Menu
SAJIAN ISI

Metoda Karisiak untuk Kendalikan Hama Kakao

Hama pada Kakao Hama pada Kakao

Dengan menggunakan metoda karisiak, semut hitam akan bisa berkembang biak dengan baik. Semut hitam ini selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai predator bagi hama yang suka menyerang tanaman kakao. Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional dan berperan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber pendapatan devisa bagi negara. Namun dalam pengembangannya, tanaman ini bukannya tak memiliki kendala.

Selain faktor lahan, iklim, dan cara budidaya, faktor lain yang juga mempengaruhi tingkat keberhasilan tanaman kakao adalah penanganan yang tepat terhadap organisme pengganggu tanaman atau hama yang menyerang.

Serangga merupakan jenis hama yang jumlahnya terbesar untuk tanaman kakao di Indonesia (lebih dari 130 spesies). Namun hanya beberapa jenis yang benar-benar merupakan hama utama, yaitu penggerek buah kakao (Comonopomorpha cramarella Snellen ) atau PBK, kepik penghisap buah (Helopeltis antonii Sign.), ulat kilan (Hyposidra talaca Walker), dan penggerek batang atau cabang (Zeuzera coffeae).

Di antara keempat hama di atas, kepik penghisap buah merupakan salah satu hama yang sangat meresahkan petani kakao. Pasalnya, serangan hama ini dapat menurunkan tingkat produksi hingga kisaran 50 - 60%. Serangan yang berulang kali setiap tahun dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar karena tanaman kakao tidak dapat tumbuh dengan normal.

Pada komoditas kakao saat ini sudah dicanangkan gerakan nasional (Gernas) untuk mewujudkan “Green Cocoa” yaitu Program Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao yang ramah lingkungan serta menunjang pertanian organik. Salah satu musuh alami yang bisa dimanfaatkan adalah semut hitam (Dolichoderus thora-cicus), predator hama penghisap buah dan pucuk helopeltis.

Semut hitam (Dolichoderus thora-cicus) merupakan serangga predator yang potensial bagi pengendalian hama penghisap buah dan pucuk helopeltis spp pada tanaman kakao. Pengendalian Hama Secara Terpadu (PHT) lebih mengutamakan pemanfaatan agensia hayati. Untuk keperluan itu, perlu dijaga keberadaan populasi serangga predator semut hitam dengan membuat media sarang. Media sarang untuk semut ini terdiri dari banyak jenis daun-daun kering. Dedaunan kering ini secara keseluruhan dalam bahasa lokal di Sumatera Barat dikenal dengan sebutan ‘’karisiak’’.

Selengkapnya baca di Majalah HORTUS Archipelago edisi Februari 2015. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id