Menu
SAJIAN ISI
Redaksi

Redaksi

Alamat : Gedung Graha BUN. Jln Ciputat Raya No.7 Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53 E-mail : majalah_hortus@yahoo.co.id
No Rekening : 121 00333 55557 Bank Mandiri a/n PT Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan

Website URL: http://www.majalahhortus.com

Kementan Optimis Program Serasi Tingkatkan Produktivitas Pertanian

JAKARTA, Kementerian Pertanian bekerja keras mewujudkan peningkatan produktivitas pertanian melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI). Program tahun ini difikuskan kepada tiga provinsi yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan yang ditargetkan keseluruhan mencapai 400 ribu hektare pada 2019.

Tahun lalu, Kementan menargetkan keseluruhan program Serasi menjangkau 500 ribu hektare di seluruh Indonesia. Namun setelah proses validasi, Kementan RI menetapkan target menjadi 400 ribu ha pada 2019.

"Target 400 ribu hektar tahun ini setelah melalui proses validasi CPCL (red- Calon Petani Calon Lokasi). Fokus kami memang tiga provinsi dulu," kata Sarwo Edhi Dirjen Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), dalam Diskusi Forum Wartawan Pertanian bertemakan "Program Serasi Meningkatkan Produktivitas" di Gedung PIA Kementerian Pertanian RI, Rabu (24 April 2019).

Ditjen PSP Kementerian Pertanian RI menyiapkan dana sebesar Rp 2,5 triliun untuk implementasi program Serasi. Nilai sebesar ini berasal dari perhitungan Rp 4,3 juta per hektare yang dipakai untuk perbaikan jaringan tersier. Sarwo Edhi menuturkam program Serasi telah menunjukkan hasil yang baik di lapangan antara lain produktivitas pertanian naik menjadi 6,5 ton GKP per ha di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dari sebelumnya berjumlah 3 ton GKP per ha.


Untuk memperkuat program Serasi, Ditjen Tanaman Pangan juga menyediakan Rp 1,2 triliun untuk kebutuhan sarana produksi pertanian dan pembinaan. Dana ini akan dipakai dalam rangka penyediaan benih, dolomit, dan pupuk hayati. Estimasi biaya untuk saprodi rerata Rp 2,01 juta per ha.

Bambang Pamuji, Sesditjen Tanaman Pangan, menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan bantuan saprodi bagi petani peserta program Serasi. Bantuan ini berupa benih, herbisida, pupuk hayati, dan dolomit.

Perhitungannya adalah bantuan benih dialokasikan 80 kilogram per ha, dolomit 1.000 kilogram per ha, herbisida 3 liter per ha, dan pupuk hayati 25 kilogram per ha.

Saat ini, PT Polowijo Gosari paling siap untul memenuhi kebutuhan dolomit di Indonesia serta mendukung kebutuhan dolomit bagi program Serasi. Potensi tambang dolomit yang dimiliki Polowijo sebesar 300 juta ton. Dengan produksi dolomit setahun berjumlah 1 juta ton. Produk andalan perusahaan untuk perkebunan sawit adalah Dolomit Premium 100.

Prof Dedi Nursyamsi, Akademisi, optimistis bahwa program ini dapat berjalan baik dibandingkan program gambut sejuta hektar. Karena lahan rawa ini aman dari aspek lingkungan dan bahaya kebakaran

Diskriminasi Uni Eropa Ancam 16 juta Petani Sawit

Kalangan pekerja dan petani sawit terancam kebijakan Uni Eropa yang akan melarang penggunaan sawit sebagai bahan baku biofuel. Oleh karena itu, Uni Eropa didesak untuk mempertimbangkan keputusannya karena berpotensi menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi di Indonesia.

Sekretaris Eksekutif Sekretaris Eksekutif Jejaring Serikat Pekerja/Serikat Buruh Sawit Indonesia (JAPBUSI) Nursanna Marpaung mengatakan, pihaknya mengutuk tindakan Uni Eropa yang berencana menghentikan pembelian sawit dari Indonesia.

"Seharusnya Eropa tidak hanya melihat deforestasi, tapi pikirkan juga manusianya," ujarnya dalam diskusi Forum Jurnalis Sawit dengan tema "Membedah Peranan dan Kepatuhan Industri Sawit di Sektor Tenaga Kerja", Selasa (23/4).

Nursanna melanjutkan, kebijakan Eropa akan berdampak kepada keberlangsungan industri sawit terkait perlindungan sawit secara menyeluruh. Industri sawit di Indonesia berkontribusi bagi penyerapan tenaga kerja sebagai gambaran jumlah pekerja di perkebunan rakyat, swasta dan negara sebanyak 3,78 juta orang dan terdapat 2,2 juta petani.

