Menu
SAJIAN ISI

Produksi Biji Kakao 2016 Merosot Dibanding 2015 Featured

Produksi Biji Kakao 2016 Merosot Dibanding 2015

Pesatnya pengembangan industri pengolahan kakao ternyata tak mampu diimbangi tersedianya bahan baku biji kakao di dalam negeri. Produksi biji kakao tahun 2016 diperkirakan hanya 350.000 ton, atau lebih rendah dari tahun 2015.

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang mengatakan, produksi kakao terus menurun dari tahun 2009 hingga tahun 2015. Meskipun, diakuinya kakao pernah mengalami puncak produksi pada tahun 2016 mencapai 650.000 ton.

“Produksi biji kakao tiap tahun terus menurun, di satu sisi kebutuhan terus meningkat 3%-4% setiap tahun,” ujar Zulhefi.

Berdasarkan data Askindo, pada tahun 2009 produksi biji kakao mencapai 542.075 ton, tahun 2010 turun menjadi 557.596 ton, tahun 2011 anjlok menjadi 460.809 ton, tahun 2012 sebesar 452.606 ton, 2013 sebanyak 444.035 ton, tahun 2014 368.925 dan tahun 2015 naik sedikit menjadi 377.000 ton.

Menurut Zulhefi, produksi biji kakao tahun 2016 hanya mencapai 350.000 ton. Hal ini  disebabkan adanya El Nino dan La Nina yang mengakibatkan anjloknya produksi biji kakao dalam negeri.

Tahun 2016 terjadi La Nina, curah hujan tinggi sehingga akibatnya produksi terganggu. Sementara itu, Askindo memprediksi, produksi biji kakao tahun 2017 mencapai 375.000 ton. Hal itu dapat terealisasi apabila cuaca sepanjang tahun ini normal.

Dikatakannya, cuaca basah yang terjadi tahun lalu kurang kondusif bagi tanaman kakao. Apalagi, hujan yang terlalu banyak juga patut diwaspadai terkait dengan adanya serangan hama maupun penyakit busuk buah kakao. Sebab, pohon kakao yang terserang bisa rontok bunganya dan bisa membuat biji yang sedang tumbuh menjadi busuk.

Zulhefi menambahkan, tahun ini dengan asumsi cuaca akan biasa-biasa saja maka produksi diprediksi akan membaik dari tahun lalu, yakni mencapai 375.000 ton. “Produksi sulit diprediksi karena tanaman kakao sensitif terhadap perubahan cuaca,” tukasnya.

Saat ini kondisi harga biji kakao di tingkat petani juga mengalami penurunan yakni sekitar Rp 30.000 per kilogram (kg), dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai sekitar Rp 40.000 per kg.
“Pendapatan petani kakao rendah hanya Rp 15 juta per tahun. Sementara petani jagung dapat penghasilan Rp 20 juta, maka petani kakao mulai beralih tanaman lain yang lebih menguntungkan,” katanya.

Data Askindo menunjukkan luas lahan tanam kakao mencapai 1,3 juta ha dan 95% dikelola oleh petani. Padahal, sebelumnya sempat menyentuh 1,6 juta ha. Menurutnya, penyusutan luas areal kakao lantaran banyak kebun yang dikonversi menjadi tanaman lain seperti kelapa sawit, jagung, karet dan cengkeh.

Menurut dia, kondisi sebagian besar pohon petani cukup memprihatinkan karena sudah berusia sangat tua. “Hampir 70% tanaman kakao petani berusia tua dan banyak di antara mereka yang sekarang mengabaikan tanamannya karena produktivitas rendah. Rata-rata produktivitas petani itu 400-500 kg per ha per tahun,” ungkap Zulhefi.

Perlu Peremajaan Tanaman
Sementara itu dalam pertemuan dengan Gubernur se-Sulawesi di Makassar, baru-baru ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada rapat Badan Kerja sama Pembangunan Regional Sulawesi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa program prioritas regional Sulawesi, salah satunya adalah upaya peningkatan produksi perkebunan. Adapun di Sulawesi, kakao tetap jadi komoditas utama.

"Meningkatkan produktivitas perkebunan, terkhusus lagi tentang kakao, cokelat, ini karena 70 persen perusahaan kakao di Indonesia dari Sulawesi. Khususnya yang di empat provinsi. Karena itulah harus ada peremajaan, karena di sini itu kan kebanyakan perkebunan rakyat," kata JK.

