Menu
SAJIAN ISI

Sawit Bukanlah Penyebab Utama Deforestasi di Dunia

Sebuah studi penelitian yang dirilis International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan larangan terhadap kelapa sawit (sawit) hanya memindahkan kerusakan hutan atau deforestasi dari Indonesia ke Amerika Selatan.

IUCN bahkan memprediksi jika sawit dilarang, maka produsen akan mencari sumber minyak nabati lain seperti minyak kedelai yang berarti merupakan ancaman bagi kelangsungan hutan di Amerika Selatan, terutama Brazil dan Argentina yang selama ini merupakan negara produsen minyak kedelai terbesar di dunia.

Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan, tentu jawabannya hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya?

Mau tidak mau dunia harus mengakui, ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, risikonya kebutuhan akan lahan kian bertambah sangat besar dan akan menghabiskan hutan tropis di Amerika selatan.

United Nations Development Programs (UNDP) memproyeksikan populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata konsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya.

Peningkatan produksi minyak kedelai, khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Selatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.
Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 5 ton minyak/hektar.

Pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).

Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.

Untuk mengetahui lebih jelas kontribusi sawit terhadap pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia, wartawan HORTUS Archipelago, Suharno mewawancarai Teguh Patriawan, Wakil Ketua Komisi Tetap Perkebunan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) di Jakarta, baru-baru ini.

Berikut Petikannya:

Bagaimana menjawab tuduhan bahwa sawit sebagai penyebab deforestasi?
Deforestasi sulit dihindarkan seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang cukup pesat. Pertanyaannya, dari mana pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia jika kehilangan hutan (deforestasi) menjadi alasan, tentu jawabannya hanya sawit yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainya?

Mau tidak mau dunia harus mengakui, ke depan dunia akan tergantung pada kelapa sawit (sawit) sebab jika tergantung pada komoditas minyak nabati yang lain, maka lahan yang dibutuhkan 10 kali lipat lahan yang dibutuhkan kelapa sawit untuk memenuhi minyak nabati dunia.

Jika memilih minyak kedelai atau yang lain, risikonya kebutuhan akan lahan kian bertambah sangat besar dan akan menghabiskan hutan tropis di Amerika Selatan.

Sebenarnya berapa besar kebutuhan minyak nabati dunia?
Seberapa besar kebutuhan minyak nabati dunia, kita bisa merujuk pada data United Nations Development Programs (UNDP) yang memproyeksikan bahwa populasi penduduk dunia pada 2050 mencapai 9,2 miliar jiwa. Jika merujuk rata-rata komsumsi minyak nabati negara Eropa dan USA tahun 2017 yakni 67 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2050 dibutuhkan sedikitnya 600 juta ton.

Jika prediksi di atas benar, maka dibutuhkan tambahan minyak nabati sekitar 400 juta ton. Dunia hanya bisa tergantung pada minyak sawit dan minyak kedelai, karena yang lain sulit untuk ditingkatkan produksinya.

Dalam 5 tahun terakhir (2013-2017), terdapat pertumbuhan permintaan +/-7 juta MT. Pada tahun 2017 konsumsi minyak nabati dunia mencapai 202 juta ton, dimana minyak kedelai dan sawit adalah supplier utama kebutuhan minyak nabati dunia.

Dengan peningkatan kebutuhan yang sedemikian besar, dari mana saja pemenuhannya?
Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal, memang masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Selatan sebagaimana terjadi dalam 10 tahun terakhir ini. Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Namun, jika untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati, dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai maka akan dibutuhkan sedikitnya tambahan lahan seluas 340 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar. Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

Tetapi jika memilih minyak sawit, maka ekspansi atau perluasan kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar, dengan asumsi produktivitas 5 ton minyak/hektar.

Pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) hanya 10% saja jika dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar).

Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia daripada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.

