Menu
SAJIAN ISI

Penyakit Musim Hujan pada Cabai perlu Diwaspadai

Memasuki awal tahun 2019, curah hujan tinggi menyebabkan tanaman cabai terserang banyak organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Kabupaten Tuban salah satu sentra produksi cabai di provinsi Jawa Timur khususnya di Kecamatan Montong dan Bancar.

Kedua kecamatan tersebut tidak luput dari serangan penyakit utama seperti penyakit virus kuning, antraknosa dan lalat buah. Penyakit-penyakit tersebut menyerang tanaman berumur 90-135 hari dengan luasan 6,5 hektar. Intensitas serangan dikategorikan ringan sampai dengan berat. Hal ini disebabkan petani cabai belum optimal menjalankan anjuran yang diberikan petugas lapang (POPT/PHP).

Hingga saat ini virus kuning dan patek (antraknosa) masih menjadi penyakit utama tanaman cabai. Petugas POPT setempat telah merekomendasikan pengendalian 2 penyakit serta lalat buah tersebut dengan penggunaan varietas tahan/toleran. Petani dianjurkan untuk menggunakan benih yang berkualitas, cara pesemaian yang benar, penggunaan plastik mulsa hitam perak, eradikasi selektif pada tanaman terserang/sakit, pemasangan perangkap untuk mengurangi kutu kebul dan pemanfaatan musuh alami, aplikasi pestisida untuk kutu kebul.

"Serangan hama penyakit pada tanaman cabai sebenarnya dapat dikendalikan sedini mungkin, bila petani menerapkan pengendalian OPT cabai secara ramah lingkungan dengan menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan, menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT)", jelas Nadra Illiyina Chalid, Kasubdit POPT Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikulutura.

Petugas POPT selalu mengajak petani mendahulukan pengendalian secara pre-emptif yang diintegrasikan dengan sistem budidaya tanaman. "Selain itu diikuti pengendalian secara responsif berdasarkan hasil pengamatan di lapang, sejak perencanaan sampai panen, termasuk pemilihan lahan, bibit yang sehat, pemeliharaan intensif dan pemantauan secara rutin.” tambah Nadra.

Secara terpisah Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengemukakan bahwa Kementan bersama jajaran UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit(LPHP)/Lab Agens Hayati terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT dengan menggunakan bahan dan sarana pengendali yang ramah lingkungan.

"Salah satunya dengan menggunakan likat kuning untuk pengendalian aphid yang menjadi vektor virus kuning; aplikasi trichokompos dimulai saat penyiapan lahan untuk menekan cendawan pengganggu tumbuhan. Harapannya, penerapan budidaya ramah lingkungan pada tanaman cabai semakin luas, sehingga mengurangi gangguan OPT", ujarnya mengakhiri.

CPO Berpotensi Besar Dikembangkan sebagai Bioenergi

Minyak klapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) diyakini memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar minyak cair di Indonesia. Oleh karena itu keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak.

"Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia," kata Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (Ikabi), Dr. Tatang Hernas S dalam diskusi “Peran BPDP-KS dalam memajukan Sawit Indonesia, Minyak Sawit sebagai Bio-Energi” " di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agus Kismanto menyatakan bahwa penggunaan minyak sawit sebagai bioenergy harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan.

"Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia, " katanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan.

"Minyak sawit harus terus dikembangkan, supaya memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik," katanya.

Sementara menyinggung persoalan yang masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan produksi biodiesel yang masih jauh dari kapasitas industri.

Aprobi pun mendorong penggunaan konsumsi biodiesel yang lebih besar lagi di Indonesia.

"Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan," katanya.

Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar ST MT, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan.

"Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia," katanya.

PT Pertamina persero, sebagai perusahaan milik pemerintah yang membantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga memiliki peran penting terhadap kemajuan industri biodiesel nasional.

Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (persero), Gema Iriandus Pahalawan mengatakan, keberadaan biodiesel minyak sawit, membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional.

“Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,”katanya.

Selain bioenergi, minyak sawit juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi Produk Surface Active Agent (Surfaktan) yang berguna bagi pembersih.

Menurut periset dari Surfactant, Bioenergi Research Centre (SBRC) IPB, Dr. Dwi Setyaningsih, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat potensi dikembangkan sebagai surfaktan, dimana aplikasi penggunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun dan sebagainya.

SBRC-IPB juga mendapatkan dukungan pendanaan dari BPDP-KS, untuk terus melakukan riset aplikasi surfaktan berbasis minyak sawit, guna mengembangkan berbagai produk hijau terbarukan berbahan baku minyak sawit.

