejak, Sabtu (26/01)2019 dilanjutkan hingga Senin, (28/1)2019 di dua lokasi berbeda. Panen bawang berlokasi di desa Sini, Kecamatan Waesama dihadiri langsung direktur PPHP Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian bersama Sekda, Dandim, Kapolsek dan seluruh SKPD Kabupaten Buru Selatan.

Pencanangan Lumbung bawang putih dan jagung di hadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Buru Selatan M Laitupa, Ketua Kornas Gempita Muh.Riyada, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bursel Ridwan Nurdin. Kapolsek Namrole Korwil Gempita Maluku. Tampak hadir juga Kepala OPD Se Kabupaten Bursel, kepala cabang Bank BRI, BNI, Bank Maluku.

Koordinator Nasional Gempita Muh Riyada menjelaskan, bahwa program Gempita telah merekrut 500 ribu kelompok milenial untuk kembali ke sektor pertanian, Gempita meyakinkan kaum milenial untuk menjadikan lahan pertanian sebagai mesin uang.

Riyada menuturkan, sistem pertanian modern segala dukungan teknologi akan mangkrak bila kaum milenial tidak terlibat.

“kehadiran kaum milenial sebagai operator teknologi sekaligus akan menjadi bonus bagi petani di Buru Selatan. jasa pertanian modern mulai olah tanah sampai pemasaran akan disediakan Gempita bagi petani,” ungkap Riyada.

Untuk diketahui kelembagaan tani kaum milenial bernama Kelompok Usaha Bersama.
” ini wadahnya kaum milenial berinovasi disektor pertanian, ” Tambah Riyada.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buru Selatan, A.M. Latulipu dalam sambutannya mengapresiasi perhatian Kementerian Pertanian memberi kepercayaan pada Kabupaten Buru Selatan untuk wujudkan swasembada bawang putih melalui program Gempita.

” Kementerian Pertanian telah mengoperkan bola, ini peluang yang harus dismash dan dimanfaatkan oleh kaum muda kalau tidak kita pasti akan kebobolan. Ada 33 ribu hektar lahan untuk bawang putih sudah tersedia, tinggal kita bergerak semua, maka Buru Selatan akan menjadi sentra produsen bawang putih nasional, manfaat ekonominya luar biasa untuk mendongkrak kesejahteraan kita semua,” ungkap Sekda.

Kementerian pertanian telah mengalokasikan sarana produksi bawang putih sebanyak 140 ha untuk tahun 2019.
” Targetnya Kabupaten Buru Selatan akan memasok kebutuhan bawang putih untuk Provinsi Maluku, Maluku Utara dan Papua,” Ungkapnya lagi

Lanjutnya, apalagi dukungan sistem pertanian sudah disiapkan oleh kementerian, kalau selama ini petani bekerja sendiri-sendiri, olah tanah sendiri, tanam sendiri, panen sendiri, jual sendiri, makan sendiri. maka sekarang tidak boleh lagi.

” Pemda akan kerahkan semua dinas terkait untuk mendukung Gempita melayani petani hingga terjamin pendapatannya,” tegasnya.

Sekda juga menegaskan, semua dinas terkait harus bersama-sama manfaatkan peluang pertanian agar PAD daerah meningkat dari sektor pertanian saja akan berlimpah untuk dipakai sebagai modal pembangunan daerah.

” Program Kementerian Pertanian ini menjadikan tanah kita sebagai ATMnya rakyat Buru Selatan hidup kembali. Jadi Pemda Buru selatan siap mengawal dan dan wujudkan kepercayaan Menteri Pertanian, agar rakyat sejahtera dari pertanian khususnya bawang putih,” ungkapnya.

Selengkapnya

Gelar Festival Durian, Promosikan Durian Lokal

Festival Durian dan Gelar Buah Eksotik ke- 5 digelar Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, baru-baru ini. Acara yang melibatkan peserta petani durian serta pecinta durian se-Kabupaten Banjar ini merupakan upaya pemerintah untuk terus mendorong pengembangan durian lokal unggul dari berbagai wilayah.