Sebenarnya berapa besar share sawit terhadap pemenuhan minyak nabati dunia?
Saat ini saja, share minyak sawit 38% dari total kebutuhan minyak nabati dunia dan diperkirakan pada 2050 nanti share minyak sawit akan mencapai 55 %.

Untuk itu, dunia sadar akan potensi besar sawit. Kalau ada yang salah dalam pengelolaannya tinggal diperbaiki, bukan sawitnya yang disalahkan sebagai penyebab deforestasi. Mestinya dunia juga melihat penyebab deforestasi terbesar di dunia adalah peternakan.

Seberapa besar luas lahan kedelai saat ini?
Berdasarkan data USDA, selama tahun 2013-2017 tanaman kedelai menggunakan lahan paling luas dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya di dunia. Pada tahun 2017, total luas lahan tanaman minyak nabati di dunia mencapai 276,6 juta Hektar. Luasan tersebut didominasi oleh tanaman kedelai sebesar 45%, diikuti oleh tanaman minyak lainnya sebesar 25%, rapeseed 13%, bunga matahari 9% dan kelapa sawit 8%.

Jika dilihat dari produksi minyak nabati dunia tahun 2013-2017, dengan luas lahan paling kecil, kelapa sawit menjadi penghasil minyak paling tinggi. Pada tahun 2017, produksi kelapa sawit mencapai 69,8 juta ton (34%), baru kemudian diikuti oleh minyak kedelai sebesar 56,2 juta ton (27%).

Pada tahun 2017, pangsa produksi minyak nabati diisi sebanyak 34% oleh minyak sawit, 27% oleh minyak kedelai, 14% oleh minyak rapeseed dan 9% oleh minyak biji bunga matahari. Pangsa minyak kelapa sawit (CPO) meningkat dari sekitar 8 persen (1980) menjadi sekitar 30 persen (2015) atau meningkat hampir empat kali lipat.

Sedangkan pangsa minyak kedelai turun dari 53% menjadi sekitar 30%. Kondisi ini menunjukkan betapa kelapa sawit telah menjadi minyak nabati primadona dunia. Produktivitas minyak sawit yang lebih tinggi dan biaya produksi minyak sawit yang lebih rendah menyebabkan harga minyak sawit konsisten lebih rendah dibandingkan minyak nabati lainnya. Harga minyak sawit yang lebih murah tersebut dan ketersediaannya di pasar internasional menyebabkan meningkatnya konsumsi minyak sawit dunia.
Apa yang perlu kita lakukan?
Ya, sebenarnya tugas kita semuanya, terutama pemerintah untuk memberi pengertian pada dunia, bahwa Indonesia sudah memiliki perencanaan yang matang untuk memanfaatkan lahan, baik hutan maupun non hutan yang dimilikinya. Negara lain tidak boleh mencampurinya, sebab mereka sudah melakukan terlebih dahulu.

Kenapa mereka kok ribut. AS menebang ratusan juta hektar untuk peternakan dan kedelai, dunia diam saja. Sementara untuk sawit yang hanya kurang dari 20 juta di seluruh dunia diributkan, perlu RSPO dan sebagainya.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan UNDP, aktivitas peternakan sapi justru menyebabkan deforestasi hutan dan lahan lebih pesat di dunia. Peternakan sapi membutuhkan lahan seluas 1 hektar untuk melakukan budidaya ternak sapi. Aktivitas ternak sapi juga menyebabkan emisi gas karbon tinggi yang berasal dari kotorannya.

Tingginya emisi karbon yang dihasilkan, dan luasnya penggunaan lahan bagi peternakan sapi, menjadi hal utama akan penyebab deforestasi. Karena itulah, dapat disimpulkan secara ringkas bahwa perkebunan kelapa sawit bukan penyebab deforestasi, melainkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang hidup di daerah pelosok.

Dunia tak perlu meributkan pemanfaatan hutan di Indonesia. Semua negara di dunia membutuhkan lahannya untuk kemakmuran. Indonesia memiliki kedaulatan, AS, Eropa dan Australia sudah lebih dulu membuka hutannya, sementara Indonesia baru membuka hutan setelah kemerdekaannya.