“SBRC IPB sangat konsen untuk pengembangan surfaktan melalui minyak sawit,”kata Dwi menjelaskan.

Sementara itu, untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang berkelanjutan (SDGs), industri minyak sawit dapat menjadi tumpuan bersama, guna memajukan industri minyak sawit di masa depan. Sebab itu, sinergi antar pemangku kepentingan dibutuhkan, guna mendorong tumbuhnya bisnis minyak sawit yang selaras dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Harga Minyak Nabati Global Masih Rendah

JAKARTA- Harga CPO global kembali terjerembab pada November 2018 dengan harga rata-rata US$ 473,6 per metrik ton. Harga ini merupakan harga terendah sejak Juli 2006. Melimpahnya stok minyak nabati global seperti sawit, kedelai, biji bunga matahari dan rapeseed menyebabkan harga minyak nabati global turun.
 
Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (7/1/2019).
 
“Keadaan juga diperparah dengan lemahnya permintaan pasar global, sehingga harga masih akan sulit terangkat,” katanya.
 
Dia mengatakan, sepanjang November 2018 kinerja ekspor minyak sawit Indonesia juga mengalami penurunan. Harga yang rendah tidak serta merta mendongkrak pembelian oleh negara-negara pengimpor minyak sawit.
 
Volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya, Olechemical dan Biodiesel) membukukan penurunan 4% dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau dari 3,35 juta ton turun menjadi 3,22 juta ton. Khusus volume ekspor CPO, PKO dan turunannya saja (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) mencapai 2,99 juta ton atau turun 5% dibandingkan pada Oktober lalu yang membukuan 3,14 juta ton.
 
Dijelaskan Mukti Sardjono, dari total ekspor 2,99 juta ton ini terdiri dari CPO sebanyak 866,19 ribu ton atau 29% dari total ekspor, sedangkan sisanya 2,13 juta ton (71% dari total ekspor) adalah produk turunan dari CPO. November 2018 Pakistan mencatatkan rekor tertinggi pembelian minyak sawit terbanyak sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia dan Pakistan yaitu sebesar 326,41 ribu ton atau naik 32% dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 246.97 ribu ton.
 
“Harga minyak sawit yang murah dan pengisian stok sepertinya menjadi faktor pendorong naiknya impor minyak sawit oleh Pakistan,” ujarnya.
 
Ke depan, lanjut Mukti Sardjono, dengan semakin luasnya Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Pakistan, serta sedang dijajaki untuk ditingkatkan menjadi perdagangan bebas, maka peluang Indonesia untuk terus meningkatkan perdagangan minyak sawit akan semakin besar.
 
Ia menjelaskan, Pakistan memiliki penduduk yang banyak dan minyak sawit merupakan salah satu minyak utama yang digunakan dalam produk makanan, rumah tangga dan industri lainnya sehingga sangat penting bagi pemerintah Indonesia untuk mempercepat proses pemberlakuan PTA yang telah di-review bersama dan juga mengakselerasi PTA menjadi FTA (free trade agreement).
 
“Menyusul di belakang Pakistan adalah negara-negara Timur Tengah yang juga membukukan kenaikan impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 31% (dari 120,20 ribu ton naik menjadi 157,81 ribu ton) dan India mengikuti dengan kenaikan tipis yaitu 3% (dari 689.17 ribu ton naik menjadi 711,31 ribu ton),” ucapnya.
 
Sebaliknya, berdasarkan data Gapki, beberapa negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan seperti China 20%, Negara Uni Eropa 21%, Amerika Serikat 10% dan Bangladesh 58%). Penurunan impor dari negara-negara ini disebabkan masih tingginya stok minyak nabati di dalam negeri.
 
Mandatori biodiesel
 
Kabar gembira datang dari pelaksanaan perluasan mandatori biodiesel 20% (B20) kepada non-PSO yang terus berjalan dengan baik dan terus menunjukkan perkembangan yang positif.
 
Sepanjang November 2018 penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai 607 ribu ton atau naik 17% dibandingkan Oktober. Kenaikan penyerapan Biodiesel ini dikarenakan sudah ada perbaikan logistik dari produsen Biodiesel ke depot-depot Pertamina.
 
“Diharapkan perbaikan logistik ini juga nantinya diikuti oleh perbaikan infrastruktur tangki khusus Biodiesel di depot-depot Pertamina,” katanya.
 
