Menu
SAJIAN ISI

Hari Perkebunan, Momentum untuk Meningkatkan Daya Saing Perkebunan

Setiap tanggal 10 Desember insan perkebunan Indonesia selalu memperingati Hari Perkebunan. Dengan adanya Hari Perkebunan diharapkan bisa menjadi momentum untuk dapat melakukan evaluasi diri tentang berbagai hal dalam memajukan perkebunan.

Makna sejarah yang perlu kita tangkap dari peringatan Hari Perkebunan tersebut adalah warisan semangat dari para tokoh perkebunan yang tidak boleh luntur, bahkan tidak boleh dilupakan oleh generasi saat ini.

Hari Perkebunan juga untuk merajut kembali perjalanan panjang sejarah perkebunan Indonesia. Dengan adanya komoditas perkebunan, Indonesia sejak dahulu kala telah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu, dengan Hari Perkebunan untuk menggugah terutama generasi muda dan generasi yang akan datang untuk memahami betapa besarnya potensi perkebunan yang kita miliki dan mereka diharapkan tertarik mengelola potensi tersebut untuk kemakmuran bangsa ini.

Kendati kondisi perekonomian yang relatif sulit, namun subsektor perkebunan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menyebutkan adanya pertumbuhan yang berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) dari tahun 2015, 2016 dan 2017. Pada 2015 – 2016 naik 5,7%, 2016 – 2017 meningkat 9%. Sementara capaian di 2017 terhadap kontribusi PDB sebesar Rp471.31 Triliun.

Meski demikian, dari 127 komoditas perkebunan, saat ini baru sekitar 15 komoditas saja yang bisa menghasilkan devisa. Dan dari 15 komoditas tersebut, sumbangan terbesar berasal dari kelapa sawit.

Meski perkebunan memberikan peran yang sangat penting bagi fundamental ekonomi bangsa Indonesia, namun belum dikelola dengan baik dan optimal. Padahal jika dikelola dengan baik tentu akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi.

Hal ini bisa terlihat dari produktivitas perkebunan kelapa sawit, sebagai kontributor utama sektor perkebunan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru 2-3 ton per hektar (ha), padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton/ha.

Untuk itu, pemerintah telah berkomitmen meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan milik petani agar perkebunan nusantara lebih berdaya saing.

Untuk mengetahui apa kontribusi perkebunan dan langkah apa saja yang diambil pemerintah dalam meningkatkandaya saing, wartawan HORTUS archipelago, Suharno mewawancarai Direktur Jenderal Perkebunan Bambang, baru-baru ini, di Pekanbaru. Berikut petikannya.

Boleh dijelaskan, makna Hari Perkebunan yang selalu diperingati setiap 10 Desember?

Makna sejarah yang perlu kita tangkap dari peringatan Hari Perkebunan tersebut adalah warisan semangat dari para tokoh perkebunan yang tidak boleh luntur, bahkan tidak boleh dilupakan oleh generasi saat ini.

Hari Perkebunan juga untuk merajut kembali perjalanan panjang sejarah perkebunan Indonesia. Dengan adanya komoditas perkebunan, Indonesia sejak dahulu kala telah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu, dengan Hari Perkebunan untuk menggugah terutama generasi muda dan generasi yang akan datang untuk memahami betapa besarnya potensi perkebunan yang kita miliki dan mereka diharapkan tertarik mengelola potensi tersebut untuk kemakmuran bangsa ini.

Apa saja capain yang sudah diraih oleh perkebunan?

Ya Kendati kondisi perekonomian yang relatif sulit, namun perkebunan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Data menyebutkan adanya pertumbuhan yang berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) dari tahun 2015, 2016 dan 2017. Pada 2015 – 2016 naik 5,7%, 2016 – 2017 meningkat 9%. Sementara capaian di 2017 terhadap kontribusi PDB sebesar Rp471,31 triliun.

