Menu
SAJIAN ISI

Kepemilikan Asing di Industri Crumb Rubber Kini Bisa 100%

Kepemilikan Asing di Industri Crumb Rubber Kini Bisa 100%

Pemerintah membuka ruang kepemilikan asing untuk industri karet remah (crumb rubber) hingga 100%, berubah signifikan dari regulasi yang ada saat ini untuk perusahaan nasional. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani mengungkapkan, industri karet remah merupakan salah satu bidang usaha yang muncul dalam pembahasan daftar negatif investasi (DNI) dalam rapat koordinasi antar kementerian di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Dari pembahasan yang ada industri crumb rubber tersebut termasuk yang akan dibuka 100% untuk asing. Ini diharapkan dapat berkontribusi positif pada peningkatan investasi di bidang karet remah nasional,” ujar Franky, baru-baru ini di Jakarta.

Menurut dia, dengan dibukanya investasi asing untuk masuk di bidang industri crumb rubber, maka diharapkan hal ini dapat mendorong investor untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam karet di negara ini.

Sumber-sumber karet yang ada selama ini, lanjutnya, tidak banyak dimanfaatkan karena pembatasan yang dilakukan. Oleh karena itu, dengan dibukanya aliran modal asing ini diharapkan dapat secara konkret mendorong pertumbuhan produksi karet remah nasional.

Selama ini beberapa daerah merupakan sumber produksi karet nasional, seperti Jambi, Sumatera Selatan, maupun di Kalimantan. Masuknya investor asing, menurutnya, akan membuka kesempatan bagi daerah-daerah tersebut untuk tidak lagi hanya bergantung pada perusahaan nasional.

Industri crumb rubber akan menambah daftar bidang usaha yang akan dibuka untuk asing. Revisi Peraturan Presiden No. 39/2014 dilakukan untuk mendukung kebijakan perekonomian nasional terutama dalam menyongsong perubahan-perubahan di tingkat global maupun regional seperti di antaranya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Paket Kebijakan Ekonomi Jilid X
Paket kebijakan ini berisi perubahan tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 39 tahun 2014.

Revisi aturan itu selanjutnya akan diatur lewat Peraturan Pemerintah (PP). Garis besar revisi DNI itu adalah meningkatkan porsi kepemilikan asing menjadi mayoritas, bahkan hingga 100%. Berikut rinciannya:
•    30% sebanyak 32 bidang usaha, yaitu antara lain budi daya hortikultura, perbenihan hortikultura, dan sebagainya. Tidak berubah karena mandat UU.
•    33% sebanyak 3 bidang usaha, yaitu distributor dan pergudangan meningkat menjadi 67%, serta cold storage meningkat menjadi 100%.
•    49% sebanyak 54 bidang usaha, di mana 14 bidang usaha meningkat menjadi 67% (seperti: pelatihan kerja, biro perjalanan wisata, lapangan golf, jasa penunjang angkutan udara, dan sebagainya); dan 8 bidang usaha meningkat menjadi 100% (seperti: sport center, laboratorium pengolahan film, industri crumb rubber, dan sebagainya); serta 32 bidang usaha tetap 49%, seperti fasilitas pelayanan akupuntur.
•    51% sebanyak 18 bidang usaha, di mana 10 bidang usaha meningkat menjadi 67% (seperti: museum swasta, jasa boga, jasa konvensi, pameran dan perjalanan insentif, dan sebagainya); dan 1 bidang usaha meningkat menajdi 100%, yaitu restoran; serta 7 bidang usaha tetap 51%, seperti pengusahaan pariwisata alam.
•    55% sebanyak 19 bidang usaha, di mana semuanya bidang usaha meningkat menjadi 67%, yaitu jasa bisnis/jasa konsultansi konstruksi dengan nilai pekerjaan di atas Rp 10.000.000.000.
•    65% sebanyak 3 bidang usaha, di mana 3 bidang usaha meningkat menjadi 67%, seperti penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan jasa telekomunikasi, Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan jasa telekomunikasi, dan sebagainya.
•    85% sebanyak 8 bidang usaha, di mana 1 bidang usaha meningkat menjadi 100%, yaitu industri bahan baku obat; dan 7 bidang usaha lainnya tetap karena UU, seperti sewa guna usaha, dan sebagainya.
•    95% sebanyak 17 bidang usaha, di mana 5 bidang usaha meningkat menjadi 100% (seperti: pengusahaan jalan tol, pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi/tes laboratorium, dan sebagainya); dan 12 bidang usaha tetap 95% karena UU seperti usaha perkebunan dengan luas 25 hektar atau lebih yang terintegrasi dengan unit pengolahan dengan kapasitas sama atau melebihi kapasitas tertentu, dan sebagainya.

Revisi DNI juga membuka 20 bidang usaha untuk asing dengan besaran saham tertentu, yang sebelumnya PMDN 100%. Bidang usaha itu antara lain jasa pelayanan penunjang kesehatan (67%), angkutan orang dengan moda darat (49%); industri perfilman termasuk peredaran film (100%); instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan tinggi/ekstra tinggi (49%).

Selain itu, terdapat 39 bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK (Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi) diperluas nilai pekerjaanya dari semula sampai dengan Rp 1 miliar menjadi sampai dengan Rp 50 miliar. Kegiatan itu mencakup jenis usaha jasa konstruksi, seperti pekerjaan konstruksi untuk bangunan komersial, bangunan sarana kesehatan, dan lain-lain.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, untuk memperluas kegiatan usaha UMKMK itu dilakukan reklasifikasi dengan menyederhanakan bidang usaha. Misalnya 19 bidang usaha jasa bisnis/jasa konsultasi konstruksi dijadikan 1 jenis usaha.  "Karena itu jenis/bidang usaha yang dicadangkan untuk UMKMK menjadi lebih sederhana dari 139 menjadi 92 kegiatan usaha," ujar Darmin di Jakarta, baru-baru ini.

Sedangkan untuk kemitraan yang ditujukan agar Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) bekerja sama dengan UMKMK yang semula 48 bidang usaha, bertambah 62 bidang usaha sehingga menjadi 110 bidang usaha. Bidang usaha itu antara lain: usaha perbenihan perkebunan dengan luas 25 hektar atau lebih, perdagangan eceran melalui pemesanan pos dan internet, dan sebagainya. UMKMK juga tetap dapat menanam modal, baik di bidang usaha yang tidak diatur dalam DNI maupun bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan lainnya.

Darmin menambahkan, selain meningkatkan perlindungan terhadap UMKMK, perubahan DNI ini dilakukan juga untuk memotong mata rantai pemusatan ekonomi yang selama ini dinikmati oleh kelompok tertentu. Dengan demikian harga-harga bisa menjadi lebih murah, misalnya harga obat dan alat kesehatan. Mengantisipasi era persaingan dan kompetisi Indonesia yang sudah memasuki MEA. *** SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id