Menurut dia, optimisme penyerapan minyak sawit di dalam negeri sebagai energi hijau terbarukan terus meningkat seiring dengan wacana pemerintah juga yang akan memanfaatkan pembangkit listrik dengan bahan bakar dari CPO.
 
Di sisi produksi, lanjut Mukti Sardjono, sepanjang bulan November 2018 produksi diprediksi mencapai 4,16 juta ton atau turun sekitar 8% dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,51 juta ton.
 
Siklus produksi ini merupakan siklus normal yang sudah mulai melewati musim panen raya. Turunannya produksi dan ekspor serta mulai tingginya penyerapan domestik mengikis stok minyak sawit Indonesia menjadi kira-kira 3,89 juta ton.
 
Di sisi harga, sepanjang November 2018 harga bergerak di kisaran US$ 440 – US$ 512,50 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$ 473,6 per metrik ton. Respon terhadap harga yang jatuh sudah pada titik nadir ini membuat pemerintah mengambil kebijakan untuk menghapus pungutan ekspor (CPO Fund).
 
“Diharapkan dengan penghapusan CPO Fund ini, dapat mendongkrak ekspor dan harga CPO global serta harga TBS petani,” pungkasnya.

Barito Timur Siap Jadi Sentra Baru Bawang Merah Kalimantan

Kalimantan, Program pengembangan kawasan bawang merah oleh Kementerian Pertanian makin gencar dengan memunculkan sentra baru di seluruh Indonesia, termasuk Kalimantan. Kebutuhan bawang merah di Pulau Kalimantan yang selama ini didatangkan dari Pulau Jawa, NTB dan Sulawesi Selatan mulai didorong untuk bisa diproduksi sendiri. Data Ditjen Hortikultura menunjukkan luas panen bawang merah 2017 seluruh Kalimantan baru 660 hektar. Padahal untuk memenuhi kebutuhan Pulau kalimantan diperlukan luas panen 8.678 hektar.
 
Sentra baru mulai tumbuh di antaranya kabupaten Tapin dan Banjar Baru di Kalimantan Selatan. Selain itu terdapat pula di kabupaten Pontianak dan Kubu Raya di Kalimantan Barat serta Palangkaraya serta Barito Timur di Kalimantan Tengah.
 
Prihasto Setyanto, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura menyatakan akan terus menumbuhkan sentra-sentra baru di luar kawasan utama. “Kita sudah mengidentifikasi pulau mana saja yang masih defisit antara kebutuhan dengan produksi bawang merah atau cabai. Kalimantan menjadi salah satu pulau yang masih defisit keduanya. Ke depan, alokasi APBN akan kita arahkan untuk penumbuhan tersebut”, lanjut Prihasto. “Untuk pulau Kalimantan ini kita dihadapkan pada tantangan keterbatasan SDM petani dan jenis tanah berupa gambut. Butuh intervensi teknologi untuk mengoptimalkan potensi di sana”, imbuhnya.
 
Kamis (3/1), petani bawang merah kelompok Penangkar Ampah Jaya di kelurahan Ampah Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah perdana memanen produksinya. Hasil panen tersebut kemudian diproses menjadi benih unggul pada penanaman berikutnya.
 
“Kami di Barito Timur menyambut baik program Kementerian Pertanian untuk pengembangan kawasan bawang merah di Kalimantan. Perlahan tapi pasti kami ingin melepaskan ketergantungan pasokan dari Jawa,” tutur Yakop A. Ratih, ketua kelompok tani Ampah Jaya bersama anggota lain yang berkomitmen memperluas areal bawang merah di Barito Timur. “Kami menanam varietas Bima Brebes dan Thailand karena setelah uji coba di lahan seluas 1 hektar ternyata hasilnya cukup bagus. Kami kemudian memutuskan akan menjadikannya sebagai benih bawang merah untuk musim tanam selanjutnya”, imbuh Yakop.
 
Gemparino, bersama penyuluh lain saat acara panen bawang merah menuturkan, “Ini baru langkah permulaan. Kami selaku penyuluh tak henti-hentinya menganjurkan petani di sini menanam hortikultura. Kami dorong bawang merah dan cabai karena kedua komoditas tersebut harga jualnya selalu baik di pasar Kalimantan Tengah”.
 
Mengubah pola pikir petani untuk mau menanam komoditas hortikultura diakuinya tidaklah mudah. “Butuh ketelatenan, keuletan dan modal biaya yang lebih. Namun kami yakinkan petani bahwa menanam hortikultura khususnya bawang merah dan cabai adalah salah satu cara paling cepat bagi petani untuk mendapat penghaasilan lebih. Ujungnya, mereka diharapkan bisa makin sejahtera”, tutup Gemparino.

