Menu
SAJIAN ISI

Investasi Karet China Bisa Mengubah Peta Karet Dunia

Investasi Karet China Bisa Mengubah Peta Karet Dunia

Pasar karet dunia dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan bakal berubah. Hal ini disebabkan gencarnya China-negara importir karet terbesar dunia, dalam melakukan investasi karet ke tiga negara ASEAN, yakni Myanmar, Laos dan Kamboja.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai. Pasalnya, China merupakan negara tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah Amerika Serikat (AS).

Jika tidak diantisipasi maka ke depan pasar ekspor Indonesia berpotensi berkurang, pasca perkebunan karet milik China di tiga negara tersebut itu mulai menghasilkan.

"Bahkan saat ini saja, stok karet di China masih tinggi sehingga harga karet di pasar dunia turun," ujar Azis, baru-baru ini, di Jakarta.

Selain perkebunan karet milik investor China, Azis mengatakan, pemerintah juga perlu mewaspadai produksi karet Vietnam. Sebagai negara yang tidak tergabung dalam International Tripartite Rubber Council ( ITRC ), Vietnam berpotensi menaikkan volume ekspor karet ke China.

"Hal ini dikhawatirkan akan menggesar posisi Indonesia sebagi negara pengekspor terbesar karet kedua ke China. Indonesia bisa saja disusul Vietnam," tambah dia.

Apalagi jarak Vientam yang lebih dekat ke China menjadi pertimbangan efisiensi biaya logistik ke China. Selain itu, Laos juga melakukan ekspor karet melalui Vietnam sehingga ekspor Vietnam mencapai 1,25 juta ton lebih tinggi dibandingkan produksinya yang sebesar 1,1 juta ton.

Penguatan kerjasama dagang dinilai penting untuk mengawasi perdagangan karet. Azis menilai negara Asia Tenggara perlu membuat kesepakatan perdagangan karet. Untuk menjaga harga karet, Indonesia juga harus mulai menggenjot industri hilir agar tidak terlalu bergantung pada pasar ekspor.

Hingga saat ini kebutuhan karet negara Tirai Bambu itu rata-rata 4,3 juta ton per tahun. China  diketahui tengah melakukan penanaman karet di tiga negara tetangga yakni Myanmar, Laos dan Kamboja.

Total luas lahan perkebunan karet di tiga negara ini mencapai 5 juta hektar (ha) atau jauh lebih luas dari total luas kebun karet Indonesia yang hanya 3 juta ha. Apalagi kebun karet Indonesia, 90% di antaranya merupakan milik petani dengan produktivitasnya minim dan usia sudah tua. Sementara China akan mengelola perkebunan karet secara industri sehingga produktivitasnya lebih tinggi.

Sementara Indonesia saat ini menduduki peringkat pertama sebagai negara pemilik lahan perkebunan karet terbesar di dunia dengan luas mencapai 3,4 juta hektar. Urutan kedua adalah Thailand, dengan luas lahan 2 juta hektar. Namun dari sisi produksi karet mentah justru berbanding terbalik. Indonesia hanya menduduki peringkat kedua di bawah Thailand.

Perlu diketahui, Indonesia memiliki areal karet paling luas di dunia yakni sebesar 3,4 juta hektar. Dalam hitungan per hektarnya, produktivitas karet lokal masih kalah dibanding produksi di Malaysia dan Thailand.

Produksi dalam negeri baru mencapai 1 ton, kalah dengan Malaysia sudah memproduksi 1,3 ton per hektar, Thailand 1,9 ton per hektar. Padahal, sektor industri karet menyerap tenaga kerja dan terkait langsung dengan industri kurang lebih sebanyak 2,1 juta orang. Sementara untuk yang tidak terkait langsung dengan industri karet tersebut telah menyerap tenaga kerja kurang lebih sebanyak 100 ribu orang.

ITRC Perlu Diperluas  
Selain itu, sejauh ini penerapan pembatasan ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) sebesar 350.000 ton yang dilakukan oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC) masih belum efektif kerek harga karet. "AETS belum efektif kerek harga karet," kata Azis.
 
Pemangkasan ekspor tersebut belum efektif dikarenakan stok yang dimiliki oleh negara konsumen karet masih melimpah. Kata Azis, China dan Jepang sebagai konsumen karet terbesar masih menyimpan stok yang besar.

Selain itu penerapan AETS yang diikuti hanya tiga negara ITRC yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia dinilai masih belum bisa mengendalikan harga. Menurut dia, Vietnam perlu disertakan bahkan juga bagi negara yang baru memulai produksi karet seperti Laos dan Kamboja.