Kalau demikian, apa prediksi anda soal kebutuhan minyak nabati?
Saya perkirakan, tahun 2050 dunia akan balik meminta Indonesia meningkatkan produksi minyak sawitnya. Hal ini karena sawit mampu memenuhi kebutuhan untuk pangan dan energi dunia.

Dunia mestinya bersyukur dengan adanya tanaman sawit. Karena sawit berkontribusi besar dalam pelestarian dan keseimbangan lingkungan. Betapa tidak, komoditas ini awalnya adalah tumbuhan hutan, perakarannya kokoh mampu menahan tanah dari erosi. Sementara dahan kanopinya mampu melindungi muka bumi dari panasnya sinar matahari, terpaan derasnya air hujan dan hempasan angin.

Atas dasar itu, maka tidaklah heran jika Malaysia mengkategorikan sawit sebagai tanaman hutan. Hebatnya lagi kelapa sawit adalah sumber energi nabati paling efektif dan efisien serta lebih ramah lingkungan bila dibanding komoditas sumber energi lainnya.

Mohon dijelaskan seperti apa sawit itu, apa bedanya dengan tanaman hutan?
Tanaman sawit sama dengan tanaman pohon hutan, mengingat pada dasarnya dalam proses pertumbuhannya menyerap dan menyimpan karbon. Oleh beberapa institusi dan tenaga ahli, tanaman sawit sudah dikategorikan sebagai tanaman hutan termasuk ahli spasial dari University of Maryland, Amerika Serikat.

Malaysia bahkan memasukkan sawit dalam kategori tanaman hutan. Mereka dengan kebijakan yang solid, berhasil menciptakan iklim yang kondusif dalam pengembangan perkebunan tanpa harus disibukkan dengan kecaman dari lembaga swadaya masyarakat, baik dalam maupun luar negeri.
Harus diakui bahwa tanaman sawit yang monokultur tidak dapat menandingi nilai konservasi sebagaimana yang dimiliki hutan tropikal basah yang berada di wilayah Indonesia. Akan tetapi dalam luasan terbatas, tanaman sawit dengan memanfaatkan lahan kosong (lahan hutan tidak produktif), selain memiliki nilai ekonomis, juga memiliki nilai perlindungan lahan jauh lebih baik dibanding dengan tanaman minyak nabati sub tropis seperti kedelai, rapeseed, sunflower dan lainnya.

Kondisi ini sesuai dengan data Kementerian Kehutanan, dari 130,68 juta hektar kawasan yang diklaim sebagai kawasan hutan (atau 72% dari luas daratan Indonesia 181,16 juta hektar), seluas 41 juta hektar berupa penutupan non hutan.

Bagaimana perbandingan luas lahan pertanian Indonesia dengan negara lain?
Data menunjukkan bahwa luas lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia, jauh lebih kecil dibanding secara proporsional luas daratan dan jumlah penduduk negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Brazilia, Eropa, China dan lainnya. Apalagi kalau memperhitungkan tingkat pendapatan per kapita penduduk, dimana jumlah penduduk Indonesia yang berada pada posisi terbesar ke-4 dunia.

Sebagai negara yang dahulu bercorak agraris, pada kenyataannya luas lahan pertanian kita terbilang kecil jika dibandingkan jumlah penduduk. Dalam laporan Bank Dunia, luas lahan pertanian Indonesia hanya 29,59% dari total luas areal daratan. Jumlah lahan pertanian Indonesia lebih kecil dari total luas daratan dibandingkan negara lain seperti Inggris 73%, Jerman 48,5%, Italia 45,5%, Polandia 53%, Portugal 37,8% Belanda 57%, Perancis 53%, Spanyol 56% dan Amerika Serikat 45%. ***

Hari Perkebunan, Momentum untuk Meningkatkan Daya Saing Perkebunan

Setiap tanggal 10 Desember insan perkebunan Indonesia selalu memperingati Hari Perkebunan. Dengan adanya Hari Perkebunan diharapkan bisa menjadi momentum untuk dapat melakukan evaluasi diri tentang berbagai hal dalam memajukan perkebunan.