Kementan Dorong Kemitraan dan Hilirisasi Nanas Subang

Subang merupakan salah satu sentra produksi nanas. Luas areal mencapai 2.100 hektar yang tersebar di lima kecamatan dan terluas di Kecamatan Jalan Cagak. Berangkat dari potensi ini, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya untuk mendorong kemitraan dan hilirisasi. Hal ini dimaksudkan agar nanas memiliki nilai tambah sehingga kesejahteraan petani meningkat.

"Potensi lahan nanas di Subang sudah dimanfaatkan optimal sehingga upaya peningkatan produksi dan kesejahteraan petani dengam cara penggunaan benih bermutu untuk peremajaan, pemupukan yang baik dan memperluas kemitraan industri pengolahan maupun ekspor" ujar Dirjen Hortikultura saat berkunjung di Subang didampingi Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Sulaiman Sidik, Jumat (28/12/2018).

Suwandi menjelaskan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan produknya. Nanas diolah menjadi produk enzim bromeolin, selai, keripik, dodol, konsentrat bahan industri, nanas kaleng, sirup dan lainnya.

"Berbagai produk atau nilai tambah ini pastinya akan memberi tambahan pemasukan atau pendapatan bagi petani dan harga jual nanas saat musim panen tidak merugikan petani, artinya adanya nilai tambah ini menyejahterakan petani," jelasnya.

Sebagai informasi, pada 2017 total ekspor nanas Indonesia mencapai 210.026 ton. Dari jumlah tersebut 95 persen di antaranya dalam bentuk olahan. Indonesia sendiri adalah negara eksportir nanas, sehingga tidak ada impor nanas.

"Ekspor nanas secara nasional berkontribusi 82 persen dari total ekspor buah. Nilai devisa dari nanas sekitar Rp 3,3 triliun," sebut Suwandi.

Adapun negara tujuan ekspor nanas, ucap Suwandi, Indonesia selama ini ke Jepang, Uni Emirate Arab, Korea Selatan, Arab Saudi, Hongkong, Singapura dan berbagai negara lainnya.

“Data statistik menunjukkan produksi nanas 2018 diprediksi 1,85 juta ton arau naik 3,1 persen dibandingkan 2017 sebesar 1,79 ton,” tukas dia.

Sementara itu Sulaiman Sidik mengatakan nanas Subang yang berkembang di Subang jenis varietas Subang. Luas mencapai 2.100 hektar. Bila petani menggunakan benih seadanya dari tanaman yang ada, hasil buah ukuran lebih kecil dan produktivitas berkurang.

"Makanya perlu diperkenalkan teknik benih dan budidaya yang baik. Dinas Pertanian memberdayakan kelompok tani, mengarahkan peremajaan kebun nanas dan meningkatkan produktivitas. Kuncinya ada pada penggunaan benih mahkota yang bagus dan pemupukan," ujarnya.

"Untuk kualitas nanas masuk supermarket dan ekspor, produk nanas harus dijaga dengan teknologi pasca panen hingga packaging yang baik," tambahnya.

Ketua Kelompoktani Mekarsari Maju Desa Sarireja Kecamatan Jalan Cagak, Subang, Afrizal Ali mengatakan pihaknya mengelola 63 hektar dengan 50 petani nanas sudah bermitra dengan industri selai. Setiap tahun memasok 500 ton atau seminggu 20 ton, dengan harga flat Rp 4.500 per kg, sedangkan harga impasnya atau Break Event Point (BEP) Rp 2.500 per kg.

"Apabila dibudidayakan dengan mulsa dan pemupukan yang baik dengan hasil 2 sampai 4 kilogram per buah. Sedangkan bila dikelola biasa saja tanpa mulsa dan pupuk cukup BEP Rp 1.000 per kilogram tapi hasilnya juga rendah hanya 1 hingga 1,5 kilogram per buah," ujarnya.

Jadi, lanjutnya, dengan proses budidaya yang baik, tanaman diremajakan, dipupuk dan diberi ZPT tepat waktu, akan menghasilkan jauh lebih menguntungkan dari pada tanaman diperlihara sekedarnya.

"Intinya budidaya nanas yang menguntungkan itu, petaninya harus berani ambil tindakan, jangan takut menggunakan pupuk yang mahal asal memberikan produksi dan kualiatas yang bagus," pungkasnya.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id