Saat ini ITRC hanya menguasai pasar sebesar 71% Namun, bila dikembangkan dengan mengajak Vietnam, Laos, dan Kamboja maka pasar yang dikuasai bisa lebih besar lagi, yakni mencapai sekitar 90%.

"Kita perlu membuat ASEAN rubber consortium agar lebih kuat dalam menentukan harga," ujar Azis.

Harga karet saat ini sebesar US$ 1,94 per kilogram (kg). Padahal, pekan lalu harga karet sempat pada posisi di atas US$ 2 per kg.

Selain harga, rencana pemerintah meningkatkan ekspor dengan imbal dagang pun disambut baik. Namun, azis mengingatkan agar imbal dagang tersebut harus diperhatikan agar menguntungkan.

Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menyebutkan salah satu langkah untuk meningkatkan ekspor adalah dengan melakukan barter. Berbagai komoditas unggulan Indonesia akan ditawarkan salah satunya adalah karet.
 
Hilirisasi Karet
Salah satu cara meningkatkan harga karet yang cenderung rendah, Azis Pane meminta pemerintah serius untuk menangani hilirisasi karet yang saat ini stagnan. Dalam hal ini, hilirisasi karet tertinggal dari kakao dan kelapa sawit.  

Menurut dia, keberhasilan hilirisasi karet akan berimplikasi positif pada stabilitas harga yang menguntungkan petani. Sebagai bukti, keberhasilan hilirisasi industri kakao di dalam negeri membuat harga komoditas ini stabil di level US$2.400 per ton. "Keberhasilan hilirisasi bisa mengangkat petani karet dari kemiskinan," katanya.

Lebih jauh lagi Aziz mengungkapkan industri karet dalam negeri rupanya masih terganjal beberapa masalah. Salah satunya adalah program penanaman kembali (replanting) atau revitalisasi pohon karet yang saat ini tidak berjalan dengan baik. Padahal pohon karet yang ada saat ini sudah terbilang cukup tua dan tidak produktif.

Aziz mengatakan, rata-rata pohon karet yang ada di perkebunan sudah tua dan sudah dikelupas kulitnya dari atas sampai bawah pohon tersebut. Hal ini, lanjutnya, menandakan kalau pohon karet tersebut memang sudah sangat tidak layak lagi untuk diambil getahnya (sadap). Sehingga produksi karet dalam negeri tidak meningkat alias stagnan.

Saat ini, ujar Azis, produktivitas karet Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Thailand dalam memproduksi karet setiap tahunnya. "Akan tetapi, dengan memiliki tanah seluas tiga juta hektar lahan, Indonesia cuma mampu memproduksi tiga juta ton karet per tahunnya, sedangkan Thailand yang punya dua juta ha lahan bisa memproduksi tiga juta ton lebih dalam setiap tahunnya."

Menurut dia, dengan memiliki tanah seluas tiga juta ha, seharusnya Indonesia bisa memproduksi lebih dari ernpat juta ton karet per tahunnya. Hal itulah yang harus difokuskan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karet tiap tahunnya.

Dalam pengamatan Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Lukman Zakaria, penerapan pembatasan ekspor atau AETS dinilai belum berdampak bagi positif bagi petani karet Indonesia. "Pembatasan ekspor tidak berpengaruh bagi harga karet petani," ujarnya..

Kurangnya kerjasama dalam penerapan pembatasan ekspor membuat cara tersebut belum berhasil. Harga karet di tingkat petani pun saat ini masih rendah.

Lukman menjelaskan, harga karet di tingkat petani saat ini sebesar Rp 6.000 per kg. Sementara harga karet idealnya sebesar Rp 15.000 per kg hingga Rp 20.000 per kg. Meski begitu, harga karet petani mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2017.

Pada tahun 2017, harga karet sempat mencapai Rp 4.000 per kg. Hal tersebut berbeda bila dibandingkan dengan harga karet dunia. Harga karet dunia tahun 2018 mengalami kemerosotan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data pada website International Rubber Consortium (IRCo), harga karet rata-rata bulan Februari tahun 2018 sebesar US$ 1,45 per kg. Sementara harga karet rata-rata pada bulan Februari 2017 mencapai US$ 2,19 per kg.

Melihat itu, petani meminta agar pemerintah meningkatkan sektor hilir. Hal itu akan membuat nilai tambah karet petani akan meningkat. "Seharusnya solusinya pemerintah membuat industri hilir dalam negeri agar memberikan nilai tambah," tegas Lukman. *** SH, AP

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id