Bertempat di lokasi Wisata Danau Tamiang Desa Mandi Kapau Barat, Kecamatan Karang Intan, acara tersebut juga untuk mencari data potensi dan varietas unggulan yang ada di Kabupaten Banjar.

Menurut Direktur Buah dan Florikultura, Kementerian Pertanian Sarwo Edhy, secara agroklimat durian bisa dikembangkan di Kabupaten Banjar dan bisa menjadi komoditas andalan. Ia berharap, sinergi antara pusat dan daerah terus dilakukan, karena Kementan tengah menggalakkan mengembangkan hortikultura baik dalam bentuk dukungan benih, alsintan, pestisida dan bantuan pasca panen.

"Kabupaten Banjar diharapkan terus mengembangkan sentra durian. Ke depan direncanakan buah-buah lokal dikembangkan menjadi ikon daerah. Saat saya berkeliling, setidaknya ada 11 varietas durian di Banjar ini dan rasanya luar biasa. Ini harus terus dikembangkan," kata Sarwo Edhy.

Kabupaten Banjar saat ini merupakan sentra produksi durian di Kalimantan Selatan. Terdapat enam kecamatan merupakan sentra produksi durian, yaitu Karang Intan, Aranio, Simpang Empat, Pengaron, Sambung Makmur dan Sungai Pinang. Khusus untuk Kecamatan Karang Intan, daerah ini terkenal sebagai daerah penghasil durian terbesar di Kabupaten Banjar.
Festival ini juga sebagai sarana promosi wisata yang dikembangkan sehingga lokasi tersebut bisa menjadi agrowisata sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Kabupaten Banjar merupakan daerah sentra produksi di Propinsi Kalimantan Selatan.

"Kontes Durian hari ini sekaligus dipadukan dengan Gelar Buah Eksotik Banjar dan pelaksanaannya dipilih di lokasi wisata Danau Tamiyang. Hal ini dimaksudkan sekaligus untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi warga setempat", ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar, Muhammad Fachry.

Terdapat varietas unggulan lokal yang diakui sebagai varietas unggulan nasional seperti Si Japang, Si Hijau, dan Si Dodol. Saat ini juga sedang didaftarkan 8 varietas lainnnya Si kolam, Si Pengantin, Bamban Paman Birin, Si Idangan, Dodol Mascinta, Si Gantang , Si Gading, Si Hintalu, Si Kuning Janar, Si Penyangat Kuning. Selain durian, varietas lain yang menonjol di antaranya Jeruk Siam Madang dan Pisang Manurun (Kepok). Dalam kontes durian kali ini, pemenang akan mendapat sejumlah hadiah dan akan didaftarkan varietasnya.

Fachry menjelaskan sejauh ini dukungan Kementerian Pusat bagus terhadap pengembangan hortikultura. Demikian halnya dengan penyuluh pertanian yang sangat aktif guna pengembangan durian ini. Potensinya juga semakin baik bahkan sekarang penanganan pasca panen menjadi perhatian untuk meningkatkan nilai jual.

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor dalam sambutannya menyampaikan, bahwa Mandi Kapau ini sangat luar biasa sekali dan bisa menjadi durian khas bumi Kalimantan Selatan. Bahkan ia meyakinkan kualitasnya bisa tandingkan dengan daerah lain. Dirinya beserta jajaran pun siap untuk bersinergi dan berkomunikasi dengan Kementerian Pertanian untuk pengembangan durian.

Turut hadir dalam festival ini Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian Erizal Jamal, Raudhatul Wardiah Ketua TP PKK Kabupaten Banjar, Ketua DPRD Kabupaten Banjar Muhammad Iqbal, Kepala DinasTPH Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman, Dewan Juri, Staf Ahli, Assisten dan Ka SKPD, Kepala Desa se-Kecamatan Karang Intan, PPL dan Mantri Tani se-Kabupaten Banjar.

Selengkapnya
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id