Makna sejarah yang perlu kita tangkap dari peringatan Hari Perkebunan tersebut adalah warisan semangat dari para tokoh perkebunan yang tidak boleh luntur, bahkan tidak boleh dilupakan oleh generasi saat ini.

Hari Perkebunan juga untuk merajut kembali perjalanan panjang sejarah perkebunan Indonesia. Dengan adanya komoditas perkebunan, Indonesia sejak dahulu kala telah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu, dengan Hari Perkebunan untuk menggugah terutama generasi muda dan generasi yang akan datang untuk memahami betapa besarnya potensi perkebunan yang kita miliki dan mereka diharapkan tertarik mengelola potensi tersebut untuk kemakmuran bangsa ini.

Kendati kondisi perekonomian yang relatif sulit, namun subsektor perkebunan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menyebutkan adanya pertumbuhan yang berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) dari tahun 2015, 2016 dan 2017. Pada 2015 – 2016 naik 5,7%, 2016 – 2017 meningkat 9%. Sementara capaian di 2017 terhadap kontribusi PDB sebesar Rp471.31 Triliun.

Meski demikian, dari 127 komoditas perkebunan, saat ini baru sekitar 15 komoditas saja yang bisa menghasilkan devisa. Dan dari 15 komoditas tersebut, sumbangan terbesar berasal dari kelapa sawit.

Meski perkebunan memberikan peran yang sangat penting bagi fundamental ekonomi bangsa Indonesia, namun belum dikelola dengan baik dan optimal. Padahal jika dikelola dengan baik tentu akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi.

Hal ini bisa terlihat dari produktivitas perkebunan kelapa sawit, sebagai kontributor utama sektor perkebunan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru 2-3 ton per hektar (ha), padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton/ha.

Untuk itu, pemerintah telah berkomitmen meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan milik petani agar perkebunan nusantara lebih berdaya saing.

Untuk mengetahui apa kontribusi perkebunan dan langkah apa saja yang diambil pemerintah dalam meningkatkandaya saing, wartawan HORTUS archipelago, Suharno mewawancarai Direktur Jenderal Perkebunan Bambang, baru-baru ini, di Pekanbaru. Berikut petikannya.

Boleh dijelaskan, makna Hari Perkebunan yang selalu diperingati setiap 10 Desember?

Makna sejarah yang perlu kita tangkap dari peringatan Hari Perkebunan tersebut adalah warisan semangat dari para tokoh perkebunan yang tidak boleh luntur, bahkan tidak boleh dilupakan oleh generasi saat ini.

Hari Perkebunan juga untuk merajut kembali perjalanan panjang sejarah perkebunan Indonesia. Dengan adanya komoditas perkebunan, Indonesia sejak dahulu kala telah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu, dengan Hari Perkebunan untuk menggugah terutama generasi muda dan generasi yang akan datang untuk memahami betapa besarnya potensi perkebunan yang kita miliki dan mereka diharapkan tertarik mengelola potensi tersebut untuk kemakmuran bangsa ini.

Apa saja capain yang sudah diraih oleh perkebunan?

Ya Kendati kondisi perekonomian yang relatif sulit, namun perkebunan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Data menyebutkan adanya pertumbuhan yang berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) dari tahun 2015, 2016 dan 2017. Pada 2015 – 2016 naik 5,7%, 2016 – 2017 meningkat 9%. Sementara capaian di 2017 terhadap kontribusi PDB sebesar Rp471,31 triliun.

