Menu
SAJIAN ISI

Pengusaha Minta Agar BK Kakao Dipatok 15%

Pengusaha Minta Agar BK Kakao Dipatok 15%

Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) mendesak pemerintah segera memberlakukan tarif bea keluar (BK) tunggal atas ekspor biji kakao sebesar 15%. Desakan tersebut diajukan menyusul terjadinya penurunan harga kakao di pasar internasional sejak akhir 2014 yang kemungkinan akan berlanjut.

Direktur Eksekutif AIKI, Sindra Wijaya mengatakan, saat ini, harga rata-rata kakao global sekitar US$2.900 per ton atau turun dari harga rata-rata per akhir 2014 sebesar US$3.000 per ton, sehingga BK yang berlaku saat ini sebesar 10%.

“Kami mengusulkan tarif BK tunggal tetap sebesar 15% atau sama dengan besaran yang diusulkan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Usulan tersebut sudah disampaikan kepada pemerintahan kabinet sebelumnya,” kata Sindra Wijaya, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Sindra, usulan tersebut diajukan menyusul terjadinya penurunan harga kakao di pasar internasional sejak akhir 2014 yang kemungkinan akan berlanjut. Saat ini, harga rata-rata kakao global sekitar US$2.900 per ton atau turun dari harga rata-rata per akhir 2014 sebesar US$3.000 per ton, sehingga BK yang berlaku saat ini sebesar 10%.

“Tarif BK yang berlaku sekarang diterapkan progresif, dari 0% hingga 15%. Kami sudah usulkan saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa sistem BK itu perlu direvisi, yakni diterapkan tunggal langsung flat 15%,” tegasnya.

Besaran BK yang berlaku saat, lanjut Sindra, akan menyulitkan industri pengolahan hilir kakao di dalam negeri. Pasalnya, industri di dalam negeri juga dikenakan beban PPN 10% untuk pembelian bahan baku biji kakao dan jika membeli dari impor ditambah 5% untuk bea masuk (BM), sehingga pembelian di luar negeri justru lebih murah dibandingkan di dalam negeri.

“Dengan sistem BK tunggal dan flat, pemerintah tidak perlu harus melakukan evaluasi bulanan untuk menentukan besarannya. Usulan ini mempertimbangkan pengenaan tarif serupa oleh negara produsen kakao lain, seperti Pantai Gading dan Ghana,” papar dia.

Sementara itu, Industri hilir kakao di dalam negeri diproyeksikan menyerap 750-800 ribu ton biji kakao pada 2015-2016. Produksi biji kakao nasional pun diharapkan mencapai 1 juta ton tahun yang sama dari 500-600 ribu ton pada 2012.

Selengkapnya baca di Majalah Hortus Archipelago edisi April 2015. Dapat diperoleh ditoko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id