Menu
SAJIAN ISI

Solusi Naikkan Harga Karet

Solusi Naikkan Harga Karet

Tren penurunan harga karet alam membuat negara-negara produsen karet berencana memangkas produksi sebesar 10%-15%. Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan menteri perdagangan anggota The International Tripartite Rubber Council (ITRC) yaitu Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

Pemangkasan produksi, diharapkan menjadi solusi untuk menaikkan harga karet yang saat ini masih rendah. Selama Juli 2017, harga karet di pasar internasional bergerak di kisaran US$ 1,79 per kg. Sementara harga di tingkat petani masih di kisaran Rp 6.000 per kg.

Dari sejumlah komoditas andalan Indonesia di pasar ekspor, karet merupakan salah satu komoditas yang harganya kerap mengalami fluktuasi ekstrem. Hal itu terlihat dalam lima bulan pertama 2017, harga karet tidak stabil dalam waktu yang lama.

Pada pertengahan Mei 2017 harga karet terus tersungkur di kisaran US$ 1,9 per kg. Kemudian perlahan mulai menanjak dalam sepekan terakhir dan mencapai US$ 2.09 per kg di Tokyo Commodity Exchange (Tocom). Namun, pada Juli harga karet kembali terpuruk menjadi US$ 1,79 per kg.    

Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia, Lukman Zakaria minta Pemerintah Indonesia melibatkan petani karet atas rencana itu. Sebab, menurutnya, yang akan langsung terkena dampak kebijakan ini adalah petani.

Selain menurunkan produksi, cara lain yang bisa ditempuh untuk menstabilkan harga karet adalah dengan memotong jalur perdagangan karet dari petani ke buyer. Sebab menurut Lukman, penyebab rendahnya harga karet adalah ulah para mafia dan pengusaha yang hanya mencari keuntungan sendiri. "Kalau pemerintah meminta agar produksi karet dikurangi, maka petanilah pihak yang paling dirugikan," tukasnya.

Lukman menambahkan, saat ini banyak petani karet sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga akibat rendahnya harga karet. Akibatnya banyak petani yang mengganti tanaman karet dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan.

"Seharusnya pemerintah mendorong agar petani karet membentuk kelompok tani. Kemudian memberdayakan kelompok tani dengan memberikan pinjaman dengan bunga rendah untuk membeli mesin olahan karet yang bisa memproduksi SIR 20. Bila petani bisa memproduksi karet SIR 20 dengan kadar karetnya 100% tanpa kotoran, maka harganya pasti akan naik minimal Rp 12.000 per kg," jelas Lukman.

Selain itu, dia juga mengusulkan agar pemerintah membuka peluang memberikan izin kepada kelompok tani untuk bisa mengekspor karet sendiri. Sebab selama ini, hanya industri pengolahan karet yang sudah mengatongi izin ekspor.

Bila hal ini direalisasikan, maka para pembeli dari luar bisa langsung membeli dari petani tanpa harus melalui industri yang selama ini meraup keuntungan besar.
Harga karet memang selalu terkait dengan perekonomian global. Apalagi China, China yang merupakan salah satu eksportir ban terbesar ke AS telah menurunkan target pertumbuhan domestik bruto dari 6,7% menjadi 6,5% pada tahun ini.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kebijakan Trump yang akan mempersulit masuknya produk China ke Negeri Paman Sam tersebut dengan menerapkan Bea Masuk (BM) yang tinggi, yakni 35%.

Perang dagang dua negara raksasa ini akan berdampak pada ekspor sejumlah komoditas dari Indonesia, salah satunya adalah ekspor karet alam. China merupakan negara terbesar importir karet tentu saja akan menurunkan konsumsi karet tahun ini bila AS memproteksi diri dari produk-produk China.

Kendati demikian, Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan, Indonesia justru bisa memanfaatkan kondisi ini untuk meningkatkan ekspor karet ke AS.

"Kalau AS meningkatkan produksi ban sendiri dengan mengurangi impor ban dari China, maka karet Indonesia lebih banyak dipakai AS dan ini menguntungkan Indonesia," ujar Suharto.

Menurutnya, ekspor karet Indonesia ke China tidaklah terlalu besar, sebab China lebih banyak mengimpor karet dari Thailand ketimbang Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki Gapkindo tahun 2015, ekspor karet Indonesia ke China mencapai 289.500 ton, sementara ekspor Indonesia ke AS 115% lebih besar yakni 624.700 ton.

Sementara itu ekspor karet Thailand ke China pada periode yang sama sebesar 2.205,7 juta ton sementara ekspor karet Thailand ke AS cuma 156.000 ton. "Karet Indonesia merupakan sumber bahan baku utama ban di AS, atau importir karet alam terbesar AS berasal dari Indonesia," katanya.

Permintaan Karet Argentina
Dalam situs resminya, baru-baru ini, Fate S.A.I.C.I (Fate), salah satu perusahaan penghasil ban kendaraan bermotor di Argentina akan menggunakan hampir 90% bahan baku karet dari Indonesia.

Menurut Suharto, jumlah konsumsi karet alami dari Argentina masih tergolong rendah dibandingkan negara lainnya. Karena itu, besaran jumlah impor yang dilakukan Argentina belum bisa mempengaruhi kenaikan harga karet di Indonesia.

"Jika ada perkiraan demand yang kuat, dapat digunakan spekulan untuk spekulasi harga dewasa ini. Tapi, stok di negara-negara konsumen besar terutama China sedang tinggi sehingga tidak mungkin permintaan Argentina dapat mendongkrak harga," jelas Suharto.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga 2016, volume ekspor karet alam Indonesia ke Argentina sebesar 27.987 ton dengan nilai US$ 36,35 juta. Di tahun 2016, konsumsi karet alam Argentina total sebesar 38.800 ton.

Penggunaan karet di Argentina masih jauh lebih rendah dibanding negara lain. Untuk periode yang sama, Jepang mengkonsumsi karet alami sebesar 6,77 juta ton, sedangkan China 4,79 juta ton.
Suharto menuturkan, banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga karet. Faktor fundamenal misalnya, pertumbuhan ekonomi dunia, harga minyak mentah yang menjadi bahan baku karet sintetik dan bahan bakar industri, nilai tukar dolar AS terhadap yen dan yuan.

"Saat ini harga karet sebesar US$ 1,9/kg untuk jenis RSS (ribbed smoked sheet). Harga karet rakyat di pintu pabrik dengan 100% kadar karet senilai Rp 12.000 per kg. Kalau harganya Rp 6.000 - Rp 6.500 per kg karena kadar karetnya hanya 50%," jelas Suharto. SH

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id