Kinerja yang mengesankan ditampilkan komoditas kelapa sawit. Dari sisi kinerja ekspor sektor perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan cukup pesat yakni, 2016 – 2017 meningkat 25,8% dari 25,9 juta ton meningkat menjadi 30,9 juta ton atau nilai ekspor 18,2 miliar USD (Rp241,9 triliun) menjadi nilai ekspor 22,9 miliar USD (Rp307,4 triliun).

Dengan capaian ekspor meningkat 25,8% pada 2016 – 2017, maka Indonesia menjadi negara produsen dan eksportir CPO dan minyak sawit lainnya no 1 di dunia. Tercatat pada 2017 dari produksi 37,8 juta ton sebanyak 88,65% untuk kebutuhan ekspor, sisanya dikonsumsi dalam negeri.

Kelapa sawit dengan luasan areal 14,03 juta hektar capaian produktivitas untuk perkebunan rakyat (PR) 3,01 ton CPO, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 3,90 ton CPO, Perkebunan Besar Nasional (PBN) 3,91 ton CPO. Padahal, rekomendasi produktivitasnya 8,4 ton, sementara jika produktivitasnya optimal bisa mencapai 12 ton CPO per hektar.

Tidak usah sampai optimal, jika rata-rata industri sawit Indonesia bisa menghasilkan 9 ton berarti sudah 3 kali lipat. Akan lebih baik jika diikuti dengan hilirisasi maka akan semakin besar potensinya. Capaian tersebut, dapat menjadi gambaran komoditas perkebunan sangat penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Adakah hambatan dalam meningkatkan kinerja perkebunan?

Selain tingkat produktivitas, berbagai isu negatif terus menerpa komoditas sawit. Padahal sawit penyelamat hutan tropis dunia dan mengusahakan sawit dapat menghasilkan pangan maupun energi, perkebunan juga berperan sebagai sumber kemakmuran dan pemacu pembangunan wilayah terpencil.

Kami menduga kampanye negatif sebagian dihembuskan dalam rangka perang dagang, atau lebih ke persaingan bisnis minyak nabati.

Itu dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang menghambat masuknya produk perkebunan asal Indonesia ke negara importir, meski negara itu sangat membutuhkan. Hambatan itu untuk kelapa sawit dengan aturan sustainable (keberlanjutan), kakao dari aturan fermentasi dan non-fermentasi, dan masih banyak lagi.

Untuk mengatas persoalan itu, Indonesia harus menyatukan kekuatan antara pelaku usaha, petani, dan pemangku kebijakan. Tak perduli itu di pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah (Pemda).

Kalau semua bersatu, perkebunan akan kuat dan tidak akan tergoyahkan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi prioritas perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi bangsa.

 

Selain kelapa sawit, komoditas apa saja yang menjadi andalan dalam menghasilkan devisa bagi Indonesia?

Dari sekitar 127 komoditas perkebunan, saat ini baru sekitar 15 komoditas saja yang bisa menghasilkan devisa. Dan dari 15 komoditas tersebut, sumbangan terbesar berasal dari kelapa, disusul komoditas lainnya seperti karet, kakao, kopi teh, rempah-rempah dan sebagainya. Ke depan kita harapkan lebih banyak lagi komoditas yang menghasilkan devisa.

Apakah saat ini perkebunan sudah dikelola dengan baik?

Sementera ini belum bisa dikelola secara optimal. Tetapi kami akan terus berusaha keras untuk memaksimalkan kinerja dalam mengelola sektor perkebunan. Apalagi saat ini peran perkebunan sangat dibutuhkan negara dalam menyeimbangkan neraca perdagagan yang cenderung defisit.

Padahal jika dikelola dengan baik tentu akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi. Seperti terlihat dari produktivitas perkebunan kelapa sawit, sebagai kontibutor utama sektor perkebunan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru 2-3 ton per hektar (ha), padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton/ha.

Untuk itu, pemerintah telah berkomitmen meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan milik petani agar perkebunan nusantara lebih berdaya saing .

