Menu
SAJIAN ISI

Mentan Akan Carikan Solusi Atasi Anjloknya Harga Karet

Mentan Akan Carikan Solusi Atasi Anjloknya Harga Karet

Anjloknya harga karet alam hingga 75% dalam 4 tahun terakhir membuat petani meradang. Untungnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berjanji akan mencarikan jalan keluar agar petani karet tidak terus merugi. Solusi yang direncanakannya adalah dengan mendorong konsumsi karet di pasar domestik, seperti yang sudah dilakukan pemerintah untuk membantu petani sawit, dengan membuat kebijakan yang komprehensif untuk meningkatkan serapan dalam negeri.

"Nanti sebentar lagi kita diskusikan, kita selesaikan. Kebijakannya kita membuka pasar dalam negeri, seperti CPO Fund kemarin," kata Amran, di Jakarta, baru-baru ini. Dia menambahkan, masalah jatuhnya harga karet yang membuat petani rugi besar ini juga akan dibahas dalam rapat terbatas di Istana Negara dengan Presiden Joko Widodo.‎

Seperti diketahui, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkrindo), Lukman Zakaria, mengungkapkan bahwa harga karet di tingkat petani saat ini sudah di bawah Rp 5.000/kg. Padahal, biaya produksinya sekitar Rp 12.000/kg, artinya petani tekor sedikitnya Rp 7.000/kg, bahkan ada yang rugi sampai Rp 10.000/kg.

"Idealnya harga karet di petani Rp 12.000/kg, kalau di bawah itu petani karet nggak makan. Kalau sekarang di petani cuma Rp 5.000/kg, bahkan ada yang di bawah itu. Kita rugi Rp7.000-10.000/kg," paparnya.

‎Lukman menambahkan, sejauh ini pemerintah baru sebatas berwacana saja untuk memperbaiki harga karet. Sejak awal tahun, pemerintah sudah menggaungkan akan meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri untuk proyek-proyek infrastruktur seperti jalan raya, bendungan, irigasi, tetapi tidak ada realisasinya.

Sebenarnya, pemerintah sudah mengambil beberapa langkah kebijakan, namun belum efektif dalam mengendalikan harga. Salah satunya, kesepakatan yang dibuat Menteri Perdagangan Thomas Lembong dengan Malaysia dan Thailand kemarin, yakni peningkatan penggunaan karet di dalam negeri. ‎"Belum ada realisasinya, baru sebatas retorika, baru rencana, sudah bolak-balik pertemuan, sudah diskusi segala macam dari awal tahun," ucap Lukman.

‎Dari sekitar 3,1 juta ton karet yang diproduksi Indonesia setiap tahun, hanya 10-15% saja yang diserap pasar domestik, sisanya diekspor. Hal ini jauh berbeda dengan di Thailand. Di Negeri Gajah Putih itu, penggunaan karet di dalam negeri sudah mencapai 40% karena besarnya kebutuhan industri otomotif.

Karena itulah dampak jatuhnya harga karet dunia terhadap para petani di Thailand‎ tidak sebesar di Indonesia. "Sedikit yang kita olah di dalam negeri. Paling 10-15%, kecil sekali yang dimanfaatkan di dalam negeri. Di Thailand sampai 40%, maka petaninya masih bisa menikmati keuntungan," papar Lukman lagi.

‎‎‎Anjloknya harga karet ini semakin diperberat lagi oleh kebijakan pemerintah yang mengenakan Bea Keluar (BK) sebesar 10% untuk ekspor karet. BK tersebut membuat harga karet di petani semakin tertekan. Lukman meminta pemerintah segera mengevaluasi kebijakan BK itu karena merugikan petani karet.

Patut diketahui, meski produksi karet dunia menurun, harga karet dunia juga terus merosot tajam. Pada September 2015, seperti dilaporkan International Rubber Study Group (IRSG), pasokan karet dunia di pasar komoditas global sebanyak 2,8 juta metrik ton. Turun 2 juta metrik ton dibanding tahun lalu di periode yang sama tahun lalu.

Harga karet di pasar global saat ini dipatok seharga US$ 1,2 per kg, jauh di bawah harga saat harga karet masih normal 3 tahun lalu, sebesar US$ 4,9 per kg.

Seperti diketahui Indonesia, Malaysia dan Thailand merupakan anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC). Ketiga negara ini merupakan produsen karet terbesar dunia. Turunnya harga karet dunia tak terlepas dari turunnya permintaan dan anjloknya harga minyak dunia.

Jatuhnya harga karet dunia, kata Direktur Pusat Penelitian Karet, Karyudi mesti disikapi dengan bijaksana. Untuk itu, petani karet disarankan mengurangi frekuensi penyadapan agar terhindar dari kerugian yang lebih dalam.

Saat ini, 60% biaya yang dikeluarkan petani karet dialokasikan untuk proses penyadapan, dan ini lebih tinggi dibandingkan dengan harga karet. Karyudi mencontohkan, harga karet alam yang saat ini hanya US$ 1,5-1,8 per kilogram (kg), yang membuat petani cenderung merugi. "Untuk mendapatkan untung, setidaknya, harga karet harus di level US$ 2-2,5 per kg," katanya.

Pengurangan frekuensi penyadapan, tambah Karyudi, sebagai strategi untuk mengatasi tekanan akibat pelemahan harga karet. Hal tersebut memang akan menurunkan produktivitas tanaman karet, namun biaya penyadapan yang harus dikeluarkan petani bisa ditekan.

"Prinsipnya, harus mengurangi frekuensi penyadapan. Kalau perkebunan besar biasanya melakukan penyadapan setiap 3 hari, kurangi jadi setiap 4 hari. Petani rakyat yang biasa menyadap setiap hari, dikurangi jadi selang-seling. Dengan begitu, profitabilitasnya lebih besar," kata dia.

Menurutnya, langkah pengurangan frekuensi penyadapan pada akhirnya akan menekan produksi karet alam nasional hingga 10% tahun depan. Akibatnya, pasokan karet alam ke pasar dunia akan berkurang yang kemudian bakal berdampak pada perbaikan harga.

Dalam riset yang dibuat PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), pada 2016 harga rata-rata bulanan karet di pasar internasional berfluktuasi pada US$ 1,14-1,69 per kg. Jika pasar membaik, skenario harga akan bergerak pada US$ 1,71 per kg dan jika memburuk berkisar US$ 0,43 per kg.

Di luar faktor pengurangan frekuensi penyadapan, lanjut dia, produksi karet alam nasional tahun depan turun 5-10% dari tahun 2015 yang diproyeksi mencapai 2,9 juta ton. Hal itu disebabkan oleh konversi lahan karet oleh petani yang beralih ke komoditas lain. "Dari aspek budidaya, harus digiatkan replanting perkebunan karet rakyat karena tanaman karet nasional sudah tua. Dan varietas tanaman sekarang itu produktivitasnya sudah rendah sehingga harus diganti ke jenis baru dengan produktivitas lebih tinggi,” ungkap dia. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id