Menu
SAJIAN ISI

Harga Produk Hilir Kakao Diprediksi Stagnan

Harga Produk Hilir Kakao Diprediksi Stagnan

Tahun ini, harga produk hilir kakao diproyeksikan masih akan stagnan. Harga cocoa butter diperkirakan masih berada pada level US$ 6.500 per ton, dan harga cocoa powder pada kisaran US$ 1.700 hingga US$ 2.000 per ton. Stagnasi harga ini diakibatkan melonjaknya suplai dari Pantai Gading dan Ghana.

Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) mengatakan, stagnasi harga produk kakao olahan ini lantaran produksi biji kakao di negara produsen seperti Pantai Gading dan Ghana akan meningkat. "Meski permintaan naik, tetapi suplai dari Pantai Gading dan Ghana juga melonjak, sehingga harga di pasar dunia tidak terpengaruh," ujar Sindra baru-baru ini.

Bahkan, tambah Sindra, fluktuasi harga produk hilir kakao juga tergantung pada harga biji kakao. Saat ini harga biji kakao kering di tingkat petani lokal berkisar Rp 30.000 per kg. Kisaran harga ini masih cukup baik bagi petani kakao di Indonesia.

Ke depan, ancaman ketersediaan biji kakao untuk kebutuhan industri kakao olahan semakin tinggi, akibat penghentian program gerakan nasional peningkatan mutu dan produksi kakao (Gernas Kakao) yang telah berjalan sejak tahun 2009 hingga 2013.

Dalam lima tahun, jelas Sindra, program Gernas Kakao hanya menjangkau 450.000 hektar (ha) atau 30% dari total luas lahan kakao di dalam negeri yang mencapai 1,7 juta hektar. Alhasil, produksi kakao tak bisa mengejar kebutuhan biji kakao untuk kebutuhan industri pengolahan yang berkembang pesat.

Zulhefi SikumbangBerdasarkan catatan AIKI, kebutuhan biji kakao untuk memenuhi kebutuhan pengolahan kakao domestik pada tahun 2013 sekitar 300.000 ton. Pada tahun 2015 kebutuhan biji kakao untuk industri pengolahan kakao diprediksi naik menjadi 600.000 ton. Sementara itu, produksi kakao domestik rata-rata hanya 500.000 ton per tahun.

Kalau masalah ketersediaan pasokan biji kakao dalam negeri tak diperhatikan secara serius, imbasnya impor biji kakao bakal semakin melonjak.

Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mengatakan, meningkatnya tren impor biji kakao tersebut lantaran pertumbuhan produksi yang tidak seimbang dengan peningkatan kebutuhan bahan baku industri kakao olahan.

Selengkapnya baca di majallah HORTUS Archipelago edisi Maret 2015. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id