Apalagi, saat ini, banyak negara yang tidak menghendaki perkebunan di Indonesia maju.

Bagaimana dengan program peremajaan sawit pekebun atau sawit rakyat?

Peremajaan harus dilakukan jika ingin mendapatkan produktivitas yang optimal. Apalagi tanaman sawit rakyat rata-rata sudah berusia tua dan produktivitasnya rendah.

Untuk itu, kami berharap semua stakeholder sawit bahu membahu bekerja sama melakukan peremajaan sawir rakyat. Apalagi saat ini ada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) yang salah satu tugasnya adalah membantu pendanaan bagi peremajaan sawit rakyat.

Peremajaan sawit rakyat tahun ini ditargetkan 185.000 hektar, jika itu berhasil dicapai. Dan jika replanting secara konsisten bisa dilakukan tahun 2020 – 2025 maka Indonesia menjadi negara terbesar di dunia, baik sebagai penghasil oleo food, biofuel, dan berikut turunannya.

Bagaimana regulasi yang sudah ada, cukupkah?

Untuk menjaga tingginya PDB yang dihasilkan dari komoditas perkebunan itu, maka perlu ada penguatan perkebunan melalui penyempurnaan berbagai regulasi. Mulai yang tertuang dalam peraturan pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), hingga Surat Keputusan (SK).

Penyempurnaan regulasi perkebunan perlu dilakukan bukan sekadar untuk memperkuat komoditas perkebunan. Tapi itu juga untuk membangun perkebunan yang lebih besar lagi untuk perkebunan swasta, perkebunan negara, maupun perkebunan rakyat.

Penyempurnaan regulasi ini juga perlu dilakukan untuk bisa mengintegrasikan antara perkebunan milik perusahaan swasta dan pemerintah dengan perkebunan milik rakyat. Ini perlu dilakukan, karena secara umum luas perkebunan itu masih didominasi oleh perkebunan rakyat.

Bagaimana dengan program kemitraan?

Dalam regulasi yang sudah ada, perkebunan besar milik perusahaan wajib melakukan kemitraan dengan perkebunan milik rakyat. Hanya dengan kemitraan perkebunan bisa terangkat. Mengingat luas perkebunan di Indonesia itu mayoritas dikuasai oleh rakyat.

Dengan melakukan kemitraan akan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Dan dengan melakukan kemitraan industri pengolahan di dalam negeri bisa memenuhi pasokan atau bahan baku sesuai dengan kriterianya.

Seperti halnya di kakao. Potensi produktivitasnya bisa mencapai 4 ton/hektar/tahun. Tapi saat ini produktivitas petani kakao hanya 500 kg/hektar/tahun. Juga di kelapa sawit milik petani mandiri. Produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) mereka hanya berkisar antrara 16 – 18 ton/hektar/tahun, padahal seharusnya bisa mencapai 36 ton/hektar/tahun.

Dengan melakukan kemitraan bukan tidak mungkin akan meningkatkan produktivitas petani pekebun. Ini karena mayoritas lahan perkebunan dikuasai oleh petani mandiri. ***

Yusni Emilia Harahap: Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian

Hadapi MEA, Daya Saing Produk Harus Diperbaiki

Salah satu pilar utama untuk peningkatan pendapatan petani adalah peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Karena itu, program-program terobosan untuk mengembangkan usaha-usaha industri pengolahan dan akselerasi pemasaran, baik pasar domestik maupun ekspor menjadi sebuah keniscayaan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman

10 Pabrik Baru untuk Swasembada Gula

Pemerintah pimpinan Jokowi-JK telah mencanangkan swasembada gula pada akhir pemerintahannya, yakni tahun 2019. Untuk mewujudkan langkah tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) akan membangun 10 unit pabrik gula (PG) baru. Pembangunan 10 unit pabrik gula tersebut, kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, membutuhkan lahan dengan luas 500 ribu hektar, dan itu rencananya akan dibangun di wilayah timur Indonesia.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id