Ia menjelaskan, mayoritas perkebunan kakao di Sulawesi merupakan perkebunan rakyat yang butuh bantuan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah akan mempersiapkan sejumlah bantuan, baik dari segi anggaran, pembinaan, dan fasilitas lainnya.

"Kalau peremajaan itu kadang-kadang rakyat itu butuh bantuan lagi, karena itu tadi kita putuskan bahwa peremajaan dijalankan, (Kementerian) Pertanian membentuk, mempersiapkan teknologinya," papar dia.

Harapan JK, melalui program tersebut, Indonesia dapat menjadi negara dengan produksi kakao terbesar kedua di dunia. Saat ini, dengan produksi kurang dari 800 ribu ton, Indonesia berada di peringkat ketiga di bawah Pantai Gading dan Ghana.

"Kita kan dulu pernah bicara bahwa kita ini masih nomor tiga di dunia, kita rumuskan bagaimana bisa nomor dua di dunia. Target produksi kira-kira berapa, 1,5 juta ton, sekarang masih 800 ribu ton, kurang malah. Bagaimana bisa sampai 1,5 juta ton, padahal kita punya lahan cukup sebenarnya," katanya.

Menurut JK, peremajaan tanaman menjadi pilihan utama dalam peningkatan produksi kakao di Indonesia. Pemerintah juga akan mempersiapkan skema penunjang bagi petani, antara lain pembiayaan untuk keperluan pengadaan bibit dan pendukung lain yang berasal Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Nanti, lanjutnya, akan dibiayai dengan KUR, karena memang KUR itu selama ini bertujuan untuk mendorong peningkatan produktivitas.

"Nanti semuanya akan berdiri sendiri, tidak membutuhkan banyak APBN. APBN ada, bagus untuk bibit, tapi untuk sekarang ini kita utamakan KUR untuk meningkatkan produktivitas. Kita harapkan bisa naik dua kali lipat," kata JK menambahkan.

Tersedianya Bibit Unggul
Peningkatan produktivitas tanaman kakao tentu tak terlepas dari bibit unggul. Untuk itu melalui kerjasama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) dengan Askindo saat ini tengah dikembangkan paket teknologi PUAS, yakni dengan menggunakan bibit super, menerapkan tanaman pelindung sementara dan tetap yang produktif, pengendalian terpadu gulma, hama, dan penyakit, pemupukan organik dan anorganik, serta tumpangsari dengan tanaman kompatibel.

Peneliti Utama Puslitkoka Pujiyanto mengatakan, dengan pengembangan PUAS ini, Puslitkoka menargetkan mampu memproduksi 1 juta bibit super. Setidaknya dibutuhkan peremajaan lahan kakao 20-30 ribu hektar (ha) per tahun untuk mendukung hal tersebut. Dengan teknologi PUAS, peremajaan menggunakan bibit super mampu menghasilkan produktivitas 2-3 kali lebih tinggi dari saat ini.

"Dampak dari teknologi ini akan terasa jika setidaknya 100 ribu ha lahan kakao kita diremajakan dengan menerapkan paket teknologi PUAS," kata Pujiyanto.

Ditambahkannya, permintaan benih tahun 2016 lalu naik dari tahun 2015 karena adanya program pemerintah pusat dan daerah. “Benih bibit ini kan hibrida, jadi langsung ditanam. Tapi, memang lebih baik dijadikan untuk penyambungan. Tahun ini cukup banyak proyek sambungan tanaman kakao," kata Pujiyanto.

Menurut dia, penjualan bibit kakao terus menurun sejak 1990- an. Dulu, penjualan bibit kakao bisa mencapai 40 juta, namun terus menurun sampai sekarang hanya sekitar 20 juta. Sementara produksi bibit kakao itu untungnya sedikit.

“Jadi, nggak terlalu banyak yang tertarik. Pengembangan komoditas kakao bergantung pada kebijakan pemerintah. Pasalnya, kakao merupakan komoditas yang didominasi oleh pertanian rakyat,” ungkap dia

Tahun ini, bibit produksi Puslitkoka yang terjual bisa sekitar 20 juta. Itu kira-kira 60-70% dari total produksi. Tahun lalu, sekitar 18 juta bibit. Kalau total nasional yang terjual itu dalam kisaran 25-30 juta bibit. Pada 2017, kemungkinan masih dengan angka yang sama," kata Pujiyanto. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id