Kinerja yang mengesankan ditampilkan komoditas kelapa sawit. Dari sisi kinerja ekspor sektor perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan cukup pesat yakni, 2016 – 2017 meningkat 25,8% dari 25,9 juta ton meningkat menjadi 30,9 juta ton atau nilai ekspor 18,2 miliar USD (Rp241,9 triliun) menjadi nilai ekspor 22,9 miliar USD (Rp307,4 triliun).

Dengan capaian ekspor meningkat 25,8% pada 2016 – 2017, maka Indonesia menjadi negara produsen dan eksportir CPO dan minyak sawit lainnya no 1 di dunia. Tercatat pada 2017 dari produksi 37,8 juta ton sebanyak 88,65% untuk kebutuhan ekspor, sisanya dikonsumsi dalam negeri.

Kelapa sawit dengan luasan areal 14,03 juta hektar capaian produktivitas untuk perkebunan rakyat (PR) 3,01 ton CPO, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 3,90 ton CPO, Perkebunan Besar Nasional (PBN) 3,91 ton CPO. Padahal, rekomendasi produktivitasnya 8,4 ton, sementara jika produktivitasnya optimal bisa mencapai 12 ton CPO per hektar.

Tidak usah sampai optimal, jika rata-rata industri sawit Indonesia bisa menghasilkan 9 ton berarti sudah 3 kali lipat. Akan lebih baik jika diikuti dengan hilirisasi maka akan semakin besar potensinya. Capaian tersebut, dapat menjadi gambaran komoditas perkebunan sangat penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Adakah hambatan dalam meningkatkan kinerja perkebunan?

Selain tingkat produktivitas, berbagai isu negatif terus menerpa komoditas sawit. Padahal sawit penyelamat hutan tropis dunia dan mengusahakan sawit dapat menghasilkan pangan maupun energi, perkebunan juga berperan sebagai sumber kemakmuran dan pemacu pembangunan wilayah terpencil.

Kami menduga kampanye negatif sebagian dihembuskan dalam rangka perang dagang, atau lebih ke persaingan bisnis minyak nabati.

Itu dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang menghambat masuknya produk perkebunan asal Indonesia ke negara importir, meski negara itu sangat membutuhkan. Hambatan itu untuk kelapa sawit dengan aturan sustainable (keberlanjutan), kakao dari aturan fermentasi dan non-fermentasi, dan masih banyak lagi.

Untuk mengatas persoalan itu, Indonesia harus menyatukan kekuatan antara pelaku usaha, petani, dan pemangku kebijakan. Tak perduli itu di pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah (Pemda).

Kalau semua bersatu, perkebunan akan kuat dan tidak akan tergoyahkan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi prioritas perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi bangsa.

 

Selain kelapa sawit, komoditas apa saja yang menjadi andalan dalam menghasilkan devisa bagi Indonesia?

Dari sekitar 127 komoditas perkebunan, saat ini baru sekitar 15 komoditas saja yang bisa menghasilkan devisa. Dan dari 15 komoditas tersebut, sumbangan terbesar berasal dari kelapa, disusul komoditas lainnya seperti karet, kakao, kopi teh, rempah-rempah dan sebagainya. Ke depan kita harapkan lebih banyak lagi komoditas yang menghasilkan devisa.

Apakah saat ini perkebunan sudah dikelola dengan baik?

Sementera ini belum bisa dikelola secara optimal. Tetapi kami akan terus berusaha keras untuk memaksimalkan kinerja dalam mengelola sektor perkebunan. Apalagi saat ini peran perkebunan sangat dibutuhkan negara dalam menyeimbangkan neraca perdagagan yang cenderung defisit.

Padahal jika dikelola dengan baik tentu akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi. Seperti terlihat dari produktivitas perkebunan kelapa sawit, sebagai kontibutor utama sektor perkebunan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru 2-3 ton per hektar (ha), padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton/ha.

Untuk itu, pemerintah telah berkomitmen meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan milik petani agar perkebunan nusantara lebih berdaya saing .

