Menu
SAJIAN ISI

Sumut Akan Genjot Hilirisasi Perkebunan

Kebun kopi di Sumatera Utara Kebun kopi di Sumatera Utara

Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara kini akan lebih fokus pada upaya mendoronng pengembangan industri hilir perkebunan. Ekspansi lahan perkebunan telah dibatasi karena luas perkebunan di provinsi ini yang mencapai sekitar 2 juta hektar dianggap telah memadai.  

Sebagai kawasan sentra produksi perkebunan di tanah air, Sumatera Utara kini sudah tidak lagi fokus pada perluasan lahan lagi. Bahkan, sejak tahun lalu, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara mengambil kebijakan untuk tidak lagi memperluas perkebunan di wilayahnya karena sudah dianggap cukup luas.  

Dengan kata lain, kini, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara telah menutup peluang masuknya investasi perluasan lahan perkebunan dan lebih memprioritaskan pengembangan industri hilir. "Kalaupun ada yang melakukan perluasan lahan, itu bukan program Dinas Perkebunan," tegas Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Aspan Sofian Batubara, belum lama ini, di Medan.  

Menurut dia, Sumut telah memiliki lahan perkebunan yang cukup luas, yakni 2.000.894 hektar (ha) sehingga dinilai tidak perlu meilakukan perluasan lahan lagi. Area lahan perkebunan tersebut bukan hanya milik sejumlah PTPN, melainkan juga perkebunan masyarakat, perusahaan swasta nasional, dan perusahaan swasta asing. Dengan jumlah lahan perkebunan yang cukup luas tersebut, Asapn berpendapat, pihaknya tidak mungkin mengambil kebijakan perluasan lahan, melainkan pengembangan kualitas dan produktivitas.

"Jumlah lahan perkebunan kita mencapai dua juta hektar lebih sehingga tidak perlu diperluas lagi. Perkebunan yang ada hanya diremajakan," katanya. Hanya memang dari lahan 2 juta hektar tadi, sekitar 55% berupa perkebunan rakyat dengan persoalan utama produksi dan produtikvitas yang rendah.

"Luas areal perkebunan di Sumut mencapai 2.000.894 hektar dengan komoditi unggulan karet, kelapa sawit, kopi, kakao dan kelapa. Areal seluas itu masih perlu digenjot produksinya karena sebagian besar dari luas perkebunan tersebut adalah perkebunan milik rakyat yang mencapai 55%, sisanya perkebunan negara dan swasta," papar Aspan baru-baru ini.

Lebih jauh dikemukakan, untuk memberikan manfaat yang lebih besar, terutama bagi perekonomian masyarakat, pihaknya hanya membuka investasi di bidang industri hilir berupa pengolahan hasil perkebunan. Di Sumut, setidaknya saat ini  ada lima hasil perkebunan yang dapat dijadikan objek industri hilir, yakni sawit, karet, kelapa, kopi, dan kakao.

Industri hilir perkebunan dimaksud di antaranya adalah pengolahan sawit menjadi mentega dan alat kosmetik, kelapa menjadi makanan kemasan, pengolahan kopi kemasan, dan berbagai jenis makanan dari kakao. Selain dapat meningkatkan produktivitas, pengembangan industri hilir juga akan memotivasi  pengelola perkebunan untuk meningkatkan kualitas hasil perkebunannya. "Dengan begitu, harga jual hasil perkebunan kita bisa lebih bersaing," tandasnya.

Tinggalkan Pesan Anda

Kolom yang bertanda bintang wajib diisi.

KEMBALI KE ATAS
Info for bonus Review William Hill here.

iklan anda

Kanal Terkait

Departemen

Telusuri Kami

logo bawah

Alamat Redaksi & Usaha:
Gedung Graha BUN.
Jln Ciputat Raya No.7
Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Telp.(021) 75916652 - 53
E-mail: majalah_hortus@yahoo.co.id