Menu
SAJIAN ISI

Cuaca Buruk Hambat Ekspor Karet

Cuaca Buruk Hambat Ekspor Karet

Cuaca buruk yang terjadi pada awal tahun 2015 membuat produk komoditas karet mentah yang menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia mengalami penurunan volume. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memprediksi, ekspor karet tahun 2015 akan mengalami penurunan karena terganggu hujan dan banjir di berbagai pusat produksi karet di tanah air.

Ketua Umum Gapkindo Daud Husni Bastari, baru-baru ini di Jakarta, menjelaskan, selain cuaca buruk, harga karet yang terus merosot juga membuat petani berpaling mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Kalau dari sudut produksi, memang sekarang gangguan terhadap produksi karet terjadi akibat hujan dan banjir. Jadi tahun ini kami prediksi ekspor karet turun," ujarnya.

Kendati memprediksi turun, Daud masih enggan menerka berapa persen penurunan ekspor tersebut bila dibandingkan tahun 2014 yang diprediksi sebanyak 2,5 juta ton. Padahal, ekspor tahun 2014 ini turun sekitar 8% hingga 10% dari tahun 2013 yang tercatat sebesar 2,7 juta ton. Penurunan produksi ini juga disebabkan terus melemahnya harga karet di tingkat petani yang saat ini berada di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 6.500 per kg.

Sementara itu, awal Februari, kontrak karet teraktif di bursa Tokyo diperdagangkan pada rekor harga tertinggi dalam 7 bulan terakhir. Kontrak karet Juli 2015 di bursa komoditas Tokyo (TOCOM) langsung melesat naik 2,26% pada pembukaan perdagangan pagi ke angka 217,20 yen atau Rp 23.218 per kilogram.

Sedangkan kontrak karet Juni 2015 (JNM5) di bursa Tokyo juga mencetak rekor di angka 218,40 yen atau Rp21.297 per kilogram pada pembukaan perdagangan pagi dan harga karet Juli 2015 kemudian bergerak ke 215,10 yen atau Rp 22.984 per kg.

petani karet menyadapTerkait kenaikan harga di bursa Tokyo ini, Daud menilai kenaikan itu bisa saja akibat ulah spekulan. Namun bisa juga kenaikan harga karet itu karena produksi karet di negara pengekspor berkurang akibat cuaca buruk seperti di Indonesia. Namun, ia menilai secara umum, kenaikan itu belum fundamental. Sehingga ia pesimistis kenaikan harga karet di bursa ini bisa mengerek kenaikan harga karet di tingkat petani di Indonesia.

Untuk diketahui, Indonesia adalah negara produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Padahal, luas areal kebun karet Indonesia terluas di dunia (3,4 juta hektar pada tahun 2010). Hal itu lebih disebabkan oleh pencapaian produktivitas kebun karet Indonesia yang hanya berkisar 1,5 – 2,0 ton per hektar per tahun, lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas kebun karet Thailand yang mencapai di atas 3 ton per hektar per tahun.

Selengkapnya baca di majallah HORTUS Archipelago edisi Maret 2015. Dapatkan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id