Apalagi, saat ini, banyak negara yang tidak menghendaki perkebunan di Indonesia maju.

Bagaimana dengan program peremajaan sawit pekebun atau sawit rakyat?

Peremajaan harus dilakukan jika ingin mendapatkan produktivitas yang optimal. Apalagi tanaman sawit rakyat rata-rata sudah berusia tua dan produktivitasnya rendah.

Untuk itu, kami berharap semua stakeholder sawit bahu membahu bekerja sama melakukan peremajaan sawir rakyat. Apalagi saat ini ada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) yang salah satu tugasnya adalah membantu pendanaan bagi peremajaan sawit rakyat.

Peremajaan sawit rakyat tahun ini ditargetkan 185.000 hektar, jika itu berhasil dicapai. Dan jika replanting secara konsisten bisa dilakukan tahun 2020 – 2025 maka Indonesia menjadi negara terbesar di dunia, baik sebagai penghasil oleo food, biofuel, dan berikut turunannya.

Bagaimana regulasi yang sudah ada, cukupkah?

Untuk menjaga tingginya PDB yang dihasilkan dari komoditas perkebunan itu, maka perlu ada penguatan perkebunan melalui penyempurnaan berbagai regulasi. Mulai yang tertuang dalam peraturan pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), hingga Surat Keputusan (SK).

Penyempurnaan regulasi perkebunan perlu dilakukan bukan sekadar untuk memperkuat komoditas perkebunan. Tapi itu juga untuk membangun perkebunan yang lebih besar lagi untuk perkebunan swasta, perkebunan negara, maupun perkebunan rakyat.

Penyempurnaan regulasi ini juga perlu dilakukan untuk bisa mengintegrasikan antara perkebunan milik perusahaan swasta dan pemerintah dengan perkebunan milik rakyat. Ini perlu dilakukan, karena secara umum luas perkebunan itu masih didominasi oleh perkebunan rakyat.

Bagaimana dengan program kemitraan?

Dalam regulasi yang sudah ada, perkebunan besar milik perusahaan wajib melakukan kemitraan dengan perkebunan milik rakyat. Hanya dengan kemitraan perkebunan bisa terangkat. Mengingat luas perkebunan di Indonesia itu mayoritas dikuasai oleh rakyat.

Dengan melakukan kemitraan akan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Dan dengan melakukan kemitraan industri pengolahan di dalam negeri bisa memenuhi pasokan atau bahan baku sesuai dengan kriterianya.

Seperti halnya di kakao. Potensi produktivitasnya bisa mencapai 4 ton/hektar/tahun. Tapi saat ini produktivitas petani kakao hanya 500 kg/hektar/tahun. Juga di kelapa sawit milik petani mandiri. Produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) mereka hanya berkisar antrara 16 – 18 ton/hektar/tahun, padahal seharusnya bisa mencapai 36 ton/hektar/tahun.

Dengan melakukan kemitraan bukan tidak mungkin akan meningkatkan produktivitas petani pekebun. Ini karena mayoritas lahan perkebunan dikuasai oleh petani mandiri. ***

Yusni Emilia Harahap: Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian

Hadapi MEA, Daya Saing Produk Harus Diperbaiki

Salah satu pilar utama untuk peningkatan pendapatan petani adalah peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Karena itu, program-program terobosan untuk mengembangkan usaha-usaha industri pengolahan dan akselerasi pemasaran, baik pasar domestik maupun ekspor menjadi sebuah keniscayaan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman

10 Pabrik Baru untuk Swasembada Gula

Pemerintah pimpinan Jokowi-JK telah mencanangkan swasembada gula pada akhir pemerintahannya, yakni tahun 2019. Untuk mewujudkan langkah tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) akan membangun 10 unit pabrik gula (PG) baru. Pembangunan 10 unit pabrik gula tersebut, kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, membutuhkan lahan dengan luas 500 ribu hektar, dan itu rencananya akan dibangun di wilayah timur Indonesia.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id