Menu
SAJIAN ISI

Komoditas Sawit Penting Bagi Bangsa Indonesia

hortus edisi mei 2018Kelapa sawit merupakan komoditas terpenting saat ini yang masih dimiliki oleh Indonesia. Karena itu, wajar bila pemerintah Indonesia sangat peduli terhadap keberlangsungannya. Apalagi, jutaan masyarakat menggantungkan kehidupannya pada komoditas ini. Konferensi Internasional tentang Kelapa Sawit dan Lingkungan atau International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE) 2018 yang digelar di Nusa Dua, Bali, berlangsung hangat dan tidak menjemukan.  

Terlebih dalam perhelatan rutin tahunan itu, pihak penyelenggara juga menghadirkan Miss Earth Indonesia 2017, Michelle Victoria Alriani sebagai salah satu undangan.Tak urung, kehadiran gadis berparas cantik pada acara “The 6th International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2018” tersebut, banyak menyita perhatian peserta.

Menko Perekonomian Darmin Nasution ketika membuka konferensi tersebut, menyatakan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas terpenting yang kini sedang dimiliki oleh Indonesia. Karena itu, bisa dipahami bila pemerintah sangat care terhadap kelangsungan komoditas perkebunan yang menghidupi jutaaan masyarakat di negara ini.

"Itu komoditas terpenting yang kita miliki sekarang ini. Kalau zaman dahulu kita punya komoditi lain, tetapi mungkin sudah masa lalu seperti rempah-rempah. Sebagai komoditas terpenting, pemerintah tentu saja sangat peduli dan perhatian agar kelangsungannya itu berjalan dengan baik, karena menyangkut hidup masyarakat yang jumlahnya jutaan orang," kata Darmin menegaskan.
 
Dalam kesempatan itu, Darmin juga mengapresiasi penyelenggaraan ICOPE 2018, sebuah konferensi yang menghadirkan berbagai elemen industri sawit, mulai dari aktivis kelapa sawit, perusahaan kelapa sawit hingga pakar-pakar yang selama ini kritis terhadap kelapa sawit. Tercatat lebih dari 400 peserta dari sekitar 30 negara duduk bersama untuk membahas segala hal tentang kelapa sawit.

"Acara ini menarik, karena diikuti oleh aktivis kelapa sawit, para pelaku perkebunan dan juga para pakar yang mungkin agak kritis terhadap kelapa sawit. Tapi justru keragaman itu menjadi menarik, karena dialog dan diskusi mereka tentu membawa dampak saling memahami dan akhirnya solusi itu dengan kerja sama, bukan saling bertahan dalam posisi masing-masing," paparnya.

Menurut Darmin, perkembangan sawit saat ini demikian pesat. Hal itu karena sawit sangat produktif melampaui komoditas penghasil minyak nabati yang lain, seperti kedelai, bunga matahari, rapeseed, canola dan yang lainnya.

Hal itu, bisa dilihat dari setiap hektar tanah yang sudah ditanami oleh kelapa sawit dan hasilnya berkali-kali lipat. Berdasarkan rasio penggunaan lahan, tiap hektar kebun sawit bisa menghasilkan rata-rata 4 ton minyak sawit. Sedangkan biji bunga matahari hanya menghasilkan 0.6 ton.

Ini, alnjut Darmin, menunjukkan bahwa produksi minyak sawit sangat efisien dalam hal penggunaan lahan dan mengkonsumsi energi paling sedikit dibandingkan dengan banyak tanaman minyak lainnya.

"Kelapa sawit itu menghasilkan minyak berkali-kali lipat. Artinya apa, bahwa dunia itu boleh saja yang mencoba mengkambing hitamkan kelapa sawit dan sebenarnya itu tidak benar. Kita sesungguhnya, menggunakan lahan yang sudah ditebang sejak 50 tahun yang lalu. Kalau tidak ditanami kelapa sawit hancur tanahnya dan tidak bisa ditanami apa-apa," katanya menandaskan.

Darmin juga menjelaskan dengan adanya tanaman yang produktif seperti kelapa sawit bisa lebih menjamin pemenuhan kebutuhan dunia terhadap minyak nabati dan lain-lainnya.

"Sehingga tidak bisa secara logika ditinggal, karena dia (kelapa sawit) yang paling produktif. Anda perlu 4 atau sampai 10 hektar lahan untuk menghasilkan minyak yang lain itu, dibandingkan yang dihasilkan kelapa sawit. Makanya, saya berpesan mari kita bicara komodoti yang efisien dan produktif ini, karena itu berjalan dengan persoalan dunia," tandasnya

Itu pula sebabnya, pemerintah terus mendukung peningkatan produktivitas petani sawit dengan memanfaatkan luas lahan yang sudah ada. Dalam rangka meningkatkan produktivitas perkebunan petani kecil, misalnya pada 2017, Presiden Joko Widodo telah meluncurkan Program Penanaman Perkebunan Rakyat (PPR) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Menanggapi dampak masalah lingkungan, Darmin menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan dan menegakkan pedoman praktik minyak sawit berkelanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Saat ini, ungkap dia, sedang dilakukan tahap akhir proses penguatan ISPO, yang melibatkan multi stakeholders, mulai dari lintas kementerian dan lembaga (K/L), pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, petani, asosiasi, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

"ISPO adalah standar pengujian kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia dan ketentuan sertifikasi yang mengacu pada organisasi standardisasi internasional," katanya.

ISPO diharapkan dapat memiliki hierarki hukum yang lebih tinggi agar dapat diterapkan lintas sektoral, memiliki pendekatan lansekap dan pertanian berkelanjutan; menggunakan teknologi informasi; serta dapat dipakai untuk meningkatkan diplomasi internasional

Melalui ICOPE, Darmin berharap dapat menghasilkan solusi untuk meningkatkan produksi minyak sawit berkelanjutan menggunakan sains dan teknologi."Bersama dengan mitra ICOPE, forum diskusi ilmiah dapat dibentuk untuk menciptakan inovasi dan kebijakan teknologi yang dapat mengatasi dugaan bahwa sektor kelapa sawit merupakan faktor yang berkontribusi terhadap emisi karbon, aktivitas deforestasi dan kebakaran lahan," jelas Darmin.

Selengkapnya baca di Majalah Hortus Archipelago, dapat diperoleh di toko buku Gramedia dan Gunung Agung terdekat.

 

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id