Total jumlah pekerja yang terlibat dalam rantai pasok sawit mencapai 16,2 juta jiwa.

"Kami mendukung upaya pemerintah dalam rangka melawan diskriminasi sawit di Eropa. Pemerintah harus bersikap tegas karena ini menyangkut nasib para pekerja yang menggantungkan hidupnya dari sawit. Anggota kami di JAPBUSI hingga 2 juta orang yang bekerja di sawit," katanya.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumarjono Saragih menambahkan, ancaman nyata yang dihadapi industri sawit ini adalah tingginya tuntutan dan standar di pasar global.

Ia mengeluhkan, setidaknya ada enam tuduhan yang kerap dialamatkan yaitu status ketenagakerjaan, dialog sosial antara perusahaan dengan pekerja, keselamatan dan kesehatan kerja, mempekerjakan anak, upah yang minim dan lemahnya pengawasan pemerintah.

"Dengan isu lingkungan sudah kewalahan. Ditambah lagi isu anak dan pekerja. Kalau terus digaungkan maka akan berdampak besar bagi industri," katanya.

Isu negatif ketenagakerjaan jika tidak bisa diselesaikan akan membuat iklim investasi ikut meredup. Sumarjono menilai industri sawit berada dalam ancaman. Di satu sisi biaya operasional termasuk upah pekerja terus naik, tapi harga sawit fluktuatif dan produktivitas kebun cenderung stagnan.

Sementara itu, Country Office ILO Indonesia dan Timor Leste Irham Ali Saifudin mengakui dalam jangka pendek serta jangka panjang akan berdampak kepada pekerja yang mencapai 16 juta pekerja. ini berpengaruh karena Eropa termasuk pembeli utama.

Ia menyarankan perlu dibuat formulasi strategi yang baik untuk memperkuat aspek positif informasi sawit. Selain perlu juga industri menunjukkan itikad baik dalam rangka memperbaiki tata kelola perkebunan.

Mentan Optimis B100 Mampu Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi melaksanakan ujicoba perdana produk Biodiesel B100 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin (15/4). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis B100 akan menjadi produk lokal unggulan yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional.

“B100 adalah energi masa depan kita. Ini adalah peluang besar karena produksi CPO kita sebanyak 41,6 juta ton. Pada kurun waktu 2014 – 2018, produksi CPO meningkat 29,5 persen setiap tahunnya .Bisa dibayangkan berapa triliun yang bisa dihemat. Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” terang Amran.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami yang terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Karena memiliki sifat fisik yang sama dengan minyak solar, biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti untuk kendaraan bermesin diesel. Selama ini, biodiesel masih dicampur dengan bahan bakar minyak bumi dengsn perbandingsn tertentu. Tapi dengan teknologi pengembangan B100, biodiesel mengandung 100 persen bahan alami, tanpa dicampur dengan BBM.

Produk B100 merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Para peneliti Balitbangtan mengembangkan Reaktor biodiesel multifungsi yang sudah mencapai generasi ke-7. Mesin ini dapat mengolah 1.600 liter bahan baku setiap harinya.

“Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran," jelas Amran.

Sebelum berhasil mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014 – 2018, perkembangan B20 di Indonesia pun cukup pesat. Pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. Meskipun demikian, Amran menyebutkan bahwa Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. “Mencermati hal tersebut, pengembangan B100 menjadi sebuah keniscayaan,” tandasnya.

Pengembangan biodiesel B100 diharapkan Amran memiliki banyak dampak positif. Di antaranya, B100 telah teruji lebih efisien. “Perbandingannya saja untuk satu liter B100 bisa menempuh perjalanan hingga 13,4 kilometer sementara satu liter solar hanya mampu sembilan kilometer. Ini sudah terbukti efisien,” terang Amran.

Dampak positif lainnya, B100 merupakan energi ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar.

Pengembangan B100 juga diharapkan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan petani sawit. Sawit Indonesia hingga kini masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Ekspor CPO diperkirakan mencapai 34 juta ton. Tapi jika hanya mengekspor dalam bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah bila dibandingkan bentuk produk turunan.

"Dalam situasi ini, Diharapkan dengan langkah hilirisasi melalui peningkatan daya serap biodiesel ini dapat menjadi fondasi kita untuk menciptakan hilirisasi sawit dengan produk akhir yang lain," tandasnya

Pertanian Presisi Untuk Mensejahterakan Petani

Spirit pertanian presisi adalah meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan ramah lingkungan. Meningkatnya efisiensi dan produktivitas, diharapkan dapat meningkatkan keuntungan petani. Dengan ramah lingkungan maka keuntungan itu berlanjut terus-menerus selama masa bertani. Jadi, dengan menerapkan pertanian presisi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal tersebut ada pada buku yang berjudul ‘Pertanian Presisi Untuk Mensejahterakan Petani’ yang dilaunching hari ini di Jakarta. Buku karya Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok KTNA Nasional ini tidak hanya memaparkan usaha tani presisi (precision farming) yang meliputi penyemaian sampai dengan pemanenan padi, tetapi juga memaparkan pascapanen berupa pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan gabah, serta penyimpanan beras. Sinergi usaha tani presisi dan pascapanen presisi inilah disebut dengan pertanian presisi (precision agriculture).

“Dalam pertanian presisi, setiap keputusan proses pertanian harus berdasarkan informasi yang akurat. Di sini diperlukan peran teknologi informasi dan komunikasi untuk mengumpulkan, memproses, dan menganalisis informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan. Data dan informasi yang dikumpulkan antara lain lahan pertanian, bibit, kandungan hara tanah, saluran irigasi, prediksi cuaca, data banjir, kebutuhan air tanaman, serta serangan hama dan penyakit,” kata Winarno.

Winarno menambahkan, dengan teknologi Global Positioning System (GPS) dan Geographic Information System (GIS), kita bisa menentukan karakteristik spesifik lokasi. Data GPS menekankan pada ketepatan posisi suatu lahan sementara GIS pada geografi atau karakteristik tanah dan lain-lain. Dari data GPS dan GIS ini dapat diketahui karakteristik lahan di suatu lokasi dengan lokasi lainnya. Meski satu hamparan belum tentu karakteristik lahan itu sama. Di sinilah pentingnya pertanian presisi.

“Dengan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT), kita bisa mendapatkan informasi ketersediaan hara tanah, pH tanah, kelembapan tanah, kandungan air tanah, data suhu dan curah hujan, cuaca dan iklim, kebutuhan air tanaman, kebutuhan hara tanaman, dan sebagainya. Dengan drone, kita bisa mendapatkan informasi tanaman yang terkena hama dan penyakit,” jelasnya.

Dia menambahkan, bantuan teknologi microcontroler yang dipasang pada alat sensor, semua data lapangan yang diperoleh dapat dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data melalui internet. Data lapangan ini diolah dengan perangkat lunak tertentu agar menjadi informasi yang bisa digunakan kapan dan di mana saja untuk mengambil keputusan dalam aktivitas pertanian.

“Tetapi pertanian presisi saja belum cukup untuk mensejahterakan petani. Untuk itu diperlukan juga laporan tanaman prospektif yang menginformasikan prospek komoditas setiap awal tahun seperti yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Data ini dapat memberikan gambaran seberapa jauh peningkatan harga komoditas pada tahun berjalan,” katanya.
Berdasarkan prospek harga dan dikombinasi dengan penerapan pertanian presisi, petani dapat menghitung secara simulasi, berapa keuntungan yang bakal diperoleh sebelum menanam suatu komoditas. Tanaman jenis apa yang sebaiknya ditanam sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga harga jualnya relatif tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Perlu diketahui, pertanian 4.0 pada dasarnya merupakan pertanian presisi tetapi di dalam pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan dalam proses pertanian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. Pertanian 4.0 adalah penerapan evolusi dan proses digitalisasi Industri 4.0 ke dalam sektor primer, dalam hal sektor pertanian.
Industri 1.0 (jika kita mengunakan bahasa web), merupakan revolusi industri pertama yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 dengan ditemukannya mesin uap yang digunakan dalam proses produksi. Industri 2.0 merupakan revolusi industri kedua yang terjadi akhir abad ke-19 dengan dengan ditemukannya teknologi pembangunan listrik untuk rumah tangga dan industri.
Industri 3.0 merupakan revolusi industri yang menerapkan robotisasi dan otomatisasi pada pabrik. Sekarang Industri 4.0 merupakan revolusi industri dengan adanya pabrik pintar. Di sini semua aktivitas manufaktur terhubung satu sama lainnya. Dengan bantuan sensor dan microcontroler yang dipasang di setiap titik maka data proses produksi dapat dikumpulkan dan diolah secara real time (seketika) sehingga proses produksi dapat dipantau setiap saat. Bahkan, pemantauan ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan menggunakan smartphone.
Sekarang revolusi Industri 4.0 itu sudah diterapkan pada Pertanian 4.0. Esensinya adalah pertanian presisi tetapi menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang didukung peralatan yang canggih. Data yang dikumpulkan dengan bantuan sensor, microcontroler, drone, dan sebagainya, dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data, melalui internet. Pengiriman data antartitik dan pengambilan data ini menggunakan Internet of Things (IoT).
Dalam Pertanian 4.0 bukan saja diperlukan investasi yang relatif mahal tetapi juga diperlukan sumberdaya manusia yang mempuni untuk melakukannya.

Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id